KONTRAKSI OTOT


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Gerak merupakan salah satu bentuk reaksi terhadap rangsangan. Gerak pada tumbuhan dan hewan berbeda karena tumbuhan tidak mempunyai alat khusus untuk bergerak, sedangkan hewan umumnya mempunyai alat. Mikroorganisme bergerak dengan cara tertentu.Dalam kehidupan, ada beberapa bagian yang dapat membantu antara organ satu dengan organ lainnya, contohnya saja otot. Otot dapat melekat di tulang yang berfungsi untuk bergerak aktif.
       Otot adalah sebuah jaringan dalam tubuh dengan kontraksi sebagai tugas utama. Otot diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu otot lurik, otot polos dan otot jantung. Otot menyebabkan pergerakan suatu organisme maupun pergerakan dari organ dalam organisme tersebut. Sistem otot adalah sistem tubuh yang memiliki fungsi seperti untuk alat gerak, menyimpan glikogen dan menentukan postur tubuh. Terdiri atas otot polos, otot jantung dan otot rangka. Otot merupakan alat gerak aktif yang mampu menggerakkan tulang, kulit dan rambut setelah mendapat rangsangan.
       Otot sendiri merupakan alat gerak aktif karena berfungsi untuk berkontraksi. Otot akan memendek jika sedang berkontraksi dan memanjang jika berelaksasi. Hal ini dikarenakan otot sendiri tersusun atas dua filamen yaitu filamen aktin yang tipis dan filamen miosin yang tebal yang keduanya menyusun miofibril dilanjutkan menyusun serabut otot dan selanjutnya menyusun satu otot. Sesuai  dengan penjelasan diatas bahwa  fungsi otot salah satu diantaranya adalah mengkerut atau memendek sehingga akibat pemendekan ini maka bentuk sendi akan berubah dengan kata lain bergerak. Otot akan mengalami kontraksi terus menerus kalau frekuensi rangsangan cukup tinggi. Akan tetapi perlu diketahui bahwa meskipun terjadi kontraksi belum tentu panjang seluruh otot atau sebagian mengalami perubahan.
       Berdasarkan uraiandiatas maka penulis akan membahas makalah mengenai Kontraksi Pada Otot.

B. Rumusan Masalah
       Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, dapat dirumuskan masalah-masalah yang akan dibahas pada penulisan kali ini. Masalah yang dimaksud adalah :
1. Apa saja jenis-jenis otot ?
2. Bagaimanakah mekanisme berlangsungnya kontraksi otot ?

C. Tujuan Penulisan
       Adapun tujuan penulisan berdasarkan rumusan masalah yang telah dijabarkan adalah :
1. Mengetahui jenis-jenis otot ?
2. Mengetahui mekanisme berlangsungnya kontraksi otot
















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Otot
Otot merupakan suatu organ yang dapat bergerak ini adalah suatu penting bagi organisme. Gerak sel terjadi karena sitoplasma merubah bentuk. Pada sel-sel sitoplasma ini merupakan benang-benang halus yang panjang disebut miofibril. Kalau sel otot yang mendapatkan rangasangan maka miofibril akan memendek, dengan kata lain sel otot akan memendekkan dirinya kearah tertentu.
Otot merupakan jaringan pada tubuh hewan yang bercirikan mampu berkontraksi, aktivitas biasanya dipengaruhi oleh stimulus dari sistem saraf. Unit dasar dari seluruh jenis otot adalah miofibril yaitu struktur filamen yang berukuran sangat kecil yang tersusun dari protein kompleks ,yaitu filamen aktin dan miosin. Pada saat berkontraksi, filamen-filamen tersebut saling bertautan yang mendapatkan energi dari mitokondria disekitar miofibril.

B.     Jenis jenis otot
Dalam garis besarnya sel otot dapat dibagi menjadi 3 (tiga) golongan yaitu :
1.      Otot Polos
Otot polos terdiri dari sel-sel otot polos. Sel otot ini bentuknya seperti gelendongan, dibagian tengan terbesar dan kedua ujungnya meruncing. Otot polos memilki serat yang arahnya searah panjang sel tersebut miofibril. Serat miofilamen dan masing-masing mifilamen teridri dari protein otot yaitu aktin dan miosin. Otot polos bergerak secara teratur, dan tidak cepat lelahg. Walaupun tidur. Otot masih mampu bekerja. Otot polos terdapat pada alat-alat dinding tubuh dalam, misalnya pada dinding usus, dinding pembuluh darah, pembuluh limfe, dinding saluran pencernaan, takea, cabang tenggorok, pada muskulus siliaris mata, otot polos dalam kulit, saluran kelamin dan saluran ekskresi (Ville,1984).

