Penilaian berbasis masalah (pbl)
Problem Based Learning
(PBL) adalah suatu model pembelajaran
yang
pada mulanya dikembangkan untuk pembelajaran biologi medis pada
tahun
1980-an (Waterman, 1998). Woods (1996) menyatakan bahwa PBL
merupakan
salah satu pilihan model pembelajaran yang paling menarik dan
berdaya
guna selama lebih dari 30 tahun terakhir, terutama dalam bidang
kedokteran.
PBL saat ini telah diterapkan pada berbagai
bidang kajian. Melalui
model
PBL, peserta didik diharapkan memiliki keterampilan memecahkan
masalah
untuk dapat berperan aktif di masa depan secara global, mampu
mengembangkan
kemampuan dan karakter-karakter seperti berpikir kritis,
berpikir
kreatif, pemecah masalah, gemar bekerja sama, terampil mengatur
waktu,
bertanggung jawab terhadap proses pembelajarannya sendiri
(kemampuan
metakognisi), bekerja dalam kerangka multi disiplin, berjiwa
kepemimpinan
tinggi, bertanggung jawab, beretika, berani mengambilan
keputusan,
dan sikap atau karakter positif lainnya. Dari berbagai hasil
penelitian,
menunjukkan bahwa model Problem Based Learning mempunyai
potensi
dapat memenuhi harapan terbentuknya sebagian besar keterampilan
atau
kemampuan, karakter atau sikap yang diperlukan peserta didik dan
berperan
aktif di masa depan.
1.
Pengertian Problem Based Learning (PBL)
Terdapat
berbagai definisi dari PBL, beberapa diantaranya akan
dikemukakan
lebih lanjut. Torp dan Sage (2002) mendefinisikan PBL sebagai
pembelajaran
yang terfokus, terorganisasi dalam penyelidikan dan penemuan
masalah-masalah
nyata. Peserta didik ditantang sebagai penemu masalah
dan
pencari akar masalah. Untuk kepentingan tersebut, situasi dan kondisi
pembelajaran
sedapat mungkin menunjang kegiatan peserta didik dalam
proses
menjadi pebelajar mandiri.
Sonmez
dan Lee (2003) mendefinisikan PBL sebagai model pembelajaran
yang
menantang peserta didik untuk mencari pemecahan masalah dalam
dunia
nyata (permasalahan ‘terbuka’), secara mandiri atau dalam kelompok.
PBL
menantang peserta didik untuk mengembangkan ketrampilan menjadi
pebelajar
mandiri. Permasalahan dapat dipilih dari eksploitasi keingintahuan
peserta
didik terhadap fenomena-fenomena dalam kehidupan sehari-hari
peserta
didik, dengan menekankan pada penggunaan ketrampilan berpikir
kritis
dan berpikir analitik.
Savery
(2006) menyatakan bahwa PBL adalah model yang menekankan
pada
pembelajaran berbasis student-centered, yang dapat memberdayakan
peserta
didik untuk melakukan penyelidikan, mengintegrasikan teori dan
praktik,
menerapkan pengetahuan dan ketrampilannya untuk mengembangkan
penemuan
solusi atau pemecahan terhadap masalah tertentu. Ciri khas
PBL
adalah bahwa guru bertindak sebagai fasilitator pembelajaran, adanya
tanggung
jawab peserta didik untuk menjadi pebelajar mandiri dan pengarah
diri
sendiri dalam pembelajaran, dan adanya elemen-elemen penting dalam
desain
permasalahan yang ill-structured (tidak tentu) sebagai tenaga
pendorong
untuk melakukan inkuiri (Gallagher, dkk, 1995).
PBL
didefinisikan oleh Hmelo-Silver (2004) sebagai model pembelajaran
di
mana peserta didik difasilitasi untuk belajar menemukan masalah dalam
situasi
permasalahan yang kompleks atau ill-structured problem, yang tidak
hanya
mempunyai satu macam solusi. Dalam model ini, peserta didik bekerja
berkelompok
secara kolaboratif untuk mengidentifikasi hal-hal yang mereka
perlukan
untuk belajar guna memecahkan masalah, mengarahkan belajar
mandiri,
mengaplikasikan pengetahuan baru mereka untuk permasalahan
itu,
serta merefleksi apa yang telah mereka pelajari dan keefektifan strategi
yang
telah mereka gunakan.
