GENETIKA

Untuk mendukung agar blog ini dapat terus memberikan informasi yang anda butuhkan,anda dapat membantu kami dengan mengklik iklan atau mengklik close pada iklan yang ada diblog ini. terimakasih
BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar belakang
Kemajuan-kemajuan terbaru dalam bidang genetika tengah berkembang dengan pesat dan menarik perhatian seluruh dunia. Seperti pengembangan sayur yang dimodifikasi secara genetik.
Istilah faktor keturunan (hereditas) hampir sama artinya dengan nasib atau takdir. Karakteristik yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya dianggap tidak dapat dirubah.Orang beranggapan bahwa anak yang lahir dari orang tua yang berbakat musik akan diberkahi dengan kemampuan bermusik. Hal ini biasanya masih dianggap takdir. Hasil eksperimen ditemukan bahwa lingkungan dan faktor eksternal dapat mengubah cara kerja gen. Gen-gen yang dorman ( tak aktif ) dapat diaktifkan.
Selain menyebabkan pembelahan sel dan menstrnsmisikan sifat-sifat dari orang tua ke anak, gen bekerja tanpa henti pada tingkatan jauh jauh lebih langsung. Perkawinan antara seorang wanita  cantik dan laki-laki yang pintar belum tentu lahir jenius yang tampan. Gen-gen tersebut terlihat berjajar dari atas ke bawah sepanjang garis vertikal, yang merupakan simbol dari kromosom. Huruf abjad ada yang ditulis dengan huruf besar dan kecil. Huruf besar menunjukkan sifat yang dominan dari gen, sedangkan huruf kecil menunjukkan sifat yang resesif dari gen.
Ada beberapa sifat keturunan yang tampak pada kedua macam jenis kelamin, tetapi pada salah satu sex jumlahnya lebih besar dibanding sex lainnya. Hal ini terjadi karena gen-gen autosom yang ekspresinya dipengaruhi oleh sex.
Misalnya sex yang lebih sering dijumpai pada pria adalah bibir sumbing, kepala botak, celah bibir dan langit-langit, juga gungguan mental akibat genetik. Gen ini disebut dengan sex influenced gene, merupakan gen dominan yang biasanyamemperlihatkan pengaruh sama pada semua jenis, tetapi ada gen-gen tertentu yang yang dipengaruhi jenis kelamin.
Pada tahun 1902, Boveri dan W. S. Sutton membuktikan bahwa gen adalah bagian dari kromosom yang terletak berderet-deret secara teratur pada kromosom. Gen terletak di dalam kromosom, yaitu di suatu tempat yang disebut dengan lokus. Lokus-lokus ini digambarkan sebagai garis-garis pendek yang horizontal di sepanjang kromosom yang digambarkan sebagai garis panjang vertikal.
Ada beberapa sifat keturunan yang tampak pada kedua macam jenis kelamin, tetapi pada salah satu sex jumlahnya lebih besar dibanding sex lainnya. Hal ini terjadi karena gen-gen autosom yang ekspresinya dipengaruhi oleh sex.
2.      Rumusan masalah
Dalam hal ini mempunyai beberapa rumusan maslah yaitu diantaranya:
1)      Apakah pengertian dari gen?
2)      Bagaimanakah cara penentuan kelamin XY?
3)      Bagaimana cara pewarisan dengan rangkaian?
4)      Bagaimana cara teknik “Banding” ( teknik pembentukan jalur )?
5)      Apa gen-gen yang ekspresinya diubah oleh seks?

3.      Tujuan
Dalam penyusunan makalh ini bertujuan untuk :
1)      Mengerti akan pengertian dari gen.
2)      Memahami cara penentuan kelamin XY.
3)      Mengetahui cara pewarisan dengan rangkain.
4)      Mengetahui bagaiman cara tehnik banding (tehniki penentuan jalur).
5)      Mengerti akan gen-gen yang ekspresinya diubah oleh seks.



BAB II
PEMBAHASAN

1.    Pengertian
Gen adalah bagian dari kromosom yang terletak berderet-deret secara teratur pada kromosom menurut Thomas Hunt Morgan Pada 1910, membuktikan bahwa kromosom merupakan pembawa gen.  Kromosom (bahasa Yunani: chroma, warna; dan soma, badan) merupakan struktur di dalam sel berupa deret panjang molekul yang terdiri dari satu molekul DNA dan berbagai protein terkait yang merupakan informasi genetik suatu organisme, seperti molekul kelima jenis histon dan faktor transkripsi yang terdapat pada beberapa deret, dan termasuk gen unsur regulator dan sekuens nukleotida. Kromosom yang berada di dalam nukleus sel eukariota, secara khusus disebut kromatin.
Dalam kromosom eukariota, DNA yang tidak terkondensasi berada dalam struktur order-quasi dalam nukleus, dimana ia membungkus histon, dan di mana material komposit ini disebut kromatin. Selama mitosis (pembelahan sel), kromosom terkondensasi dan disebut kromosom metafase. Hal ini menyebabkan masing-masing kromosom dapat diamati melalui mikroskop optik.Setiap kromosom memiliki dua lengan, yang pendek disebut lengan p (dari bahasa Perancis petit yang berarti kecil) dan lengan yang panjang lengan q (q mengikuti p dalam alfabet).
Prokariota tidak memiliki histon atau nukleus. Dalam keadaan santainya, DNA dapat diakses untuk transkripsi, regulasi, dan replikasi. Kromosom pertama kali diamati oleh Karl Wilhelm von Nägeli pada 1842 dan ciri-cirinya dijelaskan dengan detail oleh Walther Flemming pada 1882. Sedangkan Prinsip-prinsip klasik genetika merupakan pemikiran deduksi dari Gregor Mendel pada tahun 1865, yang banyak diabaikan orang hingga tahun 1902, Walter Sutton dan Theodor Boveri menemukan kesamaan antara perilaku kromosom saat meiosis dengan hukum Mendel dan menarik kesimpulan bahwa kromosom merupakan pembawa gen. Hasil penelitian keduanya dikenal sebagai teori Sutton-Boveri atau hipotesis Sutton-Boveri atau teori hereditas kromosom, yang menjadi kontroversi dan perdebatan para pakar kala itu.