Cara kerja otot polos
Bila otot polos berkontraksi, maka bagian tengahnya membesar dan otot menjadi pendek. Kerutan itu terjadi lambat, bila otot itu mendapat suatu rangsang, maka reaksi terhadap berasal dari susunan saraf tak sadar (otot involunter), oleh karena itu otot polos tidak berada di bawah kehendak. Jadi bekerja di luar kesadaran kita.

2.      Otot lurik
Sel-sel otot lurik berbentuk silindris atau seperti tabung dan berinti banyak, letaknya di pinggir, panjangnya 2,5 cm dan diameternya 50 mikron. Sel otot lurik ujungnya sel nya tidak menunjukkan batas yang jelas dan miofibril tidak homogen akibatnya tampak serat-serat lintang. Otot lurik di bedakan menjadi 3 macam, yaitu : otot rangka, otot lurik, dan otot lingkar. Otot-otot rangka mempunyai hubungan dengan tulang dan berfungsi menggerakkan tulang.
Cara kerja otot lurik
Bila otot lurik berkontraksi, maka menjadi pendek dan setiap serabut turut dengan berkontraksi. Otot-otot jeis ini hanya berkontraksi jika di rangsangan oleh rangsangan daraf sadar (otot valunter). Kerja otot lurik adalah bersifat sadar, karena itu disebut otot sadar, artinya bekerja menurut kemauan, karena itu di sebut otot sadar, artinya bekerja menurut kemauan atau perintah otak. Reaksi kerja otot lurik terhadap perangsang cepat tapi tidak tahan kelelahan.
3.      Otot jantung
Otot jantung merupakan otot “istimewa”. Otot ini bentuknya seperti otot lurik perbedaanya ialah bahwa serabutnya bercabang dan bersambung satu sama lain. Berciri merah khas dan tidak dapat dikendalikan kemauan. Kontraksi tidak di pengaruhi saraf, fungsi saraf hanya untuk percepat atau memperlambat kontraksi karena itu disebut otot tak sadar. Otot jantung di temukan hanya pada jangtung (kor), mempunyai kemampuan khusus untuk mengadakan kontraksi otomatis dan gerakan tanpa tergantung pada ada tidaknya rangsangan saraf. Cara kerja otot jantung ini disebut miogenik yang membedakannya dengan neurogonik (Ville,1984).

C.    Tipe Kontraksi Otot
            Pada dasarnya kontraksi otot terjadi karena otot itu memendek, memanjang  atau  tetap seperti dalam keadaan tidak berkontraksi. Fox dikutip dalam (Chan,2012) mengemukakan bahwa tipe kontraksi otot dapat dibagi sebagai berikut: 
1.      Isotonik  yaitu  otot  memendek  pada  saat  terjadi  tegangan  meningkat
2.      sometrik  (statik) yaitu  otot  menegang tetapi   tidak   memanjang  dan  tidak  berubah
3.      Eksentrik,  yaitu otot memanjang pada saat tegangan meningkat
4.      Isokinetik, yaitu otot memendek pada saat terjadi tegangan melalui ruang gerak dalam kecepatan konstan.
Kontraksi otot secara garis besar terjadi melalui dua mekanisme yaitu aerob dan anaerob. Mekanisme anaerob pada kontraksi otot berlangsung pada dua menit pertama   sedangkan  mekanisme aerob berlangsung setelah mekanisme anerob.
A.    Reaksi Aerob
1.      Saat aktivitas berlangsung, asam piruvat yang terbentuk melalui glikolisis anaerob mengalir ke mitokondria sarkoplasma untuk masuk dalam siklus asam sitrat (trikarboksilat) untuk oksidasi. 
2.      Jika ada oksigen, glukosa terurai dengan sempurna menjadi karbon dioksida, air dan energi (ATP).
3.      Reaksi aerob berlangsung lambat tetapi efisien, menghasilkan energi sampai 36 mol ATP per mol glukosa
B. Reaksi Anaerob
1.      Otot   dapat   berkontraksi   secara   singkat   tanpa   memakai   oksigen   dengan menggunakan ATP yang dihasilkan melalui glikolisis anaerob, langkah pertama dalam respirasi seluler.
2.      Glikolisis berlangsung dalam sarkoplasama, tidak memerlukan oksigen, dan melibatkan pengubahan satu molekul glukosa menjadi dua molekul asam piruvat.
3.      Glikolisis   anaerob   berlangsung   cepat   tetapi   tidak   efisien   karena   hanya menghasilkan dua molekul ATP per molekul glukosa. Glikolisis anaerob dapat memenuhi   kebutuhan   ATP   untuk   kontraksi   otot   dalam   waktu   singkat   jika persediaan oksigen tidak mencukupi.