De
Gallow (2001) mendeskripsikan PBL sebagai bentuk studentcenteredLearning,
ialah
bentuk pembelajaran di mana setiap peserta didik
memeroleh
kesempatan belajar yang relevan dengan kebutuhan belajarnya.
Bentuk
pembelajaran yang demikian bukan berarti guru harus mengerti
semua
materi untuk diberikan kepada peserta didik dengan berbagai
kepentingan,
kebutuhan, dan karakteristiknya, melainkan lebih sebagai tutor
yang
menunjukkan apa yang telah peserta didik ketahui, apa yang belum,
dan
apa yang semestinya dicari, yang merupakan tanggung jawab masingmasing
peserta
didik. Pemberian tugas dan aktivitas yang menantang dan
menuntut
pemikiran peserta didik akan dapat meningkatkan motivasi peserta
didik
untuk belajar mencari, menganalisis, dan menentukan jawaban terkait
tugas
dan aktivitas itu.
Sockalingam
dan Schmidt (2011) menjelaskan bahwa PBL didasarkan
pada
prinsip bahwa peserta didik tidak hanya memeroleh pengetahuan
tetapi
juga bahwa mereka tahu bagaimana menerapkan pengetahuan ini
dalam
situasi nyata. Pada pembelajaran PBL, peserta didik membahas dan
menganalisis
masalah dalam kelompok. Hal ini menyebabkan beberapa isu
atau
topik membutuhkan eksplorasi. Peserta didik kemudian menggunakan isu
atau
topik yang belum terselesaikan sebagai pedoman untuk mengarahkan
kegiatan
belajar mereka.
Arends
(2008) menjelaskan ciri-ciri PBL seperti berikut ini.
a.
Mengajukan pertanyaan atau masalah
PBL
mengorganisasikan pertanyaan dan masalah yang penting secara
sosial
dan secara pribadi bermakna bagi peserta didik. Pertanyaan dan
masalah
tersebut hendaknya terkait dengan situasi kehidupan nyata,
diupayakan
mengindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya
berbagai
macam solusi untuk pertanyaan dan masalah tersebut.
b.
Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
Masalah
aktual hendaknya dipilih untuk dikaji pemecahannya, yang dapat
ditinjau
dari berbagai segi, meskipun PBL berpusat pada mata pelajaran
tertentu
(seperti IPA, matematika, atau IPS). Sebagai contoh, masalah
pencemaran,
dapat ditinjau dari segi biologi, ekonomi, kesehatan, sosial,
dan
sebagainya.
c.
Penyelidikan autentik
PBL
menghendaki peserta didik melakukan penyelidikan autentik untuk
mencari
penyelesaian masalah yang nyata. Peserta didik hendaknya
menganalisis
dan menentukan masalah, mengembangkan hipotesis
dan
membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi,
melakukan
eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi dan
merumuskan
kesimpulan. Model yang digunakan tergantung pada
masalah
yang sedang dikaji.
d.
Menghasilkan dan memamerkan produk atau hasil karya
PBL
menuntut peserta didik untuk menghasilkan produk tertentu dalam
berbagai
alternatif bentuk seperti presentasi laporan, transkrip debat,
model
fisik, video, program komputer, atau yang lain. Produk tersebut
bertujuan
untuk menunjukkan apa yang telah dilakukan peserta didik
pada
peserta didik-peserta didik yang lain.
e.
Kerja sama
PBL
juga dicirikan oleh adanya kerja sama antar peserta didik, dalam
bentuk
berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bekerja sama antar
peserta
didik dapat memberikan motivasi untuk bekerja bersama dalam
tugas-tugas
yang lebih kompleks dan meningkatkan peluang untuk
berbagi
inkuiri dan berdialog untuk mengembangkan keterampilan sosial.