2.    Sistem Penentuan Kelamin XY
Sistem penentuan kelamin XY adalah sistem penentuan kelamin yang dapat ditemui pada mamalia (termasuk manusia), dan beberapa serangga (Drosophila) serta beberapa tumbuhan (Ginkgo). Pada sistem penentuan seks XY, betina memiliki dua dari kromosom seks yang sama jenisnya (XX), dan disebut kelamin homogenik sedangkan jantan memiliki dua kromosom seks berbeda (XY), dan disebut kelamin heterogenik.
Sistem XY pada mamalia bertumpu pada satu gen dominan yang dimiliki oleh kromosom Y, yaitu SRY, yang berperan dalam pembentukan testis. Gen rangkai kelamin dapat dikelompok berdasarkan atas macam kromosom kelamin tempatnya berada. Oleh karena kromosom kelamin pada umumnya dapat dibedakan menjadi kromosom X dan Y, maka gen rangkai kelamin dapat menjadi gen rangkai X (X-linked genes) dan gen rangkai Y (Y-linked genes). Di samping itu, ada pula beberapa gen yang terletak pada kromosom X tetapi memiliki pasangan pada kromosom Y. Gen semacam ini dinamakan gen rangkai kelamin tak sempurna (incompletely sex-linked genes). Macam-macam cara pewarisan gen rangkai kelamin dan beberapa sistem penentuan jenis kelamin pada berbagai spesies organisme.

3.    Pewarisan dengan rangkaian
a.    Pewarisan Rangkai X
       Percobaan yang pertama kali mengungkapkan adanya peristiwa rangkai kelamin dilakukan oleh T.H Morgan pada tahun 1910. Dia menyilangkan lalat D. melanogaster jantan bermata putih dengan betina bermata merah. Lalat bermata merah lazim dianggap sebagai lalat normal atau tipe alami (wild type), sedang gen pengatur tipe alami, misalnya pengatur warna mata merah ini, dapat dilambangkan dengan tanda +. Biasanya, meskipun tidak selalu, gen tipe alami bersifat dominan terhadap alel mutannya.
       Hasil persilangan Morgan tersebut, khususnya pada generasi F1, ternyata berbeda jika tetua jantan yang digunakan adalah tipe alami (bermata merah) dan tetua betinanya bermata putih. Dengan perkataan lain, perkawinan resiprok menghasilkan keturunan yang berbeda. Persilangan resiprok dengan hasil yang berbeda ini memberikan petunjuk bahwa pewarisan warna mata pada Drosophila ada hubungannya dengan jenis kelamin, dan ternyata kemudian memang diketahui bahwa gen yang mengatur warna mata pada Drosophila terletak pada kromosom kelamin, dalam hal ini kromosom X. Oleh karena itu, gen pengatur warna mata ini dikatakan sebagai gen rangkai X. Pada Drosophila, dan juga beberapa spesies organisme lainnya, individu betina membawa dua buah kromosom X, yang dengan sendirinya homolog, sehingga gamet-gamet yang dihasilkannya akan mempunyai susunan gen yang sama. Oleh karena itu, individu betina ini dikatakan bersifat homogametik. Sebaliknya, individu jantan yang hanya membawa sebuah kromosom X akan menghasilkan dua macam gamet yang berbeda, yaitu gamet yang membawa kromosom X dan gamet yang membawa kromosom Y. Individu jantan ini dikatakan bersifat heterogametik.

b.      Rangkai X pada manusia
Salah satu contoh gen rangkai X pada manusia adalah gen resesif yang menyebabkan penyakit hemofilia, yaitu gangguan dalam proses pembekuan darah. Sebenarnya, kasus hemofilia telah dijumpai sejak lama di negara-negara Arab ketika beberapa anak laki-laki meninggal akibat perdarahan hebat setelah dikhitan. Namun, waktu itu kematian akibat perdarahan ini hanya dianggap sebagai takdir semata. 
Hemofilia baru menjadi terkenal dan dipelajari pola pewarisannya setelah beberapa anggota keluarga Kerajaan Inggris mengalaminya. Awalnya, salah seorang di antara putra Ratu Victoria menderita hemofilia sementara dua di antara putrinya karier atau heterozigot. Dari kedua putri yang heterozigot ini lahir tiga cucu laki-laki yang menderita hemofilia dan empat cucu wanita yang heterozigot. Melalui dua dari keempat cucu yang heterozigot inilah penyakit hemofilia tersebar di kalangan keluarga Kerajaan Rusia dan Spanyol. Sementara itu, anggota keluarga Kerajaan Inggris saat ini yang merupakan keturunan putra/putri normal Ratu Victoria bebas dari penyakit hemofilia.