D.    Mekanisme Kontraksi Otot
Mekanisme Kontraksi Otot Rangka
Mekanisme kontraksi otot yang dianut sekarang ialah sliding filament mechanism yang dikemukakan oleh Jean Hanson dan Hugh Huxley tahun 1950. Pada kontraksi otot terjadi pergeseran miofilamen tebal dan tipis serta pemendekan sarkomer dan serat otot, tetapi tidak terjadi pemendekan miofilamen.
Pada saat akan dimulainya kontraksi otot rangka, ion Ca2+ dilepaskan ke dalam sarkoplasma melalui saluran pelepas Ca2+ (reeptor rianodin) dan akan secara efisien ditranspor kembali ke dalam RS oleh kerja SERCA pada membran RS saat relaksasi otot. RS akan menyimpan Ca2+ yang terikat pada protein calsequestrin. Oleh karena Ca2+ didaur ulang sedemikian efisien maka pada kontraksi otot rangka (short term) tidak diperlukan Ca2+ ekstrasel. RS otot rangka merupakan tempat penyimpanan ion Ca2+ dalam jumlah besar.
Transpor ion ini melalui membran RS diatur oleh dua molekul: reseptor rianodin dan Ca+2-ATPase. Sinyal pelepasan ion Ca2+ diawali oleh adanya depolarisasi membran sarkolema yang dihantarkan ke TT. Aksi potensial akan meluas ke RS melalui struktur kaki pada daerah triad dan memicu pelepasan ion Ca2+ dari RS melalui saluran pelepas Ca2+ ke sarkoplasma di sekitar miofilamen tebal dan tipis.
Bila ion Ca2+ terikat pada troponin C, terjadi perubahan konfigurasi filamen tipis dan tempat aktif pada aktin terbuka sehingga aktin dapat berikatan dengan miosin melalui jembatan silang (cross bridge). Pada kepala miosin terdapat enzim ATP-ase yang menghidrolisis ATP menjadi ADP dan P. Reaksi ini memindahkan energi dari ATP ke kepala miosin sehingga kepala miosin secara spontan berikatan dengan tempat aktif pada aktin, yang menghasilkan power stroke kontraksi. Filamen tipis meluncur melewati filamen tebal menuju zone H sehingga terjadi pemendekan sarkomer dan serat otot.
Pada relaksasi otot terjadi penguraian asetilkolin sehingga aksi potensial terhenti. Kerja pompa transpor aktif  Ca2+ memasukkan ion Ca2+ ke dalam RS. Saluran pelepas Ca2+ pada RS tertutup. Dengan turunnya konsentrasi Ca2+ sarkoplasma maka ikatan ion ini dengan troponin C terlepas, kompleks tropomiosintroponin kembali ke posisi semula menutupi tempat aktif pada aktin. Jembatan silang tidak terbentuk dan filamen tipis kembali ke tempat semula.
Mekanisme kontraksi otot Jantung
            Kerja otot jantung berbeda dengan otot lurik. Jantung memiliki mekanisme sendiri yang menyebabkan kontraksi otot secara terus menerus. Potensi aksi dihasilkan dan dijalarkan ke seluruh bagian agar jantung  tetap berdenyut. Berdasarkan kerjanya, sel otot jantung dibedakan menjadi dua yaitu:
1.    Sel kontraktil – sel sel yang dalam keadaan normal tidak membentuk sendiri potensial aksinya. Fungsinya untuk melakukan cara kerja jantung, yaitu memompa darah. Sebagian besar sel otot jantung berupa sel kontraktil.
2.    Sel otoritmik – sel ini fungsinya bukan untuk kontraksi namun sebagai penghantar potensi aksi yang menyebabkan kontraksi sel sel otot jantung kontraktil. Sel sel otoritmik jantung hanya dapat ditemukan pada bagian jantung berikut:
a)      Nodus Sinuatrialis (Nodus SA) – daerah kecil di dinding atrium kanan dekat pintu masuk vena kava superior. Fungsi atrium kanan jantung adalah sebagai tempat masuknya darah dari seluruh tubuh ke jantung.
b)     Nodus Atrioventrikular (Nodus AV) – daerah kecil di bagian bawah atrium, dekat dengan pertemuan atrium dan ventrikel.
c)      Berkas His – berkas sel khusus yang berasal dari nodus AV dan masuk ke septum antarventrikel lalu melengkung mengelilingi ujung ventrikel dan atrium sepanjang dinding luar.
d)     Serat purkinje – serat halus dari berkas His dan menyebar ke seluruh miokardium ventrikel.

