Meningkatkan Performance Reproduksi Hewan-Hewan Komersial


Untuk mendukung agar blog ini dapat terus memberikan informasi yang anda butuhkan,anda dapat membantu kami dengan mengklik iklan atau mengklik close pada iklan yang ada diblog ini. terimakasih

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
               Setiap makhluk hidup dipermukaan bumi ini pasti mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan selama hidupnya. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua proses yang berjalan sejajar dan berdampingan. Jadi proses pertumbuhan dan perkembangan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. 
               Pertumbuhan dapat diartikan sebagai proses pertambahan ukuran yang tidak dapat kembali ke asal (irreversibel), yang meliputi pertambahan volume dan pertambahan massa. Selain disebabkan pertambahan ukuran sel, pertumbuhan juga terjadi karena pertambahan jumlah sel. Sedangkan perkembangan merupakan suatu proses menuju tercapainya kedewasaan. Pada tingkat seluler, perkembangan dapat berupa diferensiasi sel-sel yang baru membelah membentuk jaringan yang menyusun organ tertentu. Pada tumbuhan perkembangan ditandai dengan munculnya bunga atau buah. Sedangkan pada hewan ditandai dengan kematangan organ reproduksi sehingga siap untuk bereproduksi dan menghasilkan keturunan.  Proses reproduksi pada hewan dapat terjadi secara aseksual maupun seksual. Hewan tingkat rendah bereproduksi secara seksual dan aseksual. Sedangkan hewan tingkat tinggi hanya bereproduksi secara seksual saja.
               Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya pertumbuhan dan perkembangan pada hewan yaitu faktor dalam yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan berasal dari dalam tubuh makhluk hidup sendiri. Yang termasuk kategori ini adalah faktor gen dan keadaan hormonal. Dan faktor luar yang mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup berasal dari faktor lingkungan. Beberapa faktor lingkungan yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup adalah makanan/nutrisi, suhu, cahaya, air dan kelembaman.
               Dewasa ini seiring dengan pertumbuhan penduduk di Indonesia yang berkembang pesat diikuti pula dengan semakin bertambahnya kebutuhan akan sumber pakan hewani. Sumber pakan hewani ini terutama berasal dari jenis hewan peternakan seperti sapi, kerbau, kambing, atau dari jenis hewan unggas seperti ayam dan itik, dan juga dari jenis perikanan. Oleh karena itu perlu adanya suatu usaha yang dapat meningkatkan performans reproduksi dari hewan hewan komersial tersebut agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.
     Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka rumusan permasalahan yang akan kami kemukakan dalam makalah ini berkenaan dengan “Meningkatkan Performance Reproduksi Hewan-Hewan Komersial”

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini berkenaan dengan:
1. Apa saja faktor yang mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan pada hewan ?
2. Bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan performance reproduksi hewan-hewan komersial ?

1.3  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan pada hewan ?
2. Mengetahui bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan performance reproduksi hewan-hewan komersial ?





BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Proses Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Hewan
1. Faktor Dalam (Internal)
     Faktor dalam yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan berasal dari dalam tubuh makhluk hidup sendiri. Yang termasuk kategori ini adalah faktor gen dan keadaan hormonal.
a. Gen
     Gen adalah substansi/materi pembawa sifat yang diturunkan dari induk. Gen mempengaruhi ciri dan sifat makhluk hidup, misalnya bentuk tubuh, tinggi tubuh, warna kulit, warna bunga, warna bulu, rasa buah, dan sebagainya. Gen juga menentukan kemampuan metabolisme makhluk hidup, sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Hewan, tumbuhan, dan manusia yang memiliki gen tumbuh yang baik akan tumbuh dan berkembang dengan cepat sesuai dengan periode pertumbuhan dan perkembangannya.
b. Hormon
     Hormon merupakan zat yang berfungsi untuk mengendalikan berbagai fungsi di dalam tubuh. Meskipun kadarnya sedikit, hormon memberikan pengaruh yang nyata dalam pengaturan berbagai proses dalam tubuh. Hormon yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada makhluk hidup beragam jenisnya.
Beberapa hormon pertumbuhan pada hewan adalah sebagai berikut.
a)  Tiroksin, mengendalikan pertumbuhan hewan. Pada katak hormon ini merangsang dimulainya proses metamorfosis.
b)  Somatomedin, mempengaruhi pertumbuhan tulang.
c)  Ekdison dan juvenil, mempengaruhi perkembangan fase larva dan fase dewasa, khususnya pada hewan Invertebrata.

2.  Faktor Luar (Eksternal)
     Faktor luar yang mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup berasal dari faktor lingkungan. Beberapa faktor lingkungan yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup adalah sebagai berikut.
1. Makanan atau Nutrisi
     Makanan merupakan bahan baku dan sumber energi dalam proses metabolisme tubuh. Kualitas dan kuantitas makanan akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup. 
2. Suhu
     Semua makhluk hidup membutuhkan suhu yang sesuai untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya. Suhu ini disebut suhu optimum, pada suhu optimum, semua makhluk hidup dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Hewan memiliki kemampuan untuk bertahan hidup dalam kisaran suhu lingkungan tertentu.
3. Air
     Air dan kelembapan merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan perkembangan. Air sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup. Tanpa air, makhluk hidup tidak dapat bertahan hidup. Air merupakan tempat berlangsungnya reaksi-reaksi kimia di dalam tubuh. Tanpa air, reaksi kimia di dalam sel tidak dapat berlangsung, sehingga dapat mengakibatkan kematian.