4.    Teknik “Banding” ( teknik pembentukan jalur )
Dalam tahun 1970 Casperon dkk. Di Stockholm berhasil menciptakan teknnik baru yang amat berguna dalam pemeriksaa kromosom. Dikenal 3 macam teknik pemberian warna yang berbeda-beda, ialah:
1.    Metode Q
     Digunakan zat warna tertentu, yaitu quinacrine mustard, kemidian kromosom diperiksa dengan mikroskop ultraviolet. Beberapa daerah dari kromosom akan tampak terang, sedangkan daerah lainnya tampak gelap. Jadi krpmosom kelihatan seperti tersusun dari jalur-jalur ("band") melintang; jalur terang berseling dengan jalur gelap. Jalur-jalur tersebut dinamakan jalur Q. Jalur terang merupakan daerah heterokromatis, sedang jalur gelap adalah daerah eukromatis. Oleh karena tiap kromosom memiliki distribusi jalur yang berbeda-beda, maka klasifikasi kromosom menjadi lebih mudah dilakukan. Selain itu maka kromosom abnormal akan lebih mudah dikenal.
2.    Metode G
       Digunakan zat warna Giemsa pada Ph 9 dan tidak menggunakan sinar ultraviolet.  Jalur-jalur yang tampak melintang pada kromosom dinamakan jalur G.
3.    Metode R
     Asal dari kata "reverse", dilakukan denaturasi sel-sel sebelum pemberian warna. Hasil yang didapatkan merupakan kebalikan daripada kedua metode tersebut dimuka. Daerah yang tersusun atas eukromatin tampak terang, sedangkan daerah heterokromatin tampak gelap. Jalur- jalur yang diperoleh pada metode ini disebut Jalur R. Dari metode-metode tersebut diatas yang paling banyak digunakan ialah metode Q dan G.
Dengan ditemukannya teknik "banding" ini maka Konperensi Genetika Internasional di Paris dalam tahun 1971 telah memperkenalkan karyotipe manusia dalam bentuk baru.
5.    Gen-Gen yang Ekspresinya diubah Seks
Pada bahasan gen yang ekspresinya diubah oleh seks (sex influeced gene), akan dibicarakan gen-gen yang dalam memberikan eksprasinya pada fenotip dapat diubah oleh seks. Gen-gen ini dapat terletak pada autosom maupun pada kromosom kelamin.
Jika gen tersebut terdapat pada autosom, maka laki-laki dan perempuan dapat diharapkan akan dapat menerima gen tersebut dengan frekuensi yang sama, sehingga masing-masing seks mempunyai peluang yang sama besar untuk menunjukkan diwarisakannya gen tertentu.
Tetapi apabila gen itu terdapat pada kromosom X, maka kromosom tersebut akan diwariskan dengan menurut pola bersilang. Artinya gen yang terletak pada kromosom X itu tidak mungkin diwariskan oleh seorang ayah langsung kepada anak laki-lakinya. Ekspresi dari beberapa gen yang diketahui terletak di autosom dapat dibatasi atau dipengaruhi oleh seks dari seorang yang memilikinya.
1.    Ekspresi gen yang dibatasi oleh seks
Gen ini disebut Sex Limited Gene, merupakan gen yang hanya tampak pada jenis kelamin tertentu saja.Beberapa sifat yang dibatasi oleh seks dikenal, misalnya:
a.       Pembentukan payudara dan ovum serta kemampuan untuk sel telur pada perempuan
b.      Pembentukan kumis, prostat dan testes serta kemampuan untuk membentuk spermatozoa pada laki-laki
c.       Gen pengatur sifat kelamin sekunder. Hal ini hanya tampak pada jenis kelamin tertentu. Sifat kelamin sekunder pada pria, antara lain adanya kumis, jakun, suara besar. Sedangkan sifat kelamin sekunder pada wanita antara lain kulit halus, pinggul besar, dan suara tinggi.
Pada hewan dan tumbuh-tumbuhan pun dikenal beberapa peristiwa yang menunjukan bahwa ekspresi gen dibatasi oleh seks. Contohnya saja warna pada sayap kupu-kupu Semanggi. Kupu-kupu jantan selalu berwarna kuning, tetapi yang betina dapat berwarna kuning dan putih.
Warna putih dominan, tetapi hanya memperlihatkan diri pada kupu-kupu betina. Jika P merupakan gen untuk warna putih (pada kupu-kupu betina saja), sedangkan p untuk warna kuning, maka ekspresi gen yang dibatasi oleh seks itu sebagai berikut:
Genotip
Kupu-kupu jantan
Kupu-kupu betina
PP
Kuning
Putih
Pp
Kuning
Putih
Pp
Kuning
Kuning

2.    Ekspresi gen yang dipengaruhi oleh seks (sex influenced gene)
Banyak contoh sifat keturunan yang ditentukan oleh gen autosom ekspresinya dipengaruhi oleh seks. Sifat iru tampak pada kedua macam seks, tetapi pada salah saru seks ekspresinya lebih besar dari pada untuk seks lainnya. Perempuan misalnya, perempuan lebih sering menderita penyakit autoimun, tetapi sebaliknya laki-laki lebih sering berkepala botak dibandingkan dengan perempuan. Contoh ekspresi gen yang dipengaruhi oleh seks antara lain:
·         Kepala botak (Bald)
Kepala botak ini bukan akibat penyakit atau kekurangan gizi dalam makanan, tetapi benar-benar keturunan. Walaupun lazimnya kepala botak terdapat pada laki-laki, namun, sekali-kali dapat dilihat adanya perempuan dengan kepala botak.
   Biasanya, kepala botak baru dapat terlihat setelah orang berusia 30 tahun. Diwaktu kanak-kanak atau remajanya masih berambut normal. Pada awalnya, kepala botak dikira disebabkan oleh gen terangkai oleh kelamin seperti pada kasus buta warna.
   Akan tetapi, pada kenyataanya menunjukkan bahwa seorang ayah yang mempunyai kepala botak dapat mewariskannya secara langsung pada anak laki-lakinya, suatu hal yang tidah mungkin terjadi apabila gen yang menyebabkan terdapat dalam kromosom X. Andaikata gen itu terdapat dalam kromosom Y, maka dugaan itupun tidak dapat dibenarkan, mengingat bahwa ada perempuan yang berkepala botak.
   Jika gen B menentukan kepala botak dan alelnya resesif b menentukan kepala berambut normal, maka pengaruh jenis kelamin itu demikian rupa, sehingga gen B itu dominan pada laki-laki, tetapi resesif pada perempuan (bila heterozigotik). Ekspresi gennya sebagai berikut:
Genotip
Laki-laki
Perempuan
BB
Botak
Botak
Bb
Botak
Tidak botak
Bb
Tidak botak
Tidak botak
Jadi, jika seorang laki-laki berkepala botak kawin dengan seorang perempuan berkepala tidak botak (keduanya homozigot) maka semua anak laki-laki akan botak sedangkan semua anak perempuannya ridak botak.
·         Panjang jari telunjuk
   Apabila meletakkan tangan kita pada suatu alas dimana terdapat sebuah garis mendatar, sehingga sedemikian rupa sehingga ujung jari manis menyentuh garis tersebut, maka dapat diketahui apakah jari telunjuk kita lebih pendek ataukah lebih panjang daripada jari manis. Pada kebanyakan orang ujung jari telunjuk tidak akan mencapai garis itu, berarti bahwa jari telunjuk orang itu lebih pendek dari jari manis.Jari telunjuk pendek disebabkan oleh gen yang dominan pada orang lak-laki, tetapi resesif pada perempuan. Ekspresinya adalah sebagai berikut:
Genotip
Laki-laki
Perempuan
TT
Telunjuk pendek
Telunjuk pendek
Tt
Telunjuk pendek
Telunjuk panjang
Tt
Telunjuk panjang
Telunjuk panjang
Pewarisan sifat ini sama persis dengan pewarisan sifat pada kepala berambut botak yang telah diuraikan sebelumnya.


BAB III
PENUTUP

1.      Kesimpulan
Gen adalah bagian dari kromosom yang terletak berderet-deret secara teratur pada kromosom menurut Thomas Hunt Morgan Pada 1910, membuktikan bahwa kromosom merupakan pembawa gen. Kromosom adalah benda-benda halus berbentuk lurus seperti batang atau bengkok dan terdiri dari zat yang mudah mengikat zat warna.
Sistem XY pada mamalia bertumpu pada satu gen dominan yang dimiliki oleh kromosom Y, yaitu SRY, yang berperan dalam pembentukan testis. Gen rangkai kelamin dapat dikelompok berdasarkan atas macam kromosom kelamin tempatnya berada. Oleh karena kromosom kelamin pada umumnya dapat dibedakan menjadi kromosom X dan Y, maka gen rangkai kelamin dapat menjadi gen rangkai X (X-linked genes) dan gen rangkai Y (Y-linked genes).
Ekspresi dari beberapa gen yang diketahui terletak di autosom dapat dibatasi atau dipengaruhi oleh seks dari seorang yang memilikinya. Ekspresi gen yang dibatasi oleh seks disebut juga Sex Limited Gene, merupakan gen yang hanya tampak pada jenis kelamin tertentu saja.




