Praktikum Pengendalian Mikroba (Mikrobiologi Dasar)
Untuk mendukung agar blog ini dapat terus memberikan informasi yang anda butuhkan,anda dapat membantu kami dengan mengklik iklan atau mengklik close pada iklan yang ada diblog ini. terimakasih
PENGENDALIAN MIKROBA
I.
Tujuan
- Untuk
mengetahui pengendalian bakteri menggunakan zat kimia
II. Landasan Teori
Tanpa
kita sadari, pertumbuhan mikroorganisme dalam kehidupan nyata sangat cepat.
Pertumbuhan bakteri yang sangat cepat inilah yang menyebabkan beberapa penyakit
yang disebabkan oleh bakteri sangat sulit untuk di obati. Namun mikroorganisme
dapat dikendalikan yaitu dibasmi, dihambat, atau ditiadakan dari suatu
lingkungan, dengan menggunakan berbagai proses atau sarana fisik (Pelczar,
2005).
Oleh karena itu yang menjadi latar belakang praktikum kali ini yaitu
pengontrolan mikroorganisme. Yang dimana mahasiswa dapat mengetahui
metode-metode yang biasa dilakukan dalam pengendalian mikroorganisme dan
mengetahui pengaruh lingkungan yang dapat mempengaruhi mikroorganisme, serta
mengetahui kekuatan anti mikroba suatu zat-zat kimia.
Dalam hal ini, zat-zat yang dimaksud adalah desinfektan, antiseptis dan
antibiotik. Zat-zat ini dianggap mampu mengontrol pertumbuhan bakteri dengan
melakukan pengamatan terhadap zona hambat atau daerah bening di sekitar kertas
cakram yang tidak ditumbuhi oleh bakteri.
Banyak zat-zat kimia dapat menghambat atau mematikan
mikroorganisme berkisar dari unsur logam berat seperti perak dan tembaga sampai
kepada molekul organik yang kompleks seperti persenyawaan amonium kuaterner.
Berbagai substansi tersebut menujukkan efek anti mikroba dalam berbagai cara
dan terhadap berbagai macam mikroorganisme. Efeknya terhadap permukaan benda
atau bahan juga berbeda-beda, ada yang serasi dan ada yang bersifat merusak.
Karena ini dan juga karena variabel-variabel lain, maka perlu sekali diketahui
terlebih dahulu perilaku suatu bahan kimia sebelum digunakan untuk penerapan
praktis tertentu (Pelczar, 2005).
Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih bahan anti mikroba
kimiawi untuk tujuan praktis, yaitu:
1.
Sifat bahan yang akan diberi perlakuan.
Suatu zat kimia yang digunakan untuk
mendispersi perabotan terkontaminasi mungkin tidak baik bila digunakan untuk
kulit karena dapat amat merusak sel-sel jariangan kulit. Dengan demikian maka
harus dipilih zat serasi (compatible)
dengan bahan yang akan dikenalinya.
2. Tipe mikroorganisme.
Tidak semua mikroorganisme sama
rentannya terhadap sifat menghambat atau mematikan suatu zat kimia tertentu.
Karena itu harus dipilih zat yang telah diketahui efektif terhadap suatu tipe
mikroorganisme yang akan dibasmi.
Metode pengukuran zat antimikrobial
dalam menghambat atau membunuh pertumbuhan bakteri secara in vitro, dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1. Diffusion
test (Metode Kirby Baurer)
Metode difusi ini adalah metode yang
sering digunakan. Obat diserap ke dalam kertas disc, kemudian ditempelkan pada
kultur bakteri di agar plate. Setelah diinkubasi diameter zona hambat diukur.
Diameter zona penghambat merupakan pengukur MIC secara tidak langsung dari
antibiotika terhadap mikroba (Sumarno, 2000).
2. Dilution
test (Minimal Inhibition Consentration)
Obat dilarutkan ke dalam kaldu
(broth dilution) dan di dalam agar-agar (agar dilution), kemudian ditanami
bakteri yang akan diperiksa (Sumarno, 2000).
Faktor-faktor yang mempengaruhi zona hambat adalah:
1. Kekeruhan suspensi bakteri.
Kurang keruh, zona hambat lebih besar. Lebih keruh diameter zona hambatan makin
sempit.
2. Waktu pengeringan/pengeresapan suspensi bakteri kedalam Moellerhiton Agar. Tidak boleh lebih
dari batas waktu yang dibolehkan. Karena dapat mempersempit diameter zona
hambatan.
3. Temperatur inkubasi. Untuk memperoleh pertumbuhan yang optimal, inkubasi
dilakukan pada 35oC, kadang-kadang ada bakteri yang kurang subur
pertumbuhannya.