2.2  Upaya Yang Dilakukan Untuk Meningkatkan Peformance Reproduksi Organisme Komersial
        Performans reproduksi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain manajemen, kesehatan, nutrisi, lingkungan dan faktor-faktor biologi yang dimiliki oleh ternak tersebut.
Salah satu contoh faktor yang dapat mencerminkan performans reproduksi yaitu pada ternak sapi meliputi siklus estrus, lama bunting, kawinan pertama setelah beranak, calving interval (jarak beranak), dan skor kondisi tubuh
1. Siklus Estrus
        Siklus estrus adalah interval antara mulainya estrus ke estrus berikutnya yang merupakan suatu proses yang distimulasi hormon estrogen. Siklus estrus pada sapi rata rata 21 dengan lama estrus 15 jam dan ovulasi terjadi 10-11 jam setelah estrus berakhir. Pengetahuan dasar tentang siklus estrus ini penting diketahui oleh peternak sehingga deteksi birahi dapat dilakukan dengan benar dan tepat.
2. Lama Bunting
        Secara umum masa kebuntingan dibagi dalam tiga periode yaitu periode ovum, periode embrio dan periode fetus. Periode ovum dimulai sejak terjadinya fertilisasi kemudian  berlanjut ke stadium morula blastula sampai zygot siap untuk implantasi. Periode embrio atau periode triwulan kedua dimulai sejak terjadinya implantasi sampai ke stadium pembentukan alat alat tubuh bagian dalam dan deferensiasi fungsi sel organ. Pada periode ini terjadi pembentukan plasenta secara lengkap dan pembentukan cairan uterin. Periode fetus atau periode triwulan ketiga dimulai dari pembentukan organ tubuh bagian dalam sampai terbentuknya ekstremitas dan terus berlanjut sampai anak lahir.
     Kebuntingan pada sapi dikontrol oleh hormon progesteron. Selama kebuntingan terjadi perubahan berat badan induk yang mengikuti perkembangan fetus membran membran beserta cairannya serta perkembangan kelenjar susu yang dengan bertambahnya umur kebuntingan maka berat badan akan semakin bertambah. Pertambahan berat badan nyata
terlihat pada periode sepertiga akhir kebuntingan atau triwulan ketiga kebuntingan disebabkan pertambahan berat badan fetus pada masa ini mencapai sampai dari berat lahir
Prn%rl. Umumnya apabila induk dalam keadaan kekurangan pakan induk akan menggunakan jaringan tubuhnya untuk mempertahankan pertumbuhan fetus dan bila keadaan ini terjadi maka berat badannya menjadi berkurang demikian juga daya hidup anak setelah lahir akan menurun.

3. Kawinan Setelah Beranak (Pospartum Mating)
        Postpartum mating adalah waktu yang ditentukan oleh induk untuk dikawinkan kembali setelah beranak. Perkawinan setelah beranak ini akan menentukan panjang pendeknya calving interval.  Panjang pendeknya perkawinan pertama setelah beranak juga dipengaruhi oleh estrus pertama kali setelah seekor ternak betina beranak. Hal ini sangat penting untuk segera diketahui oleh peternak sapi perah sebagai salah satu faktor yang menentukan dalam rangka peningkatan efisiensi reproduksi.
4. Calving Interval
        Calving Interval atau interval beranak pada sapi adalah waktu yang diperlukan dari sejumlah induk sejak beranak pertama hingga beranak berikutnya. Calving interval pada usaha sapi perah merupakan komponen utama yang harus diperhatikan dalam manajemen induk agar efisiensi reproduksi dan ekonomi dapat tercapai. Beberapa faktor yang memengaruhi panjang pendeknya calving interval antara lain postpartum, estrus postpartum, mating service per conception, ketepatan saat mengawinkan dan jadi tidaknya kebuntingan.
5. Skor Kondisi Tubuh
        Putro(2005) menyatakan bahwa performans reproduksi sapi dipengaruhi oleh skor kondisi badan berat badan serta perubahan perubahan berat badan. Penurunan berat badan atau skor kondisi badan akan diikuti dengan gejala anestrus. Pulihnya kembali siklus estrus pasca beranak ada hubungannya dengan perubahan berat badan pada akhir kebuntingan dan kondisi
badan saat melahirkan. Penurunan berat badan segera setelah melahirkan akan menunda pulihnya siklus estrus kembali, dicatat bahwa ada penundaan hari pada setiap penurunan berat badan. Angka kebuntingan yang rendah akan terjadi pada sapi denganskor kondisi tubuh yang rendah.