Mutasi adalah perubahan materi genetik (gen atau kromosom) suatu sel yang diwariskan kepada keturunannya. Mutasi dapat disebabkan oleh kesalahan replikasi materi
genetika selama pembelahan sel oleh radiasi, bahan kimia (mutagen), atau virus, atau dapat terjadi selama proses meiosis. 

Terdapat dua jenis mutasi, yaitu

1. Mutasi gen (Point mutation)

Mutasi gen ialah perubahan kimiawi pada satu atau beberapa pasangan basa dalam satu gen tunggal yang menyebabkan perubahan sifat individu tanpa perubahan jumlah dan susunan kromosomnya. Mutasi gen dapat terjadi melalui berbagai cara, diantaranya :

Penggantian/substitusi pasangan basa; terjadi karena penggantian satu nukleotida dengan pasangannya di dalam untaian DNA komplementer dengan pasangan nukleotida lain. Contoh; anemia bulan sabit.
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhajTKiAxSWXVSy-UJHeNlBBDAuGpeyLnvo97EQs_MjiFlV2T5MVQROq1p2wni49j5h2nuSM2bF3B442m2sp-qyN2fAGSZ7ZpKhomLYYNG9YJSAUNXJrXasEH5bNRyOY6nXURnVIkrDuGU/s1600/mutasi1.jpg
Mutasi

Gambar 1. Mutasi yang terjadi karena adanya penggantian basa Timin oleh adenine sehingga terjadi penggantian satu tempat yaitu asam amino glutamat digantikan oleh valin. Mutasi ini menyebabkan hemoglobin bulan sabit (Sumber: Campbell I).
Insersi dan delesi; Insersi merupakan penyisipan atau penambahan satu atau lebih nukleotida ke dalam rantai polinukleotida. Delesi adalah pengurangan satu atau lebih pasangan nukleotida pada suatu gen saat replikasi DNA.

2. Mutasi Kromosom 

Mutasi kromosom adalah perubahan yang terjadi pada kromosom yang disertai dengan perubahan struktur dan jumlah kromosom. Mutasi kromosom dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu :
a). Perubahan struktur kromosom (aberasi kromosom).

Mutasi ini menyebabkan kerusakan (aberasi) pada bentuk kromosom, diantaranya:

1. Translokasi adalah pemindahan sebagian dari segmen kromosom ke kromosom lainnya yang bukan kromosom homolognya
2. Duplikasi terjadi karena adanya segmen kromosom yang mengakibatkan jumlah segmen kromosom lebih banyak dari kromosom aslinya. Berikut ini contoh duplikasi.
3. Delesi adalah mutasi yang terjadi karena sebagian segmen kromosom lenyap sehingga kromosom kekurangan segmen.
4. Inversi adalah mutasi yang terjadi karena selama meiosis kromosom terpilin dan terjadinya kiasma, sehingga terjadi perubahan letak/kedudukan gen-gen.
Description: http://st-n.pc1ads.com/i/logo/payclick-mini-goods.png
Advertisement

b). Perubahan Jumlah Kromosom

Mutasi yang terjadi ditandai dengan perubahan jumlah kromosom individual atau dalam jumlah perangkat kromosom. Euploid terjadi karena adanya penambahan atau pengurangan perangkat kromosom (genom). Contoh: haploid, diploid, triploid, tetraploid, poliploid dll. Aneuploid terjadi karena adanya perubahan salah satu kromosom dari genom individu Contoh; monosomik, Nullisomik Trisomik dan Tetrasomik

Mutasi Alami dan Mutasi Buatan
  1. Mutasi alam atau mutasi spontan biasanya terjadi karena kesalahan pemasangan basa pada waktu proses replikasi, perbaikan, atau rekombinasi DNA sehingga mengarah pada terjadinya substitusi, insersi atau delesi pasangan basa. Selain itu mutasi secara alami dapat terjadi karena radiasi radioaktif alam, sinar kosmis dan sinar ultraviolet.
  2. Mutasi buatan, yaitu mutasi yang ditimbulkan akibat campur tangan manusia (telah direncancanakan). Dengan memperlakukan sel menggunakan zat-zat kimia, sinar-X, sinar gamma, sinar alfa, dan beberapa jenis radiasi hasil sampingan tenaga nuklir

Implikasi Mutasi Alami dan Buatan

1. Sindrom Down, 

Sindrom Down terjadi karena ketidaknormalan pada kromosom autosom, sindrom ini terjadi karena adanya tiga kromosom pada kromosom no.21 (trisomi).

Ciri-ciri sindrom ini
- Kariotipe 47 XX atau 47XY.
- IQ rendah (± 40)
- Mata sipit, gigi keci-kecil dan jarang, liur selalu menetes, daya tahan terhadap penyakit menurun
- Mongolism, bertelapak tebal seperti telapak kera.
2. Sindrom Klinefelter,

Sindrom Klinefelter terjadi karena ketidaknormalan pada kromosom seks dan biasanya diderita oleh laki-laki.

Ciri-cirinya :
- mempunyai kelebihan kromosom seks-X, sehingga kariotipenya 47 XXY.
- Lelaki dengan testis kecil, gagal menghasilkan sperma.
- Rambut dada tidak tumbuh.
- Suara dan dada seperti wanita, memiliki tangan dan kaki yang panjang.
3. Sindrom Turner, 

Sindrom Turner terjadi karena ketidaknormalan pada kromosom seks yaitu adanya pengurangan satu kromosom seks dan biasanya diderita oleh wanita.

Ciri-cirinya :
- Hanya mempunyai satu kromosom seks, dengan kariotipenya 45X0.
- Perempuan mandul, bentuk kaki X, dada dan ovarium tidak berkembang.
- Tidak mengalami haid.
- Ukuran tubuh kecil, IQ rendah.