2. Dukungan Problem
Based Learning
a.
Dukungan PBL secara teoritis
PBL
tidak banyak berfokus pada apa yang dikerjakan peserta didik
(perilaku
peserta didik) tetapi pada apa yang mereka pikirkan (kognisi
mereka)
selama mereka mengerjakannya. Arends (2008) melacaknya dari
tiga
aliran pikiran teori belajar, yaitu Dewey dan kelas berorientasi masalah;
Piaget,
Vygotsky, dan konstruktivisme; dan Bruner dan discovery learning.
1).
Dewey dan kelas berorientasi masalah
Menurut
Arends (2008), PBL berakar dari gagasan Dewey tentang
pendidikan,
bahwa sekolah mestinya mencerminkan masyarakat yang
lebih
besar dan kelas merupakan laboratorium untuk memecahkan
masalah
kehidupan nyata. Dewey menganjurkan kepada guru untuk
mendorong
peserta didik terlibat dalam proyek atau tugas berorientasi
masalah
dan membantu mereka menyelidiki masalah-masalah intelektual
dan
sosial. Pembelajaran di sekolah seharusnya memiliki manfaat yang
jelas
dan tidak abstrak saja dan pembelajaran yang memiliki manfaat
terbaik
dapat dilakukan oleh peserta didik dalam kelompok-kelompok
kecil
untuk menyelesaikan proyek yang menarik yang merupakan pilihan
mereka
sendiri. Visi dari pembelajaran adalah yang bermanfaat nyata
dan
berpusat pada peserta didik, didukung keingintahuan peserta didik
untuk
mengeksplorasi situasi yang berarti bagi peserta didik.
2).
Piaget, Vygotsky, dan konstruktivisme
Arends
(2008) juga menjelaskan bahwa PBL dilandasi oleh konsep
konstruktivisme
yang dikembangkan Jean Piaget dan Lev Vygotsky.
Dalam
penjelasannya tentang bagaimana perkembangan intelektual pada
anak
kecil, Piaget menegaskan bahwa anak memiliki rasa ingin tahu
bawaan
dan secara terus-menerus berusaha ingin memahami dunia
di
sekitarnya. Rasa ingin tahu ini, menurut Piaget dapat memotivasi
mereka
untuk secara aktif membangun tampilan dalam otak mereka
mengenai
lingkungan yang mereka hayati. Pada saat mereka tumbuh
semakin
dewasa dan memeroleh lebih banyak kemampuan bahasa
dan
memori, tampilan mental mereka tentang dunia menjadi lebih luas
dan
lebih abstrak. Sementara itu pada semua tahap perkembangan,
anak
perlu memahami lingkungan mereka dan memotivasinya untuk
menyelidiki
dan membangun teori-teori yang menjelaskan lingkungan
itu.
Di atas pandangan konstruktivis-kognitif inilah PBL dikembangkan.
Pandangan
ini lebih lanjut mengemukakan bahwa peserta didik dalam
segala
usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan
membangun
pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan tidak statis
namun
secara terus menerus tumbuh dan berubah pada saat peserta
didik
menghadapi pengalaman baru yang memaksa mereka membangun
dan
memodifikasi pengetahuan awal mereka. Menurut Piaget, pedagogi
yang
baik harus melibatkan anak dengan situasi-situasi di mana anak
secara
mandiri melakukan eksperimen, dalam arti mencoba segala
sesuatu
untuk melihat apa yang terjadi, memanipulasi tanda atau
simbol,
mengajukan pertanyaan dan menemukan sendiri jawabannya,
mencocokkan
apa yang mereka temukan pada suatu saat dengan apa
yang
ia temukan pada saat yang lain, dan membandingkan temuannya
dengan
temuan anak lain.