4. Waktu inkubasi. Hampir semua cara menggunakan waktu inkubasi 16-18
jam. Kurang dari 16 jam pertumbuhan bakteri belum sempurna sehingga sukar
dibaca/diameter zona hambatan lebih besar. Lebih dari 18 jam pertumbuhan lebih
sempurna sehingga zona hambatan makin sempit.
5. Tebalnya agar-agar. Ketebalan agar-agar sekitar 4 mm. Kurang dari itu
difusi obat lebih cepat, lebih dari itu difusi obat akan terjadi lambat.
6. Jarak antara disc obat. Yang dianjurkan minimal 15 mm, untuk menghindari
terjadinya zona hambatan yang tumpang tindih (Sumarno, 2000).
Zat zat kimia yang dapat kita gunakan untuk
mengendalikan mikroba misalnya desinfektan, antiseptik, dan antibiotik.
1. Detergen
Zat pengurangan tekanan permukaan
atau zat pembasah yang terutama digunakan untuk membersihkan permukaan benda
disebut detergen. Salah satu contohnya ialah sabun. Tetapi sabun tidak bekerja
dengan baik dalam air sadah. Karena itu kini telah dikembangkan bahan pembersih
baru yang lebih efisien yang disebut surfaktan atau detergen sintesis. Zat
tersebut tidak membentuk endapan dalam air alkalin ataupun asam, serta tidak
beraksi dengan mineral yang terdapat dalam air sadah dan membentuk endapan
(Pelczar, 2005).
2. Antiseptik
Antiseptik adalah bahan kimia yang dapat menghambat atau membunuh
pertumbuhan jasad renik seperti bakteri, jamur dan pada jaringan hidup lainnya
(Dwidjoseputro,
1985).
3. Antibiotik
Antimikroba
adalah suatu subsatnsi (zat-zat) kimia yang diperoleh dari atau di bentuk dan
di hasilkan oleh mikroorganisme dan zat-zat itu dalam jumlah yang sedikit pun
mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. Antibiotika
tersebar di alam dan memegang peran penting dalam mengatur populasi mikroba
dalam tanah, air, limbah dan kompos.
III. Alat
Dan Bahan
Alat :
a. Beker
b. Pinset
c. Erlenmeyer
d. Bunsen
e. Petri dish
f. Autoclave
g. Inkubator
Bahan :
a. Aqua dest
b. Nutrien agar
c. Sampo pentene
d. Sabun
lifeboy
e. Sunlight
f. Listerin
g. Wipol
h. Betadine
i.
Ampicillin
j.
Cotrimoxazole
k. Kertas
cakram
IV.
Cara Kerja
Pertama
a.
Sterilisisasi semua alat ayng digunakan
dengan autoclave
b.
Bagi petri dish menjadi 8 dan beri label
c.
Tuang nutrien agar kedalam petri dish
dan tunggu hingga mengeras
d.
Ambil kertas cakram lalu celupkan
kedalam zat kimia
e.
Letakkan didalam petri dish sesuai label
f.
Buka petri dish dan cari bakteri
g.
Setelah itu tutup petri dish dan isolasi
agar tidak terkontaminasi
h.
Masukkan petri dish kedalam inkubator
i.
Lalu amati bakteri yang tumbuh dan
daerah beningnya setelah 24 jam selama 4 hari
Kedua
a.
Sterilisasi semua bahan dengan autoclve
b.
Sediakan 3 petri dish masing masing
dibagi menjadi 2 unutk antibiotik, 4 untuk desinfektan, dan 2 untuk antiseptik
dan beri label
c.
Tuangkan nutrien agar kedalam petri dish
dan tunggu hingga keras
d.
Buka petri dish dan cari bakteri dariii
udara atau mulut
e.
Tutup petri dish dan isolasi agar tidak
terkontaminasi
f.
Masukkan kedalam inkubator selama 24 jam
g.
Jika sudah tumbuh bakteri maka siapkan
kertas cakram
h.
Celupkan kertas cakram kedalam zat kimia
dan letakkan didalam nutrien agar
i.
Tutup petri dish dan isolasi serta
dimasukkan kembali kedalam inkbator
j.
Setelah 24 jam amati bakteri yang tumbuh
dan daerah beningnya
V. Hasil Dan Pembahasan
Setelah
24 kamipun mengamati petri dish tersebut dan ada beberapa kertas cakram yang ditumbuhi
oleh bakteri. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri tersebut sudah resistensi
terhadap zat kimia tersebut. Resistensi merupakan kondisi dimana bakteri
tersebut telah kebal dengan kimia tersebut sehingga tidak dapat menghambat
pertumbuhanny. Sedangkan beberapa kertas
cakram lainnya tidak tumbuh bakteri dan terdapat daerah bening. Daerah bening
ini merupakan zona penghambat pertumbuhan bakteri. Diameter zona bening tersebut
menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap zat kimia. Semakin lebar zona bening
maka menunjukkan bakteri semakin sensitif.