Selain merugikan beberapa mutasi dapat berguna bagi manusia, diantaranya :
  • Mutasi pada mikroorganisme dapat meningkatkan hasil antibiotika, misalnya mutan Penicillium penghasil antibiotik penisilin.
  • Meningkatkan hasil panen produksi pangan dengan membuat hasil panen poliploid dengan mutasi induksi.
  • Mutasi melalui radiasi menggunakan radioisotop dapat digunakan untuk memeriksa proses biologi, misalnya transfer elektron pada fotosintesis
Gen-gen yang dipengaruhi seks

Gen-gen yang dipengaruhi seks disebut dengan  Sex Influenced Gene, merupakan gen dominan yang biasanya memperlihatkan pengaruh sama pada semua jenis, tetapi ada gen-gen tertentu yang dipengaruhi oleh jenis kelamin.
Misalnya:

             1.  PADA MANUSIA

1.1.Gen Kepala Botak
Ada sifat-sifat tertentu yang terdapat pada laki-laki dan tidak terdapat pada perempuan , misalnya kebotakan. Kebotakan dapat disebabkan faktor eksternal seperti makanan dan gangguan penyakit pada kulit kepala. Namun dapat juga disebabkan oleh faktor genetik. Gen pembawa sifat botak adalah salah satu contoh gen yang dipengaruhi oleh jenis kelamin. Gen adalah faktor penentu yang menentukan sifat-sifat fisik makhluk hidup. Gen diturunkan oleh orang tua kepada anaknya.
Kebotakan sepintas menyerupai gen terpaut kromosom Y dalam pola pemindahannya. Akan tetapi, sebenarnya kebotakkan ditentukan oleh hormon-hormon seks yang ekspresinya dipengaruhi oleh gen-gen autosomal. Hal ini dikarenakan gen yang menyebabbkan kebotakkan merupakan gen autosomal dominan pada laki-laki dan gen gen autosomal resesif pada perempuan. Namun ekspresi gen-gen ini bergantung dari jenis kelamin. Oleh karenanya ekspresinya disebut sifat yang dipengaruhi seks.
Kepala botak akan nampak ketika sudah berumur sekitar 30 tahun. Pada kasus kepala botak, gen yang membawa sifat kepala botak ekspresinya dipengaruhi oleh jenis kelamin. Artinya orang yang membawa gen kepala botak tidak dengan sendirinya menjadi botak tergantung jenis kelaminnya. Kepala botak pada perempuan hanya terjadi bila si perempuan memiliki sepasang gen kepala botak yang didapat dari ayah dan ibunya. Sedangkan pada laki-laki akan botak cukup dengan satu gen saja.
Seorang laki-laki yang memilikipasangan gen BB dan Bb akan berkepala botak. Namun seorang perempuan baru akan botak bila memiliki pasangan gen BB. Jadi gen kepala botak (B) bersifat dominan pada laki-laki, sedangkan pada perempuan bersifat resesif (kalah dominan daripada gen b). Berikut ini tabel genotip dan fenotip kepala botak pada laki-laki dan perempuan.


Genotip
Fenotip
Laki-laki
Perempuan
BB
Botak
Botak
Bb
Botak
Tidak botak
bb
Tidak botak (normal)
Tidak botak (normal)

Jika seorang laki-laki botak dengan genotip Bb bila kawin dengan perempuan normal dengan genotip bb akan memiliki anak dengan peluang genotip Bb (50%) dan bb (50%), sehingga peluang anak laki-laki untuk botak adalah 50% dan anak perempuan botak 0 %. Peluang untuk kebotakan karena faktor genetik lebih besar pada laki-laki dibanding pada perempuan.



1.2.Gen Jari Telunjuk
Panjang jari telunjuk dibandingkan dengan jari manis merupakan gen yang dipengaruhi oleh jenis kelamin. Cara penurunan gen ini sama dengan cara penurunan gen kepala botak. Jika kita meletakkan tangan diatas kertas yang telah diberi garis, sehingga ujung jari manis kita menyentuh garis tersebut, maka akan diketahui apakah jari telunjuk kita lebih pendek atau lebih panjang dari jari manis.
Biasanya gen dominan tersebut memperlihatkan pengaruhnya pada individu laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi, dalam keadaan homozigotik resesif, pengaruh dominan itu tidak akan menampakkan diri dalam fenotip. Jari telunjuk pendek disebabkan oleh gen yang dominan pada orang laki-laki (genotip TT atau Tt),dan telunjuk panjang itu gen resesifnya (genotipnya tt),  tetapi pada perempuan telunjuk pendek itu genotipnya hanya TT sedangkan telunjuk panjang genotipnya Tt atau tt
Beikut ini tabel tabel genotip dan fenotip jari telunjuk pendek pada laki-laki dan perempuan.

Genotip
Fenotip
Laki-laki
Perempuan
TT
Telunjuk pendek
Telunjuk pendek
Tt
Telunjuk pendek
Telunjuk panjang
tt
Telunjuk panjang
Telunjuk panjang

Perbandingan panjang antara jari telunjuk dan jari manis berhubungan dengan kondisi hormonal saat berada dalam kandungan dan tentunya akan mempengaruhi kepribadian seseorang saat tumbuh dewasa. Penelitian di Concordia University menemukan bahwa panjang jari-jari tangan ditentukan sejak janin di dalam kandungan dan dipengaruhi oleh paparan hormon estrogen dan testosteron. Hormon seks pria, testosteron, memengaruhi panjang jari manis dan hormon estrogen memengaruhi panjang jari telunjuk.

2.      PADA HEWAN
2.1.Gen Pembetukan Tanduk Pada Domba
Gen autosomal H yang mengatur pembentukan tanduk pada domba akan bersifat dominan pada individu jantan tetapi resesif pada individu betina. Sebaliknya, alelnya h, bersifat dominan pada domba betina tetapi resesif pada domba jantan. Oleh karena itu, untuk dapat bertanduk domba betina harus mempunyai dua gen H (homozigot) sementara domba jantan cukup dengan satu gen H (heterozigot).