2.2.1 Pemberian Pakan Suplemen Multinutrient Block Plus Medicated (MBPM) pada Induk Sapi
        Salah satu masalah dalam pembibitan sapi adalah rendahnya efisiensi reproduksi sebagai akibat dari panjangnya waktu berahi kembali setelah melahirkan (berahi post partum) yang lebih dari 90 hari, panjangnya waktu yang dibutuhkan ini dirasakan perlu segera ditanggulangi, karena keadaan ini menurunkan kinerja reproduksi dan jumlah kelahiran anak sapi setiap tahun.
        Penyebab anestrus post partum induk sapi adalah rendahnya kandungan nutrisi ransum yang diberikan terutama kandungan protein dan kandungan mineral makro seperti P serta mineral mikro seperti Co dan I. Menurut Syarifuddin dan Wahdi pemberian pakan suplemen multinutrient block pada sapi yang mempunyai berahi post partum lebih dari 90 hari dan S/C > 2, dapat mempercepat 20 hari munculnya berahi post partum dan meningkatkan angka kebuntingan 16,67%.
        Efisiensi reproduksi sapi dicoba ditingkatkan dengan cara pemberian pakan suplemen multinutrient block plus medicated (MBPM). Pakan suplemen MBPM adalah pakan yang mengandung sumber energi, sumber protein, sumber mineral, dan sumber vitamin serta mengandung obat cacing, yang diberikan secara komplit dalam bentuk block kepada ternak. Pemberian pakan suplemen ini diharapkan dapat memulihkan kondisi tubuh induk setelah post partum dalam kondisi menyusui, dengan memanfatkan pakan hijauan terutama yang berkualitas rendah. Selain itu, ada obat cacing dalam pakan suplemen diharapkan dapat mengurangi investasi cacing dalam saluran pencernaan, sehingga zat-zat nutrisi dapat dimanfaatkan secara maksimal dan dapat digunakan untuk proses munculnya berahi post partum serta proses fertilisasi. Ini diharapkan dapat meningkatkan angka kebuntingan. Selain itu juga, anak sapi yang masih menyusu pada induknya, akan mendapat asupan nutrisi yang lebih baik serta dapat mencegah investasi cacing yang lebih banyak dalam saluran pencernaan, sehingga pertumbuhannya menjadi lebih baik.
        Adapun suplemen multinutrient block plus medicated (MBPM) terdiri dari formulasi yaitu : dedak padi 49%, bungkil kelapa 22%, mineral mix 11%, cangkang telur 4%, SP36 1%, urea 2%, semen 1%, dan molases 12% serta obat cacing sesuai dosis anjuran pada pabriknya. Pakan suplemen MBPM menyebabkan berahi lebih cepat 24,8 hari dari pada kelompok sapi induk kontrol, walaupun hasil uji nilai tengah tidak berbeda nyata. Waktu 24,8 hari secara ekonomis sangat berarti bagi peternak, terutama untuk penghematan biaya pemeliharaan yaitu biaya penyediaan pakan hijauan dan konsentrat, obat-obatan serta upah pemeliharaan. Kondisi demikian menunjukkan bahwa, pemberian pakan suplemen MBPM dapat mempunyai nilai ekonomi lebih baik dalam mempercepat muncul berahi pada sapi. Pemberian pakan suplemen MBPM pada sapi induk yang mempercepat muncul berahi post partum, diduga karena komposisi akan suplemen MBPM yang mengandung sumber energi, sumber protein, sumber mineral dan vitamin serta obat cacing sehingga mampu memperbaiki kondisi tubuh, memacu aktivitas hormon reproduksi, melancarkan estrus, dan meningkatkan jumlah sel telur yang dilepas kantong telur.


2.2.2 Optimasi Program Inseminasi Buatan Pada Kerbau
        Perkembangan ternak kerbau di Indonesia cenderung relatif rendah dalam lima tahun terakhir, tetapi tingkat pemotongan ternak tersebut cenderung meningkat dalam periode yang sama. Faktor-faktor yang menghambat perkembangannya adalah sistem pemeliharaan masih bersifat ekstensif, usaha sambilan, pertumbuhan lambat dan efisiensi reproduksinya rendah. Optimasi program inseminasi buatan (IB) merupakan salah satu alternatif untuk memperbaiki produktivitas usaha ternak kerbau di Indonesia. IB merupakan alat yang cukup efektif untuk memperbaiki mutu genetik dan meningkatkan populasi ternak.
        Inseminasi Buatan (IB) adalah salah satu bioteknologi reproduksi alternatif yang dapat digunakan untuk memperbaiki produktivitas usaha ternak kerbau di Indonesia. Inseminasi Buatan (IB) adalah atau teknik untuk memasukkan spermatozoa atau semen yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus. IB merupakan alat yang efisien dan efektif dalam melaksanakan kebijaksanaan pemulian ternak secara nasional untuk memperbaiki mutu genetik keturunannya secara cepat. Keberhasilan IB ditunjukkan dengan jumlah anak yang dilahirkan dari sejumlah induk yang di inseminasi.
        Penilaian keberhasilan program IB di lapangan dinyatakan secara sederhana dalam Service per Conception (S/C) atau jumlah pelayanan (dosis) IB per kebuntingan dan Conception Rate (CR) atau angka konsepsi, yaitu jumlah hewan betina yang bunting pada IB pertama dibagi seluruh hewan betina yang di-IB dalam satu kurun waktu tertentu dikali 100%. Keberhasilan program IB atau efisiensi reproduksi dalam program IB pada suatu kelompok ternak ditentukan oleh empat faktor utama yaitu kualitas semen pejantan, kesuburan ternak betina, keterampilan teknisi dan pengetahuan zooteknik peternak. Keempat faktor tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi tergantung secara merata pada semua faktor tersebut. Penurunan drastis pada salah satu faktor akan menurunkan secara drastis pula nilai akhir efisiensi reproduksi. Oleh karena itu keberhasilan suatu program IB, keempat faktor tersebut
harus dipertahankan pada tingkat tinggi.
        Kualitas semen pejantan yang baik harus memiliki konsentrasi spermatozoa yang tinggi per satuan volume dan daya gerak progresif (motilitas) spermatozoa ≥80% sebelum dibekukan dan ≥40% sesudah pembekuan. Pejantan tersebut haruslah terseleksi sebagai pejantan berpotensi genetik unggul. Kesuburan hewan betina akseptor IB sangat tergantung pada kesehatan reproduksi dan faktor nutrisi/pakan yang memadai baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Keterampilan teknisi tidak hanya mencakup petugas inseminasi (inseminator), melainkan juga petugas pemeriksa kebuntingan (PKB) dan asisten teknis reproduksi (ATR) yang membantu dokter hewan di lapangan dalam menanggulangi masalah gangguan reproduksi. Keterampilan zooteknik peternak terutama menyangkut manajemen dalam sistem beternaknya, pengenalan dan pengamatan atau deteksi berahi serta pelaporan berahi untuk diinseminasi tepat pada waktunya.
        Program IB pada kerbau tidak akan bermanfaat jika tidak diikuti pula dengan program pemuliaan. Program pemuliaan yang perlu dilakukan adalah program seleksi disertai dengan perbaikan manajemen (tatalaksana) pemeliharaan sehingga akan mampu meningkatkan produktivitasnya.
        Deteksi berahi merupakan hal yang sangat penting dalam pelaksanaan IB pada ternak, karena dengan melakukan pendeteksian berahi akan dapat ditentukan kapan saatnya yang tepat untuk melakukan pelayanan inseminasi pada saat ternak betina berada pada puncak kesuburannya. Namun adanya fenomena silent heat (berahi tenang) pada kerbau menyulitkan pendeteksian berahi. Fenomena ini terjadi karena hormon FSH tidak mampu mendorong sistesis hormon estrogen oleh sel granulosa dari folikel den Graaf sehingga tidak muncul tanda-tanda berahi walaupun hormon FSH itu sendiri mampu menumbuhkan folikel pada ovarium sehingga terjadi. Sekitar 50% dari kerbau perah di India memperlihatkan gejala berahi tenang selama periode post-partum. Padahal untuk mengoptimalkan efisiensi reproduksi kerbau, faktor-faktor penghambat tersebut harus dikeluarkan. Ada berbagai metode dan sistem pendeteksian berahi yang mungkin dapat diterapkan pada kerbau, seperti penggunaan pejantan pengusik (teaser-animal), pedometer ataupun dengan mount-detectors. Metode ini ternyata mampu mendeteksi berahi pada ternak sapi dengan tingkat akurasi dan efisiensi yang tinggi.
        Faktor terpenting dalam pelaksanaan inseminasi adalah ketepatan waktu pemasukan semen pada puncak kesuburan ternak betina. Puncak kesuburan ternak betina adalah pada waktu menjelang ovulasi. Waktu terjadinya ovulasi selalu terkait dengan periode berahi. Pada umumnya ovulasi berlangsung sesudah akhir periode berahi. Sebelum dapat membuahi sel telur yang dikeluarkan sewaktu ovulasi, spermatozoa membutuhkan waktu kapasitasi untuk menyiapkan pengeluaran enzim-enzim zona pelucida dan masuk menyatu dengan ovum menjadi embrio. Waktu kapasitasi pada kerbau diperkirakan sama dengan waktu kapasitasi pada sapi, yaitu 5-6 jam.