Lev
Vigotsky percaya bahwa perkembangan intelektual terjadi pada
saat
individu berhadapan dengan pengalaman baru yang menantang dan
ketika
mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang dimunculkan
oleh
pengalaman. Dalam upaya mendapatkan pemahaman, individu
mengkaitkan
pengetahuan baru dengan pengetahuan lama yang telah
dimilikinya
untuk membangun pengertian baru. Keyakinan Vigotsky
berbeda
dengan keyakinan Piaget dalam beberapa hal penting. Piaget
memusatkan
pada tahap-tahap perkembangan intelektual yang didahului
oleh
semua individu tanpa memandang latar konteks sosial dan
budaya,
sedangkan Vigotsky memberi tempat yang lebih penting pada
aspek
sosial pembelajaran. Vigotsky percaya bahwa interaksi sosial
dengan
teman lain memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya
perkembangan
intelektual peserta didik.
3).
Bruner dan discovery learning
Jerome
Bruner, seorang ahli psikologi dari Universitas Harvard
mengemukakan
teori pendukung penting dalam pendidikan yang
dikenal
dengan pembelajaran penemuan, yaitu satu model pengajaran
yang
menekankan pentingnya membantu peserta didik memahami
struktur
atau ide kunci dari suatu disiplin ilmu, perlunya peserta didik
aktif
terlibat dalam proses pembelajaran, dan suatu keyakinan bahwa
pembelajaran
yang sebenarnya terjadi melalui penemuan pribadi.
Tujuan
pendidikan tidak hanya meningkatkan banyaknya pengetahuan
peserta
didik tetapi juga menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk
penemuan
peserta didik. Ketika pembelajaran penemuan diterapkan,
pembelajaran
ini menekankan penalaran induktif dan proses-proses
inkuiri
yang merupakan ciri dari model ilmiah. PBL pada intinya adalah
melakukan
proses inkuiri itu. PBL juga berdasarkan konsep lain dari
Bruner
yaitu scaffolding. Scaffolding adalah suatu proses belajar di
mana
seorang peserta didik dibantu menuntaskan masalah tertentu
melampaui
kapasitas perkembangannya melalui bantuan dari seorang
guru
atau orang lain yang memiliki kemampuan lebih.
PBL
merupakan salah satu model dari pendekatan kontekstual
(Contextual
Teaching and Learning/CTL). Pendekatan ini merupakan
konsep
belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang
diajarkannya
dengan situasi dunia nyata peserta didik serta mendorong
peserta
didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki
dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota
keluarga
dan masyarakat. Dengan konsep ini hasil belajar diharapkan
lebih
bermakna bagi peserta didik. Proses pembelajaran berlangsung
alamiah
dalam bentuk kegiatan peserta didik bekerja dan mengalami,
dan
bukan transfer pengetahuan dari guru ke peserta didik. Peranan
guru
adalah membantu peserta didik dalam mencapai tujuannya, tidak
hanya
sekedar memberikan materi.
b.
Dukungan PBL secara empiris
Tujuan
utama PBL menurut Sonmez dan Lee (2003) adalah bahwa
pembelajaran
bukan hanya untuk memeroleh pengetahuan melainkan
juga
untuk memberdayakan kapabilitas atau kemampuan. Efektifitas PBL
tergantung
pada kealamiahan ketertarikan peserta didik dan budaya kelas,
serta
kelayakan tugas yang dibebankan pada peserta didik. Penggagas PBL
yakin
bahwa apabila peserta didik mengembangkan prosedur pemecahan
permasalahan
mereka sendiri, mereka akan mengintegrasikan pengetahuan
konseptual
dengan ketrampilan prosedural mereka. PBLdirancang tidak
untuk
membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada
peserta
didik, namun PBL lebih diarahkan untuk membantu peserta didik
mengembangkan
keterampilan berpikir dan keterampilan menyelesaikan
masalah
dan keterampilan intelektualnya, mempelajari peranan orang dewasa
melalui
berbagai situasi riil atau situasi yang disimulasikan agar menjadi
peserta
didik yang mandiri (Arends, 2008)
Woods
(1996) menyatakan bahwa PBL berdaya guna dalam
pembelajaran
karena beberapa alasan. Pertama, PBL memacu peserta
didik
mempelajari prinsip-pinsip dasar suatu subyek (pengetahuan) yang
diperlukan
untuk pemecahan masalah. Pengetahuan tersebut dipelajari
dengan
cara yang berbeda dibanding pembelajaran ‘tradisional’, dan hal
ini
akan meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mengingat dan
menggunakan
pengetahuan tersebut. Kedua, PBL menawarkan kesempatan
untuk
praktik, menggunakan, (dan mungkin juga mengembangkan) berbagai
ketrampilan
proses seperti pemecahan masalah, ketrampilan interpersonal,
ketrampilan
kelompok; kemampuan mengatasi perubahan, ketrampilan
belajar
mandiri, dan kemampuan mengasses diri sendiri. Ketiga, PBL dapat
meningkatkan
berbagai prinsip pembelajaran seperti aktif, bekerjasama,
cepat
memberi umpan balik, dan lainnya.