Tabel  ekspresi gen terpengaruh kelamin pada domba
Genotip
Fenotip Domba Jantan
Fenotip Domba Betina
HH
Bertanduk
Bertanduk
Hh
Bertanduk
Tidak bertanduk
hh
Tidak bertanduk
Tidak bertanduk






























EN-GEN YANG DIPENGARUHI JENIS KELAMIN (SEX INFLUENCED GENES)
Ade Liani Fauziah
FTK-MIPA  Universitas Islam Negeri  (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung
Jurusan Pendidikan Biologi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati, Bandung
Jl. A.H. Nasution No.105 Bandung 40614
e-mail: adelianifauziah88@gmail.com
Abstrak. Gen merupakan substansi hereditas yang menentukan sifat individu. Ekspresi dari beberapa gen yang diketahui di autosom dapat dibatasi atau dipengaruhi oleh seks yakni sifat tampak pada kedua jenis kelamin, tetapi pada salah satu jenis kelamin ekspresinya lebih besar daripada jenis kelamin lainnya. Pengamatan dengan membandingkan panjang jari telunjuk dnegan jari manis, data menunjukkan lebih banyak yang berjari telunjuk pendek daripada yang berjari telunjuk panjang. Pada genotip homozigot dominan baik laki-laki atau perempuan mengeksresikan sifat berjari telunjuk pendek, ketika homozigot resesif menunjukkan sifat berjari telunjuk panjang sedangkan ketika heterozigot pada laki-laki berfenotip pendek namun pada perempuan berfenotip panjang. Salah satu penyebab perbedaan ukuran jari adalah hormon seks yakni testosteron dan estrogen, hormon ini akan mempengaruhi kerja dua buah gen yaitu HOXA dan HOXD yang berperan dalam mengendalikan panjang jari seseorang. 
Kata Kunci : Gen,  jenis kelamin,  jari telunjuk,  genotip,  fenotip
PENDAHULUAN
          Beberapa sifat keturunan yang ditentukan oleh gen autosomal ada yang ekspresinya dipengaruhi oleh jenis kelamin (sex). Sifat tersebut dapat tampak pada kedua jenis kelamin tetapi pada salah satu jenis kelamin ekspresinya lebih besar dibandingkan jenis kelamin lainnya. Kepala botak, panjang jari merupakan contoh dari kasus sifat yang disebabkan gen-gen yang dipengaruhi jenis kelamin. Pada laki-laki, jari telunjuk yang lebih pendek daripada jari manis ditunjukkan oleh gen dominan, sedangkan pada perempuan untuk kasus yang sama ditentukan oleh gen resesif (Tim Pendidikan Biologi: 2017). Kegiatan gen itu menjadi sebagai berikut (Suryo, 2010)  :


Genotip
Laki-laki
Perempuan
TT
Telujuk Pendek
Telujuk Pendek
Tt
Telujuk Pendek
Telujuk Panjang
tt
Telujuk Panjang
Telujuk Panjang
          Telah diketahui bahwa individu itu memiliki dua macam kromosom, yaitu autosom dan seks kromosom. Oleh karena individu betina dan jantan biasanya mempunyai autosom yang sama, maka sifat keturunan yang ditentukan oleh gen pada autosom diwariskan dari orang tua kepada anak-anaknya tanpa membedakan seks (Suryo, 2005).
          Walaupun banyak perbedaan anatomis dan fisiologis antara perempuan dan laki-laki, dasar kromosomal penentuan jenis kelamin cukup sederhana. Pada manusia dan mamalia lain, ada dua macam kromosom seks, disimbolkan X dan Y. Kromosom Y jauh lebih kecil daripada kromosom X. Seseorang yang mewarisi dua kromosom X, satu dari masing-masing orang tua, biasanya berkembang menjadi perempuan. Laki-laki berkembang dari zigot yang mengandung kromosom X dan satu kromosom Y  (Campbell, et.al., 2008).
            Apabila kita meletakkan tangan kanan atau kiri pada suatu alat dimana terdapat sebuah garis mendatar yang sedemikian rupa sehingga ujung jari manis menyentuh garis tersebut, maka dapat kita katahui apakah jari telunjuk kita akan lebih panjang atau lebih pendek dari jari manis. Pada kebanyakan orang, jari telunjuk tidak akan mencapai garis itu, berarti bahwa jari telunjuk lebih pendek dari jari manis. Jari telunjuk lebih pendek disebabkan oleh gen yang dominan pada laki-laki dan resesif pada perempuan (Suryo, 2005).
            Gen yang dipengaruhi oleh jenis kelamin adalah gen autosomal yang membedakan antara laki-laki dan perempuan karena dipengaruhi factor lingkungan internal yakni perbedaan kadar hormon kelamin antara laki-laki dan perempuan. Sifat yang diturunkan oleh gen dikenal sebagai sifat (karakter) menurun yang dipengaruhi oleh jenis kelamin. Salah satu contoh sifat menurun pada manusia yang dipengaruhi oleh jenis kelamin adalah panjang jari telunjuk (Agus dan Sjafaraenan, 2013).
          Pada dasarnya, ukuran jari manusia sudah terbentuk sejak individu dalam kandungan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ukuran jari, salah satunya adalah hormon seks yaitu testosteron dan estrogen. Salah satu faktor yang mempengaruhi ukuran jari ini adalah hormon seks prenatal yaitu testosteron dan estrogen. Hormon ini akan mempengaruhi kerja dua buah gen yaitu HOXA dan HOXD yang berperan dalam mengendalikan panjang jari seseorang. Kadar testosteron atau androgen yang rendah, estrogen prenatal tinggi biasanya akan menyebabkan jari telunjuk yang lebih panjang daripada jari manis atau sebaliknya kadar testosteron atau androgen yang tinggi dan estrogen prenatal rendah, menyebabkan jari telunjuk lebih pendek daripada jari manis (Purwaningsih, 2016).
          Suatu penelitian menyebutkan bahwa panjang jari dipengaruhi kadar testosteron ketika bayi masih dalam kandungan, namun panjang pendeknya jari telunjuk 70% adalah pengaruh gen. Jadi faktor genetik lebih berpengaruh dalam menentukan panjang jari daripada faktor hormon. Ukuran jari telunjuk dan jari manis sudah terbentuk sebelum seseorang dilahirkan dan tidak akan berubah sepanjang hidupnya. (Widianti, 2014). Tujuan penelitian ini adalah mahasiswa diharapkan dapat membuktikan adanya pola ekspresi yang dipengaruhi jenis kelamin (Tim Pendidikan Biologi, 2017).
BAHAN DAN METODE
            Pengamatan gen-gen yang dipengaruhi jenis kelamin telah dilaksanakan dilakukan penelitian terhadap manusia, adapun sampel yang digunakan yakni tangan kanan dan kiri dari anggota kelompok 4 mata kuliah Genetika Pendidikan Biologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung semester VI kelas A yang beranggotakan 6 orang, yakni : Ade Liani F (P), Agung Pratama (L), Cecep M.F.(L), Desi U. (P), Harista M. (P) dan Yeti N. (P) . Data dan informasi yang diperoleh yakni dengan menggunakan metode eksplorasi, dimana dilakukan pengamatan secara langsung pada sampel terkait panjang jari telunjuk yang dibandingkan dengan jari manis. Alat dan bahan yang digunakan pada proses penelitian adalah tangan kanan dan kiri dari masing-masing anggota, kertas HVS, penggaris dan pensil . Cara pengambilan data yakni dengan menggambar tangan masing-masing anggota di kertas HVS yang disediakan dengan menggunakan pensil. Ketika tangan akan digambar hendaknya pada ujung jari manis diberi garis horizontal sebagai tanda ukuran panjang jari manis, lalu gambar tangan beserta bagian jari-jarinya, kemudian perhatikan panjang jari telunjuk lalu dibandingkan denan panjang jari manis. Apabila ujung jari telunjuk berada di bawah garis horizontal yang sebelumnya digambar berarti telunjuk memiliki ukuran yang lebih pendek, sedangkan apabila jari telunjuk melewati garis horizontal berarti jari telunjuk memiliki ukuran yang lebih panjang dibandingkan dengan jari manis. Gambar keseluruhan tangan kanan dan kiri masing-masing anggota kelompok pada kertas, catat dan dokumentasikan hasil pengamatan. Kemudian tentukan genotip dari masing-masing sampel.
HASIL
Tabel 1. Hasil Pengamatan Genotip dan Fenotip Gen yang Dipengaruhi Jenis kelamin
No.
Nama
L/P
Genotip
Tangan Kanan
Tangan Kiri
Genotip
Keterangan
Genotip
Keterangan
1
Ade Liani F.
P
LL
Telunjuk Pendek
LL
Telunjuk Pendek
2
Agung Pratama
L
LL
Telunjuk Pendek
LL
Telunjuk Pendek
3
Cecep M.F.
L
ll
Telunjuk Panjang
ll
Telunjuk Panjang
4
Desi Urbatul A.
P
Ll
Telunjuk Panjang
Ll
Telunjuk Panjang
5
Harista Mulyani
P
LL
Telunjuk Pendek
LL
Telunjuk Pendek
6
Yeti N.
P
LL
Telunjuk Pendek
LL
Telunjuk Pendek