2.2.3  Penyuntikan Hormon Ovaprim dan Hormon Wova-fh Pada Ikan Lele
        Ikan  lele  merupakan  salah  satu  komoditas  perikanan  yang  sangat  potensial, mampu memakan segala jenis makanan karena termasuk  ikan  omnivora  dan  mudah  dibudidayakan. Dalam meningkatkan produksi ikan lele dapat dilakukan pemijahan. Keberhasilan suatu usaha pemijahan ikan dipengaruhi oleh faktor faktor seperti kematangan gonad ikan yang akan dipijahkan, makanan yang diberikan selama pemeliharaan dan kondisi lingkungan.
        Pemijahan adalah proses pengeluaran sel telur oleh induk betina dan sperma oleh induk jantan yang kemudian diikuti dengan pembuahan sel telur oleh sperma. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempercepat proses pemijahan adalah dengan menambahkan atau menyuntikkan hormon ovaprim dan hormon wova-fH ke dalam tubuh ikan yang sudah matang  gonad sehingga dapat dihasilkan benih ikan  lele yang baik dimana jumlah, mutu dan waktu penyediaannya dapat diatur sesuai yang diinginkan.
        Ovaprim adalah campuran analog salmon Gonadotropihin Releasing Hormon (sGnRH-a) dan anti dopamine. Ovaprim adalah hormon yang berfungsi untuk merangsang dan memacu hormon gonadothropin pada tubuh ikan sehingga dapat mempercepat proses ovulasi dan pemijahan, yaitu pada proses pematangan gonad dan dapat memberikan daya rangsang yang lebih tinggi, menghasilkan telur dengan kualitas yang baik serta menghasilkan waktu laten yang relatif singkat juga dapat menekan angka mortalitas.
        Hormon wova-fH adalah hormon yang dapat membantu mempercepat proses kelahiran khususnya pada ikan yang  kurang fertil. Adapun manfaat penggunaan wofa-fh untuk pemijahan ikan lele adalah untuk meningkatkan kesuburan dan mempercepat tingkat penetasan. Pemberian hormon ini cukup dengan dosis tunggal yakni 0,5 mL/Kg berat ikan, tidak menyebabkan stress pada indukan, proses penyuntikan mudah, stabil pada suhu kamar dan daya tahan yang cukup panjang dan ketersediaan yang mudah dan siap digunakan.
        Berdasarkan analisis uji-t diperoleh hasil bahwa perbedaan perlakuan dengan hormon yang berbeda yaitu menggunakan hormon ovaprim dan wova-fh memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap daya tetas telur ikan lele.
        Induk ikan lele disuntik dengan hormon wova-fh menunjukkan hasil yang baik dalam merangsang hormon gonadotropin dalam mempercepat proses penetasan, Dengan demikian dikatakan bahwa pemberian hormone wova-fH pada induk ikan  lele dapat meningkatkan daya tetas  telur yang berkualitas dengan rata-rata 55,625/individu dari hasil pemijahan. Sedangkan Induk ikan lele disuntik dengan ovaprim juga dapat meningkatkan daya tetas telur ikan lele karena adanya kandungan Folicle Stimulating Hormone (FSH) meningkat sehingga folikel berkembang dan daya tetas telur juga meningkat. Ovaprim dapat meningkatkan daya tetas telur dengan rata-rata 20/individu dari hasil pemijahan.
2.2.4 Perlakuan Induced Molting Pada Ayam Yang Sudah Tua
Salah satu upaya untuk memperpanjang masa produksi telur ayam yaitu dengan memberi perlakuan IM (induced molting), yaitu peternak memaksa ayam berhenti bertelur untuk beberapa waktu dengan berbagai cara sehingga ayam dapat berproduksi kembali tanpa melakukan replacement stock. Induced molting adalah suatu cara untuk menghentikan produksi telur sementara waktu setelah lama berproduksi, sehingga ayam dapat melakukan perbaikan alat reproduksinya. Akibatnya setelah dilakukan induced molting produksi telur dapat meningkat kembali. Ayam yang di induced molting harus berumur lebih dari 72 minggu, produksi telur rendah dibawah 60%.
Dikenal berbagai macam metode induced molting pada ayam yang biasa diterapkan, antara lain dengan pembatasan cahaya, pembatasan pakan secara kualitatif dan kuantitatif. Abdul–Rahman et al. (2012) menyatakan untuk memperbaiki produksi telur pasca induced molting dapat dilakukan dengan pemberian pakan jagung dengan penambahan oyster shell grit. Hasan et al.  (2000) dan Togun et al. (2004) melaporkan bahwa pemberian crude protein 16% pada ransum setelah perlakuan induced molting mampu mempercepat pemulihan bobot badan dan produksi telur lebih cepat.
Induced molting pada ayam berumur 87 minggu dapat menghasilkan produksi telur pada tahun kedua sebesar 94% dari produksi tahun pertama yaitu 80% (Strizak, 2012). El-Gendi et al. (2009) menyatakan bahwa peningkatan produksi telur terjadi karena ayam mengalami fase istirahat dan peremajaan organ reproduksi.