            Mekanisme kerja otot jantung dimulai dari impuls yang berasal dari nodus SA, sebagai pemicu jantung. Melalui berkas His impuls dari nodus AV menyebar ke atrium kanan dan kiri sehingga bagian atrium berkontraksi. Impuls dari atrium menyebar sampai ke Nodus AV. Disini ada jeda istirahat sebesar 1/10 detik. Jeda ini memungkinkan darah dari atrium menuju ventrikel. Setelah jeda istirahat, Impuls diteruskan dan menyebar ke seluruh miokardium ventrikel. Akibatnya ventrikel berkontraksi dan darah keluar dari jantung melalui aorta.
Mekanisme Kerja Otot Polos
            Mekanisme kerja otot polos hampir sama dengan mekanisme kerja otot lurik. Pada otot polos terjadi juga peristiwa sliding filament yang diakibatkan oleh keberadaan rangsangan asetilkolin. Asetilkolin memicu ion kalsium yang disimpan dalam otot dilepaskan. Pelepasan ion kalsium menyebabkan filamen otot polos mengkerut (berkontraksi).
Tahapan dalam kontraksi otot polos yaitu:
1.    Rangsangan berupa senyawa kimia asetilkolin masuk kedalam membran sel
2.    Asetilkolin merangsang otot untuk melepaskan ion kalsium yang disimpannya
3.    Ion kalsium dilepaskan oleh tubula retikulum sarkoplasma dan berpindah ke ruang ekstraseluler
4.    Ion kalsium berikatan dengan calmodulin, sejenis protein sitoplasma.
5.    Kompleks antara kalsium dan calmodulin mengaktifkan miosin kinase, kemudian mengaktifkan miosin.
6.    Miosin aktif dan menempel dengan aktin, sehingga terjadi kontraksi otot.
            Sama halnya dengan otot lurik, otot polos akan berelaksasi apabila jumlah ion kalsium dalam sel menurun. Perbedaan antara otot polos dan otot lurik, otot polos membutuhkan waktu yang lebih lama untuk melakukan kontraksi dan relaksasi, namun energi yang dibutuhkan sedikit.

E.     Kelelahan Otot
Kelelahan otot membatasi kinerja otot. Kelelahan otot dapat bersifat lokal maupun menyeluruh. Dapat menyertai olahraga endurans maupun olahraga yang berintensitas tinggi yang berlangsung singkat.
Kelelahan Otot Yang Bersifat Lokal
Kelelahan otot lokal (local muscular fatigue) mengikuti latihan fisik berintensitas tinggi dan berlangsung singkat disebabkan oleh akumulasi produksi asam laktat di dalam otot dan darah. Hal ini berhubungan dengan mekanisme resintesa energi (ATP) selama proses kontraksi­-kontraksi otot di dalam serabut otot FT (fast-twitch) yang lebih banyak berperan pada aktivitas fisik atau olahraga yang berintensitas tinggi. Telah ketahui bahwa serabut otot FT lebih cepat  mengalami kelelahan dibandingkan dengan serabut otot ST (slow-twitch) karena serabut otot FT mempunyai kemampuan sistem anaerobik yang tinggi dengan sistem aerobik yang rendah, sehingga cepat  terbentuk asam laktat. Hal ini akan menyebabkan kelelahan otot lebih cepat terjadi.
Kelelahan Yang Menyertai Olahraga Endurans
Kelelahan yang mengikuti olahraga atau  latihan endurans (endurance exercise) tidak disebabkan oleh karena akumulasi produksi asam laktat. Kelelahan ini disebabkan selain oleh karena terjadinya kelelahan pada otot (komponen lokal), juga karena faktor diluar otot (komponen tubuh lainnya). Kelelahan karena faktor komponen lokal, disebabkan terkurasnya cadangan glikogen otot baik pada serabut otot FT maupun ST, sedangkan kelelahan karena komponen tubuh lainnya, mungkin disebabkan oleh: (1) hipoglikemia; (2) penipisan glikogen hati; (3) dehidrasi; (4) kehilangan elektrolit; (5) hipertermia; dan (6) kebosanan (psikologis). Jadi kelelahan yang menyertai olahraga endurans merupakan kelelahan yang bersifat menyeluruh.