PEMBAHASAN
            Gen merupakan substansi hereditas yang terdiri atas senyawa kimia tertentu yang menentukan sifat individu. Sifat yang dimiliki makhluk hidup ada yang dapat diturunkan dan adapula yang tidak dapat diturunkan.  Jika gen terletak pada autosom, maka laki-laki dan perempuan dapat diharapkan menerima gen dengan kemungkinan frekuensi yang sama. Tetapi jika gen itu terdapat pada kromosom seks, maka kromosom tersebut akan diwariskan menurut pola bersilang. Ekspresi dari beberapa gen yang diketahui di autosom dapat dibatasi atau dipengaruhi oleh seks dari seseorang yang memilikinya. Ekspresi gen yang dibatasi oleh seks yakni ekspresi gen yang hanya tampak pada jenis kelamin tertentu saja, contohnya pembentukan payudara dan ovum pada sel telur betina atau pembentukan kumis dan spermatozoa oleh sel jantan. Sedangkan untuk ekspresi gen yang dipengaruhi oleh seks, sifat tampak pada kedua macam seks, tetapi pada salah satu seks ekspresinya lebih besar daripada seks lainnya.
            Pada penelitian terkait gen-gen yang dipengaruhi oleh jenis kelamin. Gen yang dipengaruhi jenis kelamin adalah gen yang memperlihatkan perbedaan ekspresi antara individu jantan dan betina akibat pengaruh hormon kelamin.  Pada pengamatan dilakukan pengamatan pada panjang pendeknya jari telunjuk. Dimana jari telunjuk yang dikatakan panjang jika ukurannya lebih panjang dari jari manis, begitu juga sebaliknya jika ukuran jari telunjuk lebih pendek dari jari manis maka dikatakan jari telunjuk pendek. Sifat panjang pendeknya jari telunjuk merupakan salah satu contoh pewarisan sifat dari gen-gen yang dipengaruhi jenis kelamin atau sex influenced genes.
            Pada proses pengamatan terlebih dahulu digambar sebuah garis horizontal, kemudian tangan diletakan pada kertas HVS ujung jari manis agar menyentuh sejajar dengan garis tersebut. Maka dapat diketahui, apabila jari telunjuk akan lebih panjang ataukah lebih pendek, pada kebanyakan orang ujung jari telunjuk tidak akan mencapai garis, berarti menunjukkan jari telunjuk lebih pendek dari jari manis (Suryo, 2010).
            Berdasarkan hasil pengamatan ang telah dilakukan dengan menggambar tangan kanan dan kiri anggota kelompok 4 mata kuliah Genetika Pendidikan Biologi semester VI kelas A, diperoleh hasil yang bervariasi. Dari enam orang yang diamati terdiri dari dua sampel berjenis kelamin laki-laki dan empat sampel berjenis kelamin perempuan.  Jenis kelamin ditentukan oleh kromosom, ada kromosom yang berperan dalam menentukan jenis kelamin yakni kromosom kelamin atau gonosom. Sedangkan kromosom yang tidak menentukan jenis kelamin disebut dengan autosom. Pewarisan sifat dari induk ke keturunannya ditentukan oleh autosom tanpa membedakan jenis kelamin (selain gen terangkai kelamin).
            Berdasarkan hasil pengamatan pada sampel berjenis kelamin perempuan diperoleh hasil, tiga orang dari empat orang memiliki jari telunjuk yang pendek, hal ini dibuktikan dengan hasil pengamatan yang menunjukkan tidak sampainya ujung jari telunjuk pada garis yang telah digambarkan yang garis tersebut merupakan patokan dari ukuran panjangnya jari manis, dari ketiga sampel yakni : Ade Liani F., Harista Muyani dan Yeti N. menunjukkan fenotip jari telunjuk pendek dengan genotip LL. Menurut Suryo (2010) mengatakan  Fenotip merupakan sifat keturunan yang dapat kita amati, sedangkan genotip sendiri merupakan sifat dasar yang tidak nampak dan tetap (tidak berubah karena lingkungan) pada suatu individu.
            Sedangkan untuk satu orang lainnya yakni Desi Urbatul diperoleh hasil yang menunjukkan sampel memiliki jari telunjuk yang panjang, hal ini dibuktikan dengan terlewatinya garis horizontal yang telah digambar sebelumnya (garis patokan ujung jari manis), dari hasil  tersebut menunjukkan bahwa Desi Urbatul memiliki fenotip jari telunjuk yang panjang dengan genotip Ll, genotip yang digunakan merupakan genotip yang menunjukkan fenotip panjang namun genotip heterozigot, hal ini didasarkan karena walaupun jari telunjuk dari sampel memiliki ukuran yang lebih panjang dari jari manis, namun tidak memiliki perbedaan yang jauh / perbedaan panjangnya tipis.
            Pada hasil pengamatan lainnya yakni pada sampel anggota yang berjenis kelamin laki-laki, ditemukan satu orang dari dua orang sampel yang memperoleh hasil jari telunjuk pendek, ditandai dengan tidak tercapainya jari telunjuk terhadap garis horizontal tanda ujung jari manis. Adapun hasil yang diperoleh sama antara tangan kanan dan tangan kiri, yakni diperoleh hasil fenotip jari telunjuk yang pendek dengen genotip LL. Sedangkan satu orang lainnya menunjukkan hasil kebalikannya yakni pada sampel atas nama Cecep memiliki jari telunjuk yang panjang hal ini ditandai dengan terlewatinya garis horizontal yang dijadikan patokan ujung jari manis untuk menentukan panjang pendeknya jari telunjuk pada proses pengamatan, hasil yang diperoleh pada sampel Cecep yakni fenotip jari telunjuk panjang dengan genotip ll (homozigot resesif).