2.2.5 Peningkatan Produksi Udang Galah Melalui Intensifikasi
        Udang galah adalah salah satu komoditas perikanan yang cukup potensial jika dikembangkan. Mengingat, komoditas satu ini memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Hal ini karena dari waktu ke waktu permintaan komoditas satu ini bertambah.
        Udang galah yang dipelihara dan diesarkan dalam air tawar dapat mencapai 30 cm. Budidaya udang galah mengalami perkembangan yang cukup pesat, khususnya pada sektor pembesaran. Namun, pada kenyataannya di lapangan masih terlihat beberapa kendala. Hal ini karena masih minimnya teknologi pada sistem pembudidayaannya. Oleh karena itu, dalam menjalankan usaha ini, untuk merebut pangsa pasar udang ini diperlukan adanya kesinambungan produksi. Salah satunya, dengan upaya peningkatan produksi.
        Hal ini harus diimbangi dengan teknologi yang tepat guna mendukung perkembangan udang. Upaya peningkatan produktivitas usaha pembesaran udang dapat dilakukan dengan penerapan intensifikasi pemeliharaan dan pengembangan sentra budidaya. Berikut beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi udang, agar usaha perikanan yang Anda jalankan dapat semakin berkembang pesat.
1.     Optimalisasi kondisi kolam
2.     Penggunaan benih unggul
3.     Penggunaan naungan (shelter)
4.     Monitoring kualitas air secara periodik
5.     Penyeragaman ukuran benih
6.     Pemeliharaan benih tunggal alami
7.     Penggunaan jenis pakan dan sistem pemberian yang tepat
8.     Pengembangan sentra budidaya
       


        Menurut pakar di bidang perikanan, suksesnya usaha budidaya udang galah tidak terlepas dari kegiatan teknis yang diimbangi dengan kegiatan sosial dan ekonomi. Kegiatan tersebut dikenal dengan “Sapta Usaha” yang mencakup 7 kegiatan pendukung. Berikut penjelasannya.
1.         Konstruksi kolam
        Kegiatan perencanaan dan pembuatan kolam yang sesuai dengan standar supaya memudahkan pengelolaan, baik dalam melakukan pengeringan kolam maupun pengisian dan pembuangan air.
2.         Pengaturan air
        Kegiatan pengelolaan air harus tetap dilakukan seperti tersedianya air sepanjang tahun dengan jumlah yang cukup untuk udang galah, kualitas air dan bebas dari pencemaran, serta pemasukan dan pembuangan air dapat dilakukan dengan lancar. Saluran yang memiliki kegunaan sendiri-sendiri, akan menghindarkan air buangan masuk kembali ke kolam.
3.         Benih
        Mencakup kegiatan pemilihan benih. Pengadaan benih udang galah sebaiknya dibeli dari Balai Benih Udang Galah, karena produksi dari Balai Benih secara umum kualitasnya dapat diandalkan dan ukurannya seragam. Dengan demikian, secara ekonomi lebih menguntungkan ditinjau dari aspek pengelolaan dan pemasaran.
4.         Pengelolaan
        Mencakup kegiatan seperti pengolahan tanah, pemupukan dan pemberian makanan tambahan. Pengolahan tanah, khususnya dasar kolam sangat penting karena dengan adanya pengolahan menjadikan tanah dasar kolam terbebas dari gas-gas beracun yang berdampak negatif bagi udang.
        Selain itu, perlu dilakukan pemupukan, baik penggunaan pupuk organik maupun non-organik, agar tanah dasar kolam tetap subur sehingga berbagai jenis makanan alami yang disukai udang dapat tumbuh dengan subur pula. Pemberian makanan tambahan juga sangat mendukung pertumbuhan udang sehingga dapat mempersingkat waktu pemanenan udang galah.
5.         Pengendalian hama
        Mencakup kegiatan usaha penanggulangan hama kolam, baik hama pemangsa, pesaing maupun yang dapat merugikan secara ekonomi.
6.         Tatalaksana usaha
        Mencakup kegiatan yang bersifat ekonomi. Dalam pelaksanaan budidaya udang galah, petani sebaiknya dapat memperhitungkan biaya produksi serta kemampuan modal yang dimiliki, sekaligus memperhitungkan sasaran produksi yang akan dicapai dan menghindarkan pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu.
7.         Pemasaran hasil
        Mencakup kegiatan memperhitungkan potensi pasar komoditas udang galah, baik pasaran dalam negeri maupun pangsa pasaran ekspor. Dengan adanya pemahaman potensi pasar, petani dapat menghindarkan kerugian yang bersifat ekonomi.