Smith
(1995) mengungkap keuntungan PBL. Menurutnya, PBL memberi
kesempatan
pada peserta didik untuk memanfaatkan pengetahuan yang
telah
dimilikinya selama mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan
ketrampilan
evaluasinya melalui analisis terhadap permasalahan dunia nyata.
Lebih
lanjut dinyatakan bahwa PBL menekankan pada pengembangan
ketrampilan
berpikir dan kemampuan kognitif peserta didik. Peserta didik
yang
terlibat dalam PBL terbukti lebih sering memanfaatkan perpustakaan
dan
sumber-sumber informasi lainnya untuk mendukung pembelajarannya.
Peserta
didik memiliki ketrampilan belajar mandiri, yang merupakan bekal
untuk
belajar lebih lanjut. PBL membelajarkan peserta didik untuk memiliki
pendekatan
yang lebih holistik, lebih siap mengintegrasikan informasi baru,
beradaptasi
terhadap perubahan dan bekerjasama dalam tim. Secara
umum
PBL meningkatkan keinginan peserta didik untuk belajar dan
mengembangkan
kompetensinya.
Berdasar
hasil kajian Yazdani (2002), Nur (211) merinci hasil-hasil
PBL
berikut ini. (1) Keterampilan-keterampilan pemecahan masalah. (2)
Keterampilan-keterampilan
belajar yang diarahkan oleh diri sendiri. (3)
Kemampuan
menemukan dan menggunakan sumber daya yang sesuai. (4)
Berpikir
kritis. (5) dasar pengetahuan yang dapat diukur. (6) Kemampuan
kinerja.
(7) Keterampilan-keterampilan sosial dan etika. (8) memenuhi
kebutuhan
diri sendiri dan memotivasi diri sendiri. (9) Terampil menggunakan
komputer.
(10) Keterampilan-keterampilan kepemimpinan. (11) Kemampuan
bekerja
dalam tim. (12) Keterampilan-keterampilan komunikasi. (13) Berpikir
proaktif.
(14) Kemampuan-kemampuan yang sesuai dengan tuntutan dunia
kerja.
3.
Tahapan Problem Based Learning
Ide
dasar dari PBL sebenarnya cukup sederhana, yaitu pembelajaran
melalui
penemuan masalah. Belajar apa? Yaitu belajar tentang ‘isi’ (fakta,
konsep,
ketrampilan, algoritma) dan belajar bagaimana mencari penyelesaian
masalah
dan atau berpikir kritis. Savery (2006) menyatakan bahwa kunci
keberhasilan
PBL terletak pada tahap pemilihan masalah dan guru yang
merupakan
pemandu proses pembelajaran dan yang mengarahkan tanya
jawab
pada proses penyimpulan pengalaman belajar. Pola umum PBL
adalah:
(1) hadapkan peserta didik pada masalah autentik, (2) peserta
didik
mencari informasi yang relevan dengan masalah dan model untuk
memecahkan
masalah, baik secara individual atau dalam kelompok,
(3)
peserta didik mengembangkan, mengasses dan mempresentasikan
pemecahan
masalah. Secara lebih khusus, berikut ini diberikan sintaks
(tahapan)
PBL menurut Arends (2008). PBL terdiri dari lima tahap utama
yang
dimulai dari guru memperkenalkan kepada peserta didik suatu situasi
masalah
dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja peserta
didik.
