FUNGI (MIKOLOGI)
AGAR BLOG INI DAPAT TERUS MEMBANTU ANDA MENDAPATKAN INFORMASI-INFORMASI LAINNYA. MOHON BANTU KAMI DENGAN MENGKLIK IKLAN YANG TERSEDIA. TERIMAKASIH ATAS BANTUANNYA

2.1 Deskripsi
Fungi
Mikologi adalah ilmu
mengenai jamur berasal dari bahasa Yunani yakni mykes yaitu jamur, logos yaitu
ilmu. Fungi dalam bahasa latin juga berarti jamur. Fungi sudah lama sekali
dikenal manusia karena dalam kehidupan sehari-hari ia ada hubungan dengan
jamur. Jamur atau fungi adalah sel eukariotik
tidak memiliki klorofil, tumbuh sebagai hifa, memiliki dinding sel yang
mengandung kitin, bersifat heterotrof,
menyerap nutrien melalui dinding selnya, dan mengekskresikan enzim-enzim
ekstraselular ke lingkungan melalui spora, melakukan reproduksi seksual dan
aseksual. Fungi makroskopik yang memiliki tubuh buah besar, dikenal sebagai
makrofungi. Penemuan mikroskop telah mengungkap lebih banyak dari bagian-bagian yang semula tidak terlihat sama
sekali, akan tetapi merupakan bagian
penting dari makrofungi tersebut.
Bagian yang cukup
penting dari sel jamur benang adalah hifa. Kumpulan hifa membentuk struktur
yang bernama miselium dan bisa dilihat mata telanjang. Hifa memiliki fungsi
untuk menyerap nutrien dari lingkungan serta membentuk struktur untuk
reproduksi. Hifa adalah suatu struktur fungus berbentuk tabung menyerupai
seuntai benang panjang yang terbentuk dari pertumbuhan spora atau konidium
(Gandjar dkk., 2006). Bagian yang mencolok
dari jamur benang adalah miselium yang terbentuk dari kumpulan hifa yang
bercabang-cabang membentuk suatu jala. Hifa berisi protoplasma yang dikelilingi oleh suatu dinding yang
kuat. Pertumbuhan hifa berlangsung
terus-menerus di bagian
apikal, sehingga panjangnya
tidak dapat
ditentukan secara pasti.
Bagian
yang mencolok dari jamur benang adalah miselium yang terbentuk dari kumpulan hifa yang bercabang-cabang
membentuk suatu jala. Hifa berisi protoplasma
yang dikelilingi oleh suatu dinding yang kuat. Pertumbuhan hifa
berlangsung terus-menerus di
bagian apikal, sehingga
panjangnya tidak dapat ditentukan secara pasti. Diameter hifa
umumnya tetap, yaitu berkisar 3-30 µm.
2.2
Pengertian Metabolisme
Metabolisme
atau pertukaran zat pada makhluk hidup, mencakup semua reaksi kimiawi yang
terjadi di dalam sel yang menghasilkan energi dan menggunakan energi untuk
sintesis komponen-komponen sel dan untuk kegiatan-kegiatan seluler yang
menghasilkan zat sisa (Tarigan.1988).
Dalam
tubuh mikroorganisme reaksi-reaksi kimia dipercepat oleh enzim yaitu
katalisator organik (biokatalisator) yang dihasilkan oleh sel. Setelah reaksi
berlangsung enzim tidak mengalami perubahan jumlah sehingga jumlah enzim
sebelum dan setelah reaksi adalah tetap. Enzim mempunyai spesifitas yang tinggi
terhadap reaktan yang direaksikan dan jenis reaksi yang dikatalisis. Enzim
melakukan berbagai aktifitas fisiologik seperti penyusunan bahan organik,
pencernaan, dan pembongkaran zat yang memerlukan aktivator berupa
biokatalisator (Dwidjoseputro, 1978).
Reaksi metabolisme
dibagi menjadi anabolisme dan katabolisme.
1.
Anabolisme
Proses pembentakan molekul yang kompleks dengan
menggunakan energi tinggi. Proses ini
sering disebut peristiwa perubahan senyawa sederhana menjadi senyawa kompleks.
2.
Katabolisme
Katabolisme adalah reaksi pemecahan/pembongkaran senyawa
kimia kompleks yang mengandung energi tinggi
menjadi senyawa sederhana yang mengandung energi lebih rendah.