F.     Perbandingan Otot Dari Tiap Vertebrata
a. Pisces
Sistem otot (urat daging): penggerak tubuh, sirip-sirip, insang-organ listrik.
Ÿ Belut laut
Sistem otot: Tubuh berupa lingkaran-lingkaran otot yang tersusun sebagai huru W. Corong bukal digerakan oleh otot-otot radial. Lidah digerakan oleh otot retraktor dan protraktor
Ÿ Ikan hiu
Sistem otot: Otot-otot di seluruh tubuh secara teratur bersegemen (materik) disebut miotom.Otot-otot itu bermodifikasi kepala dan di apendiks.
Ÿ Ikan perak
Sistem otot: Otot tubuh dan ekor terutama terdiri dari miomer-miomer (otot-otot bersegmen) yang berselang-seling/berganti-ganti tempat dengan vertebra ketika mengadakan gerakan berenang dan berbalik arah. Miomer-miomer itu secara kasar berbentuk seperti hurup W dan dirakit menjadi 4 sabuk miomer, yang di sepanjang punggung merupakan rakitan yang terberat. Antara miomer-miomer itu terdapat jaringan ikatan yang jika direbus, sabuk-sabuk miomer itu terpisah-pisah menjadi lapisan-lapisan daging.
b. Amphibi
Secara majemuk, sistem otot katak berbeda dari susunan mioton primitif, terutama dalam apendiks. Otot-otot segmental mencolok pada tubuh. Segmen kaki teratas berotot besar.
c. Reptilia
Dibandingkan dengan katak, sistem otot buaya itu lebih rumit, karena gerakannya lebih kompleks. Otot-otot kepala, leher, dan kaki tumbuh baik,walaupun kurang jika dibandingkan pada mammalia. Segmentasi otot jelas pada kolumna vertebralis dan rusuk.
d. Aves
Tulang kuadrat dari tengkorak mempunyai 2 permukaan artikular dorsal. Semua tulang pelvis bersatu. Ada sebuah pigostil. Sternum mempunyai 4 buah tekik (celah) posterior. Otot pektoralis mayor dimulai pada lunas tulang sternum, dan menarik tulang humerus kebawah (berarti menarik sayap ke bawah). Sebaliknya,otot pektoralis minor menarik sayap ke atas.




















BAB III
PENTUP
A.    Kesimpulan
B.     Saran

















DAFTAR PUSTAKA

Irfan Idris. 2016. Fisiologi otot Rangka. (artikel) https://med.unhas.ac.id/kedokteran/wp-content/uploads/2016/10/FISIOLOGI-OTOT-RANGKA.pdf
Sarifin G. 2014. Kontraksi otot dan kelelahan. (artikel) http://digilib.unm.ac.id/files/disk1/7/universitas%20negeri%20makassar-digilib-unm-sarifing-325-1-8.ifink.pdf
Ville etal. 1984. Zoologi Umum. PT Gelora Aksara Pratama. Jakarta.
Ma’roef, muhammad. 2015. Pengaruh  Pemberian  Ekstrak  Buah  Asam  Jawa  (Tamarindus Indica)  Terhadap  Penurunan  Kontraksi  Otot  Polos  Uterus Terpisah  Marmut  Betina  (Cavia  Porcellus). Jurnal Perbandingan Penggunaaan Fikaisi Hair Spray Dengan Fiksasi Rutin. 11(2): 102-113.
Wangko, sunni. 2014. Jaringan Otot Rangka. Jurnal Biomedik.6(3) : 27-32
Chan,F.2012 Strength Training (Latihan Kekuatan). Jurnal Cerdas Syifa
Hanafi, suriah. 2010. Efektifitas Latihan Beban Dan Latihan Pliometrik Dalam Meningkatkan Kekuatan Otot Tungkai  Dan Kecepatan Reaksi. Jurnal Ilara. 1(2): 1-9
Gunawan, Adi.2001. Mekanisme dan Mekanika Pergerakan Otot. Jurnal Integral. 6(2): 58-71
Mangoche. 2016. Mekanisme Kerja Otot–Otot Lurik, Polos, dan Jantung. (online) https://dosenbiologi.com/manusia/mekanisme-kerja-otot. (Diakses tanggal 09 Desember 2018)






Postingan populer dari blog ini

PENGENDALIAN MIKROBA

ZAT ADIKTIF MAKANAN