Jika masalah yang dikaji tergolong ‘ringan’, kelima tahapan dapat
diselesaikan
dalam sekali pertemuan; jika sedang sedang saja, kelima
tahapan
mungkin dapat diselesaikan dalam 2 sampai 3 kali pertemuan; dan
bila
masalahnya kompleks mungkin akan memerlukan waktu lebih lama.
a. Memberikan orientasi
tentang permasalahan pada peserta didik
Pada
awal PBL, guru menjelaskan tujuan pembelajaran dengan jelas,
menumbuhkan
sikap positif terhadap pembelajaran, dan menjelaskan apa
yang
diharapkan dilakukan oleh peserta didik. Guru juga perlu menjelaskan
proses
dan prosedur PBL apabila peserta didik belum mengetahui proses
atau
prosedur PBL secara rinci. Hal-hal yang perlu ditegaskan pada peserta
didik
adalah sebagai berikut.
1).
Tujuan utama belajar bukan memeroleh pengetahuan baru sebanyakbanyaknya,
akan
tetapi lebih kepada belajar cara menyelidiki masalah
penting
dan pentingnya menjadi pebelajar mandiri.
2).
Masalah atau pertanyaan yang diselidiki tidak memiliki jawaban mutlak
’benar’,
dan mungkin masalah yang kompleks dapat mempunyai banyak
cara
pemecahan masalah yang adakalanya saling bertentangan.
3).
Selama tahap penyelidikan, peserta didik didorong untuk mengajukan
pertanyaan
dan mencari informasi. Peserta didik berusaha belajar mandiri
atau
bersama temannya, tetapi guru harus siap menjadi pembimbing.
4).
Selama tahap analisis dan penyajian, peserta didik didorong untuk
menyatakan
ide-idenya secara terbuka dan bebas, tidak boleh ada yang
mentertawakan,
baik guru maupun sesama peserta didik. Semua peserta
didik
mempunyai kesempatan yang sama untuk melakukan penyelidikan
dan
mengungkapkan ide-idenya.
Pada
tahap ini guru menyajikan situasi masalah dengan hati-hati dan
semenarik
mungkin dengan memberi kesempatan pada peserta didik
untuk
melihat, merasakan, menyentuh, atau sesuatu yang memunculkan
ketertarikan
dan memotivasi inkuiri. Guru hendaknya berupaya melibatkan
seluruh
peserta didik untuk mengidentifikasi masalah. Penyuguhan sesuatu
yang
tidak dapat diperkirakan dan mengejutkan, dapat menarik tersendiri bagi
peserta
didik. Sebagai contoh, demonstrasi yang menunjukkan air mengalir
ke
atas, es yang mencair pada suhu dingin, rekaman video masalah nyata
seperti
kebakaran hutan atau polusi atau hal lainnya. Hal yang terpenting
pada
tahap ini adalah membangkitkan rasa ingin tahu peserta didik untuk
melakukan
penyelidikan.
b. Mengorganisasi
peserta didik untuk meneliti
PBL
menghendaki guru untuk mengembangkan ketrampilan bekerjasama
antar
peserta didik, membantu peserta didik untuk menyelidiki permasalahan
bersama-sama,
membantu peserta didik merencanakan penyelidikan mereka
dan
pelaporannya. Dengan demikian, diharapkan pembelajaran selanjutnya
dilakukan
secara berkelompok. Pembentukan kelompok ini dapat dilakukan
atas
dasar alasan-alasan tertentu, misalnya berdasarkan tingkat kemampuan,
keragaman
ras, etnis, atau jenis kelamin. Dapat pula ditentukan atas
dasar
kesamaan minat atau berdasarkan persahabatan yang sudah terjalin
sebelumnya.
Guru bisa menentukan kelompok atas dasar apapun, namun
yang
terpenting adalah guru perlu memberikan alasan yang kuat tentang
pembentukan
kelompok tersebut.