2.2.6 Pengaturan Pencahayaan Untuk Peningkatan Reproduksi Ayam
        Salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi proses reproduksi pada ayam adalah cahaya. Cahaya dapat didefinisikan sebagai suatu bagian dari spektrum gelombang elektromagnet yang dipancarkan oleh suatu sumber cahaya. Cahaya buatan biasanya digunakan untuk mengontrol pertumbuhan dan kecepatan kedewasaan kelamin ayam sehingga tubuhnya sudah cukup besar untuk menghasilkan telur yang pertama sesuai yang diharapkan. Cahaya buatan tambahan dapat di gunakan pada ayam (unggas) sebagai rangsangan disamping cahaya alam.
        Cahaya sangat diperlukan dalam pemeliharaan ayam, karena memiliki arti penting berkaitan dengan proses pertumbuhan dan produksi ayam, yaitu sebagai berikut:

1. Proses Pertumbuhan.
        Keberadaan cahaya yang masuk kedalam ruangan memungkinkan ayam untuk mampu melihat lingkungan sekitar, terutama makanan dan air minum yang tersedia. Sehingga dengan demikian, keberadaan cahaya tersebut tentu saja akan meningkatkan jumlah makanan yang dikonsumsi oleh ayam. Sementara, jumlah makan yang masuk kedalam tubuh (feed intake), juga berpengaruh besar terhadap proses produksi.
2. Proses Produksi Telur.
        Pengaruh cahaya terhadap proses produksi telur adalah merangsang hormon reproduksi gonadotropin, dan proses ovulasi atau peneluran. Hal ini terjadi karena cahaya yang masuk kedalam ruangan diterima saraf pada mata ayam, yang kemudian menimbulkan rangsangan dalam mengahasilkan hormon yang sangat potensial dalam proses pembentukan telur.

        Adanya pencahayaan, baik pencahayaan alami (sinar matahari) maupun cahaya buatan (lampu) akan menstimulasi hipotalamus di otak. Selanjutnya, “sinyal” cahaya akan diteruskan ke kelenjar-kelenjar tubuh, seperti hipofisa, tiroid dan paratiroid untuk menstimulasi disekresikannya hormon.
Kelenjar hipofisa akan mensekresikan “folicle stimulating hormone (FSH)” atau hormon perangsang perkembangan sel ovum pada indung telur (ovarium). Hormon inilah yang sangat berperan penting untuk pembentukan sebutir telur. Adanya sinyal cahaya juga menstimulasi kelenjar tiroid mensekresikan hormon tiroksin yang berfungsi mengatur kecepatan metabolisme tubuh sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan.
Kelenjar paratiroid juga terstimulasi oleh adanya cahaya untuk mensekresikan hormon paratiroksin yang berperan dalam pengaturan metabolisme kalsium (Ca) dan fosfor (P). Setelah melihat fungsi dari adanya pencahayaan tersebut maka sudah selayaknya kita memberikan perhatian yang lebih pada program pencahayaan.
        Pada masa starter diberikan pencahayaan dengan intensitas paling tinggi (20-40 lux) dan waktu paling lama (24 jam pada 1 minggu pertama). Tujuannya ialah mempermudah ayam mengenali tempat ransum dan air minum maupun untuk memacu pertumbuhan. Saat fase grower, program pencahayaan diberikan cahaya dalam waktu paling singkat (12 jam atau hanya dari cahaya matahari) dengan intensitas terendah (5-10 lux). Hal ini dimaksudkan untuk mengontrol perkembangan saluran reproduksi dan pencapaian berat badan yang optimal saat mulai berproduksi. Lain halnya saat fase layer, lama (16 jam) dan intensitas pencahayaan (10-20 lux) berada diantara fase starter dan grower. Pada fase layer ini, adanya pencahayaan akan membantu proses pembentukan telur, pertumbuhan berat badan dan membantu metabolisme Ca dan P yang sangat diperlukan untuk pembentukan kerabang telur dan tulang.
        Selain lama waktu dan intensitas pencahayaan, penentuan waktu untuk menambah atau mengurangi pencahayaan juga wajib diperhatikan oleh peternak. Dua hal penting tentang pencahayaan adalah jangan menambah jam terang selama masa pertumbuhan (fase grower) dan sebaliknya jangan mengurangi jam terang selama masa produksi. Jarak dan distribusi lampu juga harus diperhatikan. Jangan sampai jarak maupun intensitas lampu yang digunakan tidak sama. Jarak pemasangan lampu yang kurang baik, yaitu jarak antar satu lampu dengan lainnya tidak sama dapat mengakibatkan perbedaan intensitas cahaya.
        Data penelitian menunjukkan adanya pengaruh pencahayaan terhadap performan produksi telur. Ibnu Katsir Amrullah (2003) menjelaskan bahwa ayam yang diberi pencahayaan selama 8 jam pada masa grower dan 14 jam pada masa layer mampu menghasilkan telur dalam jumlah lebih banyak (berbeda signifikan) meskipun berat telurnya sedikit lebih ringan.
Waktu pemberian cahaya buatan ada 3 macam yaitu :
1. Morning light (penambahan cahaya yang dilakukan pada dini hari)
2. Evening light (penambahan cahaya yang dilakukan pada sore hari)
3.  Morning and evening light (penambahan cahaya yang dilakukan dengan kombinasi pagi dan sore hari).
Pencahayaan sebelum waktunya bertelur dapat berakibat pada:
⦁   Dewasa kelamin menjadi lebih cepat dibandingkan dengan umurnya.
⦁   Telur yang dihasilkan lebih kecil-kecil, dan ayam tidak bertelur secara kontinue setiap hari
Adapun ketentuan yang terkait dengan penambahan cahaya ini, antara lain:
⦁   Penambahan lama pencahayaan harus segera dilakukan ketika ayam pertama kali bertelur
⦁   Jangan mengurangi lama pencahayaan pada saat ayam berproduksi telur, terlebih  lagi ketika masa kritis (masa awal produksi sampai masa produksi puncak), yaitu terjadi pada umur 18-28 minggu
⦁   Penambahan lama pencahayaan dapat dilakukan secara bertahap, terhitung ketika ayam pertama kali bertelur
⦁   Lama pencahayaan yang maksimal untuk ayam yang sudah memasuki masa produksi yaitu 16 jam (12 jam cahaya alami+ 4 jam cahaya buatan ).