Fungsi
metabolisme Metabolisme memikili empat fungsi spesifik yaitu :
a. Untuk memperoleh energi kimia dari degradasi
zat makanan yang kaya energi.
b. Untuk mengubah moleku nutrient menjadi
precursor unit pembangun bagi makromolekul sel.
c. Untuk menggabungkan unit‐unit pembangun ini
menjadi protein, asam nukleat, lipida, polisakarida dan komponen sel
lainya.
d.
Untuk membentuk dan mendegradasi
biomolekul yang diperlukan di dalam fungsi khusus sel (Palczar, 2008).
2.3 Proses Metabolisme
Karbon Pada Fungi
Berdasarkan kemampuan untuk memperoleh energi dari
sumber karbon organisme dibedakan atas:
A. Autotrof
Organisme yang memiliki kemampuan mengasimilasi
karbon anorganik (missal CO2, CO3), atau senyawa dengan
satu karbon (misalnya CH4) karbon organik.
• Dengan bantuan cahaya matahari :
Fotoautotrof
• Dengan bantuan oksidasi senyawa anorganik :
Kemoautotrof
B. Heterotrof
:
Organisme yang memiliki kemampuan mengasimilasi
karbon organik karbon organik lain.
• Dengan bantuan cahaya matahari :
Fotoheterotrof
• Dengan bantuan oksidasi senyawa organik :
Kemoheterotrof.
Fungi merupakan mikroorganisme heterotrof karena
tidak memiliki kemampuan untuk mengoksidasi senyawa karbon anorganik, atau
senyawa karbon yang memiliki satu karbon.
Fungi dapat menghidrolisis senyawa-senyawa toksik
yang sulit diuraikan menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana dapat
dimanfaatkan oleh mikroorganisme itu sendiri atau lainnya. Contoh : Fenol dan derivatnya dapat
dimanfaatkan sebagai sumber karbon dan energi oleh :
· Aspergillus Candida
· Cladosporium Fusarium
· Monicillium Trichoderma
· Penicillium Pleurotus
· Phanerochaete
2.3.1 Metabolisme Karbohidrat
Karbohidrat dan derivatnya merupakan substrat utama
dalam proses metabolisme karbon pada fungi. Peran penting dari metabolisme
karbohidrat adalah (i) Menghasilkan ATP
(ii) Menyediakan
hampir semua karbon untuk kebutuhan sel fungi yang mengandung karbohidrat,
lipid, protein, dan asam nukleat.
Metabolisme karbohidrat pada fungi secara umum
menggunakan glikolisis, DOAP, siklus Krebs, dan transfer electron.
Fermentasi
Fermentasi adalah memanen energi kimia tanpa
menggunakan oksigen maupun rantai transport elektron dan merupakan pengembangan
glikolisis yang memungkinkan pembentukan ATP terus-menerus melalui fosforilasi
tingkat substrat pada glikolisis. Fermentasi terdiri atas glikolisis ditambah
dengan reaksi-reaksi
yang meregenerasi NAD+ dengan mentransfer elektron dari NADH ke
piruvat. NAD+ kemudian dapat digunakan kembali untuk mengoksidasi
gula melalui glikolisis (Campbell, 2008).
Khamir
merupakan salah satu mikroorganisme yang dapat memfermentasikan gula. Kemampuan
ini ditunjukkan dengan adanya sistem transpor untuk gula dan sistem enzim yang
dapat menghidrolisis gula dengan akseptor elektron alternatif selain oksigen
pada keadaan anaerob fakultatif. Gula tersebut diasimiliasi melalui jalur
glikolisis (Embden-Meyerhof-Parnas) untuk menghasilkan asam piruvat. Asam
piruvat dalam kondisi anerob akan mengalami penguraian oleh piruvat
dekarboksilase menjadi etanol dan karbondioksida. Sel khamir selama proses
fermentasi menjalani tahap adaptasi pada lingkungan baru (fase lag), tahap
pembelahan sel yang sangat aktif (fase log), dan tahap menurunnya aktivitas sel
(fase stasioner). Pada proses fermentasi, substrat akan dikonversi menjadi
karbondioksida dan etanol, dan berlangsung asimilasi asam amino, lipid, asam
nukleat, serta senyawa untuk aroma/rasa (Gandjar, 2006).
Berdasarkan hasil fermentasinya. Fermentasi terbagi
menjadi dua yakni fermentasi alkohol dan fermentasi asam laktat.