Setelah
pembentukan kelompok, guru dan peserta didik menentukan
subtopik-subtopik
yang spesifik, tugas-tugas penyelidikan, dan jadualnya.
Masalah
yang umum dapat dibagi-bagi, misalnya topik cuaca, dapat
dibagi
menjadi hujan asam, badai, awan, dan sebagainya. Akumulasi
dari
semua kegiatan tersebut diharapkan akan menghasilkan pemecahan
masalah
terhadap masalah umum tersebut. Untuk proyek yang besar dan
memerlukan
waktu cukup panjang, perlu dibuat jadual rinci. Guru hendaknya
mengupayakan
semua peserta didik terlibat aktif dalam kegiatan penyelidikan.
c. Membimbing
penyelidikan peserta didik secara mandiri maupun
kelompok
Penyelidikan
dalam PBL bisa dilakukan peserta didik secara mandiri,
berpasangan,
atau berkelompok. Sekalipun setiap masalah bisa dilakukan
dengan
teknik penyelidikan yang berbeda, pada umumnya PBL melibatkan
kegiatan
pengumpulan data dan eksperimentasi, berhipotesis dan
menjelaskannya,
serta memberikan pemecahan masalahnya.
Pengumpulan
data dan eksperimentasi
Guru
hendaknya membantu peserta didik mengumpulkan informasi
dari
berbagai sumber dan mengajukan pertanyaan agar peserta didik
memikirkan
masalah dan macam informasi yang diperlukan untuk mencari
pemecahan
masalah. Peserta didik perlu dibelajarkan bagaimana menjadi
penyelidik
yang aktif dan bagaimana menggunakan model-model yang sesuai
dengan
permasalahan yang sedang dikaji, misalnya wawancara, observasi,
mengukur,
atau membuat catatan. Peserta didik juga perlu dibelajarkan
bagaimana
etika penyelidikan yang benar. Tahap ini sangat penting, karena
peserta
didik mengumpukan informasi yang cukup untuk menciptakan ideide,
diupayakan
tidak hanya berupa kegiatan mencari jawaban dalam buku,
meskipun
Niederhoffer (1999) menyatakan bahwa buku bacaan merupakan
tahap
awal dalam mencari informasi.
Mengembangkan
hipotesis, menjelaskan, dan memberikan pemecahan
Setelah
peserta didik mengumpulkan cukup data dan melakukan
penyelidikan
pada masalah yang dikaji, peserta didik akan mulai
menyampaikan
hipotesis, penjelasan, dan solusi pemecahan masalah. Pada
tahap
ini, guru mendorong peserta didik mengungkap semua idenya dan guru
menerima
sepenuhnya. Seperti halnya pada tahap pengumpulan data dan
eksperimentasi,
guru juga mengajukan pertanyaan yang membuat peserta
didik
berpikir tentang kelayakan hipotesis dan pemecahan masalah yang
mereka
ajukan, serta tentang kualitas informasi yang mereka kumpulkan.
Beberapa
contoh pertanyaan yang dapat diajukan pada tahap ini: ”Apa
yang
perlu kalian ketahui agar kalian merasa yakin bahwa solusi kalian
memang
yang terbaik?“, atau ”Apa yang dapat kalian lakukan untuk menguji
kelayakan
solusi kalian?“, atau ”Apa solusi lain yang dapat kalian usulkan?“
Selama
tahap penyelidikan, guru semestinya selalu siap memberikan
bantuan
tanpa mencampuri kegiatan peserta didik. Pada proyek tertentu
dan
untuk peserta didik tertentu, guru perlu di dekat peserta didik untuk
membantu
menemukan bahan dan mengingatkan mereka tentang tugas
yang
harus mereka selesaikan. Namun, guru mungkin bisa membiarkan
peserta
didik tertentu untuk berisiatif sendiri.