2.2.7 Manipulasi Reproduksi Pada Itik Petelur Dengan Pregnant Mare Serum Gonadotropin
        Ternak itik sangat populer di kalangan masyarakat pedesaan, karena mempunyai beberapa keuntungan antara lain memerlukan modal yang relatif kecil sehingga dapat terjangkau oleh daya beli peternak, kemampuan bereproduksi yang lebih cepat dan dapat memanfaat limbah pertanian, sehingga dengan melihat potensi ternak itik tersebut perlu adanya pengkajian pengelolaan usaha peternakan itik untuk dapat membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Sebab sampai saat ini usaha peternakan itik masih berpola tradisional dan sangat sederhana tanpa diimbangi ketrampilan beternak yang memadai bagi para peternaknya. Ternak itik merupakan sumber protein hewani yang dianggap murah biaya produksinya, relatif tahan terhadap penyakit.
        Dalam upaya pengembangan bibit itik, baik secara kuantitatif maupun kualitatif , selain melalui seleksi juga harus didukung oleh pengelolaan reproduksi yang baik. Peningkatan produksi telur golongan unggas berbanding lurus dengan waktu, artinya dengan bertambahnya waktu, produksi telur akan selalu naik sampai periode tertentu (Sasimowski, 1987). Dengan bertambahnya umur kualitas telur akan ikut menurun. Sehingga jumlah telur yang pecah bertambah. Bila penurunan produksi telur ini terus berlanjut hingga dibawah 60% maka akan menyebabkan kerugian karena biaya pemeliharaan menjadi tidak seimbang dengan hasil yang diperoleh.
        Penurunan produksi telur itik sehubungan dengan penambahan umur erat hubungannya dengan fungsi fisiologis organ-organ reproduksi. Fungsi organ-organ reproduksi sangat dipengaruhi oleh hormon gonadotropin yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisa anterior.       Hormon gonadotropin yang dihasilkan oleh hipofisa anterior terdiri dari folicle stimulating hormone (FSH) dan Luteinizing hormone (LH). Hormon FSH mempengaruhi pertumbuhan folikel muda menjadi folikel masak. Disamping oosit, di dalam folikel yang sedang berkembang, terdapat sel theca dan beberapa sel granulosa. Selanjutnya hormon FSH juga mempengaruhi sekresi steroid yaitu esterogen dan progesteron, yang dihasilkan oleh sel theca dan sel granulosa, yang penting untuk pembentukan kuning telur, albumin dan cangkang telur. Hormon LH dapat mendorong pertumbuhan folikel menjadi folikel praovulasi dan diikuti terjadinya ovulasi. Hormon progesteron juga berperan dalam pertumbuhan saluran reproduksi (oviduck) dan proses peletakan telur. Hanya 7 hingga 10 ovum yang memasuki perkembangan cepat. Selama kira-kira 10 hari ovum pertama masak diikuti dengan peletakan telur (Hafez, 2000 dan Parkhurst, 1988), gonadotropin lain yang dapat dipisahkan dari serum kuda yang sedang bunting, yaitu Pregnant Mare`s Serum Gonadotropin (PMSG) adalah hormon eksogen yang memiliki aktifitas biologi seperti FSH dan sedikit LH pada hewan selain kuda (Dipalma, 1971).
        PMSG eksogen mempunyai pengaruh biologis yang sama dengan FSH dan mengandung sedikit pengaruh LH. Baik pada hewan betina maupun hewan jantan. Menurut Soehermin (1990), hormon PMSG dapat merangsang pembentukan telur pada ayam petelur yang menderita gangguan reproduksi pada umur 23 minggu. Dosis hormon PMSG yang paling baik pengaruhnya terhadap produksi telur pada ayam petelur menurut peneliti adalah 20 IU.
        Pengaruh penyuntikan hormon PMSG terhadap produksi telur menunjukkan bahwa rata-rata produksi telur tertinggi terletak pada perlakuan P2 (suntikan PMSG 15 IU) yaitu sebesar 42,3 ± 2,83 butir dan terendah pada kelompok kontrol yaitu sebesar 10,5 ± 0,97 butir. Adanya perbedaan ini membuktikan bahwa penyuntikan PMSG pada itik fase akhir produksi dengan dosis 15 IU berperanan meningkatkan jumlah produksi telur.