1. Fermentasi alkohol
Fermentasi
alkohol adalah fermentasi pengubahan piruvat menjadi etanol (etil alkohol)
dalam dua langkah. Langkah pertama adalah melepasakan karbondioksida dari
piruvat, yang diubah menjadi senyawa asetildehida. Langkah kedua adalah,
asetildehida direduksi menjadi etanol oleh NADH (Campbell, 2008). Khamir dari
genus Issatchekia, Kluyveromyces,
Saccharomyces, dan Zygsaccharomyces merupakan
contoh khamir yang dapat melakukan fermentasi alkohol dengan memfermentasi
glukosa. S. cerevisia, kapang Neurospora
crassa, khamir genus Candila, dan
Debaryomyces juga dapat melakukan
fermentasi alkohol dengan cara memfermentasi sukrosa dengan bantuan kerja enzim
invertase (sakarase) yang berguna untuk menghidrolisis sukrosa menjadi glukosa
dan fruktosa (Gandjar, 2006).
2. Fermentasi asam laktat
Fermentasi
asam laktat adalah fermentasi pengubahan piruvat menjadi laktat secara langsung
direduksi oleh NADH tanpa pelepasan oksigen (Campbell, 2008). Fermentasi asam
laktat ini terbagi atas dua jenis, yakni homofermentatif dan heterofermentatif.
Jenis-jenis homofermentatif hanya menghasilkan asam laktat dari metabolisme
gula, sedangkan jenis-jenis heterofermentatif menghasilkan karbondioksida dan
sedikit asam-asam volatil lainnya, alkohol, dan ester disamping asam lakta
(Suprihatin, 2010). Contoh heterofermentatif adalah proses fermentasi yang
terjadi dalam pembuatan tempe yakni jamur Rhizopus
oryzae. Rhizopus oryzae dapat
menghasilkan 1,5 mol asam laktat dari 1 mol glukosa dalam kondisi aerobik dan
sisanya diubah menjadi miselia, glycerol, fumarate atau etanol (Skory dalam
Manfaati, 2010) selain itu juga menghasilkan asam tartrat, asam format, dan
asam asetat.
Biosintesis Kitin
Kitin adalah polimer linier yang tersusun oleh
monomer β-1,4-N-asetil-Dglukosamin (GlcNac) dan termasuk golongan polisakarida
(Cabib, 1987). Khitin pada jamur memiliki bentuk fibril dengan ukuran dan
kandungan yang berbeda tergantung pada strain atau spesiesnya. Kandungan kitin
berkisar antara 4 – 9 % berat kering sel (Rajarathnam et al., 1998). Khitin
merupakan komponen utama Jalur metabolisme homofermentative lactic acid dan
heterofermentative lactic acid.
Penyusun
dinding sel jamur kelas Ascomycetes, Basidiomycetes, dan Deuteromycetes
(Griffin, 1981). Petumbuhan hifa pada
jamur merupakan penyebab biosintesis yang terjadi pada jamur. Langkah
biosintesis diawali dengan perubahan glukosa-6-fosfat menjadi uridin difosfat
N-asetilglukosamin (UDP-GlcNAc) sebagai prekursor khitin. Enzim yang berperan
dalam mengubah UDP-GlcNAc menjadi molekul khitin adalah khitin sintetase yang
terdapat dalam vesikel sitoplasmik (sitosom) (Carlile dan Watkinson,
1994). Khitin dibuat in-situ yaitu
pebentukannya terjadi di luar sitoplasma oleh enzim yang dibawa oleh sitosom.
Khitin sintetase yang ada dalam sitosom adalah enzim yang tidak aktif (zimogen)
dan protease yang ada di permukaan sel (periplasma) akan mengaktivkan zimogen
ini dan dimulai lagi pembentukan mikrofibril khitin (Bartnicki-Garcia, 1989).
Jalur Utama Metabolisme Pemecahan Glukosa bisa dilakukan lewat dua jalur, yaitu:
1. Embden-Meyerhof
(EM) dan Siklus Tca
Digunakan
sebagai jalur utama penghasil energi. Ada dua jalur utama metabolisme
pemecahan glukosa


Digunakan
sebagai sumber energi utama. Terdiri dari beberapa tahap, masing -masing
dikatalis oleh enzim tertentu. Jalur tersebut ditandai dengan pembentukan
fruktosa disfosfat, dilanjutkan dengan pemecahan fruktosa difosfat menjadi dua
molekul gliseraldehida fosfat. Reaksi ini dikatalis oleh enzim aldolase.