            Berdasarkan hasil pengamatan dari keenam sampel diperoleh data yang berbeda-beda antara laki-laki dan perempuan. Pada perempuan yang memiliki jari telunjuk pendek (LL) lebih banyak daripada yang memiliki jari telunjuk yang panjang (Ll). Sedangkan pada sampel berjenis kelamin laki-laki yang memiliki jari telunjuk yang pendek (LL) berjumlah sama dengan yang memiliki jari telunjuk panjang (ll).  Dari hasil pengamatan perlu diperhatikan perbedaan fenotip dan genotip antara yang ditunjukan antara laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki genotip LL dan Ll akan mengekspresikan sifat bertelunjuk pendek, sebaliknya genotip ll akan mengekspresikan sifat bertelunjuk panjang. Sedangkan pada perempuan, genotip LL akan mengekspresikan fenotip berjari telunjuk pendek sedangkan pada genotip Ll dan ll akan mengekspresikan sifat telunjuk panjang.
            Pada saat genotip homozigot dominan keduanya menunjukkan fenotip yang pendek baik pada laki-laki ataupun perempuan sebaliknya jika genotip menunjukkan homozigot resesif akan mengekspresikan fenotip berjari telunjuk panjang. Menurut Hartati (2009) mengatakan bahwa biasanya gen dominan memperlihatkan pengaruhnya pada individu laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi, dalam keadaan homozigot resesif pengaruh dominan itu tidak akan menampakkan diri dalam fenotip. Namun perbedaanya yakni jika ditemui individu yang memiliki genotip heterozigot dimana terdapat alel dominan dan alel resesif, ekspresi yang dihasilkan dari genotip tersebut berbeda antara laki-laki dan perempuan. Dimana pada laki-laki gen dominan yang menunjukkan pendek lebih berpengaruh sehingga pada saat genotip menunjukkan heterozigot (Ll) fenotip yang dihasilkan adalah berjari telunjuk pendek, namun pada perempuan pada saat genotip menunjukkan heterozigot, maka gen resesif lebih berperan dalam mengekspresikan sifat berupa berjari telunjuk panjang.
            Pada seluruh sampel menunjukkan tidak terdapat perbedaan hasil pengamatan pada tangan kanan dengan tangan kiri, yakni menunjukkan hasil yang sama antara tangan kanan dengan tangan kiri. Menurut Fatati (2015) mengatakan bahwa setelah dilakukan pengukuran terhadap panjang jari pada tangan kanan dan kiri ternyata tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara panjang tulang eksrimitas sebelah  kanan ataupun kiri.
            Pada dasarnya, ukuran jari manusia sudah terbentuk sejak individu dalam kandungan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ukuran jari, salah satunya adalah hormon seks yaitu testosteron dan estrogen. Salah satu faktor yang mempengaruhi ukuran jari ini adalah hormon seks prenatal yaitu testosteron dan estrogen. Hormon ini akan mempengaruhi kerja dua buah gen yaitu HOXA dan HOXD yang berperan dalam mengendalikan panjang jari seseorang. Kadar testosteron atau androgen yang rendah, estrogen prenatal tinggi biasanya akan menyebabkan jari telunjuk yang lebih panjang daripada jari manis atau sebaliknya kadar testosteron atau androgen yang tinggi dan estrogen prenatal rendah, menyebabkan jari telunjuk lebih pendek daripada jari manis (Purwaningsih, 2016).
            Kadar testosteron yang tinggi akan mendukung perkembangan otak yang berhubungan dengan kemampuan matematika dan pandang ruang, hormon itu pula yang menyebabkan jari manis tumbuh lebih panjang. Estrogen juga mendorong efek yang sama pada bagian otak namun yang berhubungan dengan kemampuanverbal, namun hormone ini juga mendukung pertumbuhan jari telunjuk sehingga lebih panjang dari jari manis.
            Jika mengacu berdasarkan literatur berarti pada keempat sampel yang memiliki jari telunjuk lebih pendek daripada jari manis, berarti menunjukkan pada sampel yang berjenis kelamin perempuan memilki kadar hormon estrogen yang rendah pada saat berada dalam kandungan yang mnyebabkan pertumbuhan jari tidak lebih panjang dari jari manis, namun pada sampel laki-laki yang berfenotip memiliki jari telunjuk yang lebih pendek dari jari manis menandakan memiliki kadar hormon testosteron yang tinggi pada saat berada dalam kandungan karena hormon testosteron merupakan salah satu faktor yang menyebabkan jari manis tumbuh lebih panjang. Sedangkan pada sampel yang menunjukkan jari telunjuk lebih panjang daripada jari manis menunjukkan bahwa pada sampel perempuan, individu tersebut memiliki kadar hormon estrogen yang tinggi sehingga mendukung pertumbuhan jari telunjuk sehingga lebih panjang dari jari manis. Adapun untuk sampel laki-laki yang bertelunjuk panjang menunjukkan bahwa individu tersebut memiliki kadar testosteron yang kurang tinggi sehingga jari manis tidak tumbuh lebih panjang daripada jari telunjuk. Adanya perbedaan genotip pada setiap orang dan adanya peranan gen dimana terjadi aliran informasi genetika yang terdapat dalam setiap sel makhluk hidup yang dikemas dalam suatu bentuk materi genetik yang dikenal sebagai DNA. Kode genetik di dalam DNA menentukan bagaimana protein tersusun, proses ekspresi gen merupakan aspek yag fundamental dalam setiap organisme.



Postingan populer dari blog ini

PENGENDALIAN MIKROBA

ZAT ADIKTIF MAKANAN