d. Mengembangkan dan
menyajikan hasil karya
Tahap
penyelidikan diikuti dengan tahap mengembangkan dan menyajikan
hasil
karya. Hasil karya ini bentuknya tergantung dari permasalahan yang
dikaji
dan waktu penyelesaian. Adakalanya hasil karya hanya berbentuk
laporan,
tetapi adakalanya berbentuk sesuatu yang lebih kompleks seperti
poster,
rekaman video, model suatu perwujudan fisik, program komputer,
sajian
multimedia, dan sebagainya. Penyajian hasil karya juga tergantung
keinginan,
apakah hanya dipresentasikan sesaat, didiskusikan cukup lama,
atau
bahkan dipamerkan untuk umum termasuk peserta didik kelas lain,
guru
lain, bahkan orangtua atau masyarakat luas.
Guru
perlu memikirkan dan mengatur penyajian hasil karya peserta
didik
tersebut, melalui beberapa kegiatan berikut. Penyajian secara verbal
dan/atau
visual di kelas dan umpan baliknya. Bisa juga diadakan pameran
berupa
pekan ilmu pengetahuan, masing-masing peserta didik atau kelompok
memamerkan
karyanya, serta adanya penilaian oleh orang lain. Bisa juga
dimasukkan
ke situs web yang memamerkan karya peserta didik secara
online.
Bisa juga dengan cara-cara lain yang mungkin dilakukan.
e. Menganalisis dan
mengevaluasi proses pemecahan masalah
Tahap
akhir PBL adalah membantu peserta didik menganalisis dan
mengevaluasi
proses berpikir peserta didik, kemampuan penyelidikan
peserta
didik, dan ketrampilan intelektual yang telah peserta didik gunakan.
Selama
tahap ini, guru meminta peserta didik mengkonstruksi kembali
pemikiran
dan kegiatan mereka pada berbagai tahap pembelajaran yang
telah
mereka lakukan. Berikut ini contoh beberapa pertanyaan yang bisa
diajukan.
Kapan mereka mulai memiliki pemahaman tentang situasi dan
masalah
yang dipelajari? Kapan mereka mulai yakin terhadap solusi tertentu?
Mengapa
mereka menerima penjelasan tertentu dibanding yang lainnya?
Mengapa
mereka menolak penjelasan tertentu? Apakah mereka mengubah
pikiran
tentang suatu permasalahan selama proses penyelidikan? Apa yang
menyebabkan
terjadinya perubahan itu? Apa yang akan mereka lakukan di
masa
yang akan datang? Dan sebagainya.
Pada
penerapan PBL, adakalanya guru menemui beberapa permasalahan
terutama
terkait dengan peserta didik yang “lambat belajar”. Kemungkinan
terdapat
peserta didik-peserta didik yang kurang memiliki keterampilan
bekerja
secara mandiri. Berikut beberapa upaya yang bisa dilakukan guru
(Arends,
2008).
•
Memberi lebih banyak arahan tentang keterampilan investigasi
(penyelidikan),
seperti cara menemukan informasi, menarik inferensi
dari
data yang ada, dan menganalisis hipotesis terutama hipotesis yang
berlawanan.
•
Meluangkan lebih banyak waktu untuk menjelaskan PBL dan harapan
atas
hasil kerja peserta didik.
•
Meluangkan lebih banyak waktu untuk peserta didik pada setiap tahapan
penyelidikan.
•
Menetapkan jadual yang lebih teliti untuk memeriksa kemajuan
penyelidikan,
dan menanyakan tanggung jawab peserta didik atas
penyelesaian
tugasnya.
Mendampingi
peserta didik “lambat belajar” dalam pengembangan
keterampilan
penyelidikan merupakan pengalaman tersendiri bagi guru,
dan
apabila berhasil, mungkin merupakan salah satu pengalaman paling
rewarding
bagi guru. Mungkin juga ada kendala lain dalam pelaksanaan
PBL,
misalnya sekolah kurang memiliki perpustakaan dan sumber daya
teknologi
yang terbatas, terbatasnya jam pelajaran, dan lainnya. Semuanya
memerlukan
kreativitas guru dalam memecahkan masalah yang ada.