Kemudian terjadi reaksi dehidrogenasi gliseraldehida fosfat
(fosfogliseraldehida) yang merupakan reaksi oksidasi yang menghasilkan energi
dalam bentuk ATP. Reaksi ini dikatalis oleh enzimgli seraldehida fosfat
dehidrogenase, hidrogen yang terlepas akan ditangkap oleh
nikotinamida-adenin-dinukleotida (NAD), membentuk NADH2. Proses
fermentasi dapat berlangsung terus jika NADH2 dapat dioksidasi
kembali pada tahap kedua fermentasi sehingga melepaskan atom hidrogen kembali.
Jadi NAD berfungsi sebagai pembawa hidrogen dalam proses fermentasi.
Energi yang
dilepaskan selama oksidasi gliseraldehida fosfat cukup untuk membentuk dua
molekul ATP. Karena satu molekul glukosa menghasilkan dua molekul
gliseraldehida fosfat, maka seluruhnya dibentuk empat molekul ATP, tetapi
karena dua molekul ATP dibutuhkan untuk mengubah glukosa menjadi fruktosa
difosfat, hanya tinggal dua molekul ATP yang dapat digunakan untuk pertumbuhan
setiap molekul glukosa yang dipecah.
2. Jalur pentosa- phosphat ( PP )

Digunakan
sebagai menghasilkan senyawa untuk sintesis asam nukleat.
Langkah-langkah
dalam Jalur Pentosa Fosfat
Ada tiga langkah utama dalam jalur pentosa fosfat, pertama
adalah fase oksidasi, dilanjutkan dengan fase isomerasi dan terakhir adalah
fase penataan ulang molekul.
1. Fase Oksidasi pada Jalur Pentosa
Fosfat
· Molekul pertama yang masuk dalam
jalur pentose fosfat adalah intermediet glikolisis, 3 buah molekul Glu-6-P.
Molekul tersebut dioksidasi oleh Glu-6-P dehydrogenase dengan memanfaatkan 3
NADP+ menghasilkan 3 molekul NADPH dan 3 molekul 6-fosfoglukonat
· 6-fosfoglukonat selanjutnya
didekarboksilasi secara oksidatif oleh NADP+ dengan bantuan 6-fosfoglukonat
dehydrogenase menghasilkan NADPH, CO2 dan ribulosa-5-fosfat
2. Fase Isomerasi
Pada fase ini, ribulosa-6-fosfat diubah menjadi isomernya
yakni xylosa-5-fosfat atau ribosa-5-fosfat.
2. Phentosa Phosphat (PP)
Digunakan sebagai menghasilkan senyawa untuk
sintesis asam nukleat
2.3.2 Metabolisme Protein
Proses metabolisme protein pada fungi sama dengan
organisme eukariotik lainnya, yaitu pada sintesis protein menggunakan proses
transkripsi dan translasi. Protein pada fungi berisi 20 jenis asam amino yang terhubung dengan
ikatan peptida. Sebagian besar bersifat asam karena proporsi asam amino
bersifat asam lebih banyak daripada asam amino bersifat basa. Protein digunakan
sebagai enzim, komponen struktural, dan metabolit sekunder. Enzim berfungsi
sebagai katalis dalam setiap langkah metabolisme (Griffin, 1981).
Pemecahan molekul protein dilakukan oleh enzim
protease. Tujuan katabolisme protein adalah untuk mendapatkan nitrogen dan
karbohidrat yang digunakan untuk proses metabolisme yang lain. Fungi
mensekresikan enzim protease ke lingkungan. Selanjutnya protein akan diubah
menjadi asam amino dan diangkut oleh permease asam amino spesifik maupun
permease asam amino nonspesifik (Griffin, 1981).
2.3.3.
Metabolisme Lipid
Fungi dapat menggunakan lipid (triasilgliserol/
trigliserida) dalam bentuk lemak dan minyak sebagai sumber karbon. Hidrolisis
lipid memerlukan kerja enzim lipase dan mengubahnya menjadi diasilgliserol,
monoasilgliserol, gliserol atau asam lemak. Lipase diketahui dapat dibedakan
atas dua kelompok berdasarkan lokasi pemutusan ikatan gliserol pada triasilgliserol
yaitu lipase non spesifik
dan lipase spesifik. Lipase non-spesifik memutus ikatan gliserol dari
triasilgliserol pada tiga posisi sehingga menghasilkan diasilgliserol,
monoasilgliserol, atau tiga molekul asam lemak dan gliserol. Lipase spesifik
memutus ikatan gliserol dari triasilgliserol pada posisi satu dan tiga sehingga
menghasilkan 1,2-diasilgliserol dan 2-monoasilgliserol (Ratledge & Tan., 1986).