2.3    Pengaruh Peningkatan Peformance Reproduksi Organisme Komersial pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Target pembangunan universal yang tertuang dalam SDGs membutuhkan dukungan dari semua elemen masyarakat dunia, termasuk dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, swasta, perguruan tinggi, dan masyarat. Sesuai dengan hasil sidang umum pbb pada 4 desember 2014 dirumuskan 17 tujuan untuk menciptakan masyarakat 2030.
Description: sdgs-bahasa-59f58751b3f5ca2af65d3572.jpg
Dari ke-17 tujuan yang dirumuskan dalam SDGs, peningkatan peformance reproduksi organisme komersial yang terkait dengan SDGs diantaranya:
1.         No Poverty
Menghapus segala bentuk kemiskinan berkaitan dengan kemampuan daya beli masyarakat, dengan adanya peningkatan raproduksi misalnya hewan ternak diharapkan harga pasaran untuk daging ternak tidak terlalu tinggi.
2.         Zero Hunger
Dengan adanya peningkatan reproduksi organissme komersial maka hal ini dapat menjadi salahsatu usaha untuk mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan peningkatan gizi dan mencanangkan pertanian berkelanjutan.
3.         Decent Work and Economic Growth
Peningkatan reproduksi organisme juga dapat mewujudkan meeningkatnya pertumbuhan ekonomi. Badan usaha swasta terutama dibidang peternakan dapat membuka lapangan pekerjaan di industri peternakannya.
4.         Industry, Innovation and Infrastructure
Badan usaha swasta atau industri dibidang peternakan komersial menerapkan inovasi-inovasi yang dapat meningkatkan produktifitas organisme komersial
5.         Responsible Consumtion and Production
Upaya peningkatan peformance reproduksi organisme komersial perlu memperhatikan dampak lingkungan yang terjadi terutama bagi badan usaha swasta yang membuka peternakan skala besar
6.         Life on Land
Untuk individu atau badan usaha swasta yang bergerak dibidang peningkatan reproduksi organisme komersial diharapkan dapat memperhatikan rumusan yang ke 15 SDGs ini.












BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
        Dewasa ini seiring dengan pertumbuhan penduduk di Indonesia yang berkembang pesat diikuti pula dengan semakin bertambahnya kebutuhan akan sumber pakan hewani. Sumber pakan hewani ini terutama berasal dari jenis hewan peternakan seperti sapi, kerbau, kambing, atau dari jenis hewan unggas seperti ayam dan itik, dan juga dari jenis perikanan. Oleh karena itu perlu adanya suatu usaha yang dapat meningkatkan performans reproduksi dari hewan hewan komersial tersebut agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.
        Beberapa cara yang dapat dilakukan seperti pemberian pakan suplemen Multinutrient Block Plus Medicated (MBPM) pada induk sapi, optimasi program inseminasi buatan pada kerbau, penyuntikan hormon ovaprim dan hormon wova-fh pada ikan lele, perlakuan Induced Molting pada ayam yang sudah tua, peningkatan produksi udang galah melalui intensifikasi, pengaturan pencahayaan untuk peningkatan reproduksi ayam, manipulasi reproduksi pada itik petelur dengan Pregnant Mare Serum Gonadotropin.

3.2  Saran
Diharapkan dengan berkembangnya teknologi dan cara-cara yang dapat mempercepat peformans reproduksi hewan-hewan komersial ini dapat memenuhi kebutuhan penduduk Indonesia akan sumber pakan hewani.







DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2016. Tips Jitu Meningkatkan Produksi Udang Galah Agar Untung Puluhan Juta. Tersedia (online) : https://www.pertanianku.com/tips-jitu-meningkatkan-produksi-udang-galah-agar-untung-puluhan-juta/. Diakses tanggal 5 Oktober  2018

Aripin. 2013. Bagaimana meningkatkan produksi telur pada ayam tua. Tersedia (online) : http://aripinpg.blogspot.com/2013/06/bagai-mana-meningkatkan-produksi-telur.html. Diakses tanggal 5 Oktober  2018
I Gede Putu. 2003. Aplikasi Teknologi Reproduksi Untuk Peningkatan Performans Produksi Ternak Kerbau di Indonesi. JURNAL Wartazoa : 13 (4).
Indah Budiati, dkk. 2015. Potret Awal Pembangunan Pasca MDGs, Sustainable Development Goals (SDGs). Badan Pusat Statistik. Jakarta
Nursyam,dkk. 2011. Peningkatan Reproduksi Sapi Induk Brahman Cross Post Partum dengan Pemberian Pakan Suplemen Multinutrient Block Plus Medicated. Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi A Scientific Journal for The Applications of Isotopes and Radiation : 7(2)
Wulandari,dkk. 2017. Pengaruh Pemberian Hormon “Ovaprim” dengan “Wova-fh” Terhadap Daya Tetas Telur Induk Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus) di Balai Benih Ikan Kabupaten Samosir. Prosiding Seminar Nasional III Biologi dan Pembelajarannya.

Postingan populer dari blog ini

PENGENDALIAN MIKROBA

ZAT ADIKTIF MAKANAN