Fungi diketahui dapat menggunakan berbagai lipid
dengan memanfaatkan kerja lipase antara lain C. cylindracea, C. deformans, C. curvata, C.rugosa, P. caseicolum, P.
chrysogenum, P. citrinum, P. cyclopium, P. simplicissimum, P .roquefortii,
Mucor miehei, Rhizopus delemar, Rh.japonicus, Rh. oligosporus.
2.4 Proses Metabolisme
Nitrogen Pada Fungi
Menurut Slaughter (1988) : “Semua mikroorganisme
yang telah diteliti tampaknya dapat menggunakan ammonia sebagai sumber nitrogen
anorganik. Asimilasi nitrat pada khamir dan kapang menggunakan proses yang sama
: nitrat ditranspor ke dalam sel diubah menjadi amonium oleh enzim nitrat
reduktase dan nitrit reduktase. Nitrat
reduktase : protein yang memerlukan kofaktor molibdopterin, haem-Fe dan FAD.
Contoh
fungi yang dapat menggunakan nitrat sebagai sumber nitrogen:
·
Aspergillus
nidulans
·
Candida
utilis
·
Hansenula
anomala
·
Hansenula
polymorpha
Nitrit bersifat toksik bagi sebagian besar fungi,
tetapi beberapa fungi dapat menggunakannya sebagai sumber nitrogen selama
konsentrasi yang digunakan cukup rendah. Enzim nitrit reduktase mereduksi
nitrit menjadi amonium dan memiliki ferredoksin, 2 kelompok protetik dan FAD. Contoh fungi yang dapat menggunakan
nitrit sebagai sumber nitrogen:
Aspergillus nidulans dan Hansenula
polymorpha
Sedangkan contoh fungi yang tidak dapat menggunakan
nitrat dan nitrit sebagai sumber nitrogennya yaitu Saccharomyces
dan Zygosaccharomyces. Semua strain S. cerevisiae dapat
memanfaatkan amonia dan urea sebagai satu-satunya sumber nitrogen, tetapi tidak
dapat memanfaatkan nitrat, karena mereka tidak toleran terhadap ion
ammonium. Mereka juga dapat memanfaatkan
sebagian besar asam amino, peptida rantai pendek, dan basa nitrogen sebagai
sumber nitrogen. Histidin, glisin, sistin, dan lisin merupakan asam amino yang
tidak mereka butuhkan. S. cerevisiae
tidak mengeluarkan protease sehingga protein ekstraseluler tidak dapat dimetabolisme.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Jamur atau fungi
adalah sel eukariotik tidak memiliki klorofil, tumbuh sebagai hifa, memiliki
dinding sel yang mengandung kitin,
bersifat heterotrof, menyerap nutrien melalui dinding selnya, dan mengekskresikan
enzim-enzim ekstraselular ke lingkungan melalui spora. Metabolisme
atau pertukaran zat pada makhluk hidup, mencakup semua reaksi kimiawi yang
terjadi di dalam sel yang menghasilkan energi. Metabolisme
karbon pada fungi terdiri dari
metabolime karbohidrat, protein, dan lipid. Sedangkan metabolisme nitrogen menggunakan
ammonia sebagai sumber nitrogen anorganik.
3.2 Saran
Penyusun menyadari banyaknya kekurangan dalam makalah ini,
oleh karena itu sebaiknya adanya saran dari pembaca guna melengkapi dan
memperbaiki makalah ini serta menambah wawasan penulis.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad cece. 2012. Metabolisme
Karbon Dalam Simbiosis Fungi Mikoriza Arbuskula. Jurnal
Agribisnis dan Pengembangan wilayah. 4(1):
Ahmad Mujiyarto.
2010. Metabolisme
Mikrobiologi (Bakteri
Dan Fungi).
Online : https://ahmadmujiyarto.wordpress.com/2010/08/23/metabolisme-mikrobiologibakteri-dan-fungi/. Diakses tanggal 09 Februari 2019
Cecep Hidayat. 2012.
Metabolisme Karbon Dalam Simbiosis Fungi
Mikoriz Arbuskula. Jurnal
Agribisnis dan Pengembangan Wilayah. 4(1): 24-35
Dwidjoseputro,
D. 2005. Pengantar Mikologi Edisi Kedua.Bandung: Alumni.
Komar. 2012. Metabolisme Glukosa Pada Fungi. Online : http://komarbiologi.blogspot.com/2012/11/metabolisme-glukosa-pada-fungi.html. Diakses tanggal 09 Februari 2019
Pelczar, Michael J & E. C. S. Chan. 2008.
Dasar-dasar Mikrobiologi I. Jakarta: UI Press.