Pengertian Project based learning
Project based learning dapat diterjemahkan menjadi pembelajaran
berbasis proyek. Untuk membedakan dengan Problem based learning (PBL), Project
based learningdisingkat dengan PjBL. Istilah PjBL (Project based
learning) memang sering dipertukarbalikkan dengan Problem based learning
(PBL). Seringkali keduanya juga sama-sama disingkat dengan PBL, sehingga
makin rancu, meskipun sebenarnya di antara keduanya berbeda. Keduanya
menekankan lingkungan belajar peserta didik aktif, kerja kelompok
(kolaboratif), dan teknik evaluasi otentik (authentic assessment). Perbedaannya
terletak pada perbedaan objek.
PjBL
dan PBL memiliki beberapa kesamaan karakteristik. Keduanya
adalah model pembelajaran yang dimaksudkan
untuk melibatkan peserta
didik di dalam tugas-tugas otentik dan dunia
nyata agar dapat memperluas
belajar mereka. Peserta didik diberi tugas
proyek atau problem yang openended
dengan lebih dari satu pendekatan atau
jawaban. Kedua model ini
juga dinyatakan sebagai model yang student-centered,
dan menempatkan
peranan guru sebagai fasilitator. Peserta
didik dilibatkan dalam PjBL atau
PBL, secara umum bekerja di dalam kelompok
secara kolaboratif, dan
didorong mencari berbagai sumber informasi yang
berhubungan dengan
proyek atau problem yang dikerjakan. Model ini
menekankan pengukuran
hasil belajar otentik dan dengan basis unjuk
kerja (performance-based
assessment).
PjBL adalah suatu model pembelajaran yang
melibatkan suatu proyek
dalam proses pembelajaran. Proyek yang
dikerjakan oleh peserta didik
dapat berupa proyek mandiri atau kelompok dan
dilaksanakan dalam jangka
waktu tertentu, menghasilkan sebuah produk,
yang hasilnya kemudian akan
ditampilkan atau dipresentasikan. Proyek
tersebut berfokus pada pemecahan
masalah yang berhubungan dengan kehidupan
peserta didik. Pembelajaran
berbasis proyek merupakan bagian dari model
pembelajaran yang berpusat
pada peserta didik student-centered).
Berikut pengertian lain PjBL, yang sebenarnya
tidak jauh berbeda,
sekalipun ada yang menyebutnya sebagai metode,
pendekatan, atau cara
dalam pembelajaran.
a. PjBL adalah metode pengajaran sistematik
yang mengikutsertakan
peserta didik ke dalam pembelajaran
pengetahuan dan keahlian yang
kompleks, pertanyaan authentic dan perancangan
produk dan tugas
(University of Nottingham, 2003).
b. PjBL adalah pendekatan pembelajaran secara
konstruktif untuk
pendalaman pembelajaran dengan pendekatan
berbasis riset terhadap
permasalahan dan pertanyaan yang berbobot,
nyata dan relevan bagi
kehidupannya (Barron, 1998).
c. PjBL adalah proses pembelajaran yang
berpusat pada proses, relatif
berjangka waktu, berfokus pada masalah, unit
pembelajaran bermakna
dengan mengitegrasikan konsep-konsep dari
sejumlah komponen
pengetahuan, atau disiplin, atau wilayah
kajian (Blumenfeld, dkk., 1991).
d. PjBL adalah cara yang konstruktif dalam
pembelajaran menggunakan
permasalahan sebagai stimulus dan
berfokus kepada aktifitas peserta
didik (Boud & Felleti, 1991).
e. PjBL adalah pendekatan pembelajaran yang
memiliki karakteristik sebagai
berikut: (a) peserta didik membuat keputusan
tentang sebuah kerangka
kerja, (b) adanya permasalahan atau tantangan
yang diajukan kepada
peserta didik, (c) peserta didik mendesain
proses untuk menentukan
solusi atas permasalahan atau tantangan yang
diajukan, (d) peserta didik
secara kolaboratif bertanggungjawab untuk
mengakses dan mengelola
informasi untuk memecahkan permasalahan, (e)
proses evaluasi
dijalankan secara kontinyu, (f) peserta didik
secara berkala melakukan
refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan,
(g) produk akhir aktivitas
belajar akan dievaluasi secara kualitatif, (h)
situasi pembelajaran sangat
toleran terhadap kesalahan dan perubahan
(Global SchoolNet, 2000).
Pada PjBL peserta didik dapat berkolaborasi
dan melakukan investigasi
atau penyelidikan dalam kelompok kolaboratif
antara 4-5 orang. Keterampilanketerampilan
yang dibutuhkan dan dikembangkan oleh peserta
didik
dalam tim adalah merencanakan,
mengorganisasikan, negosiasi, dan
membuat konsensus atau kesepakatan tentang
tugas yang dikerjakan,
siapa yang mengerjakan apa, dan bagaimana
mengumpulkan informasi
yang dibutuhkan dalam berinvestigasi.
Keterampilan yang dibutuhkan dan
yang akan dikembangkan oleh peserta didik
merupakan keterampilan yang
esensial sebagai landasan untuk keberhasilan
proyek mereka. Keterampilanketerampilan
yang dikembangkan melalui kolaborasi dalam tim
menyebabkan
pembelajaran menjadi aktif, di mana setiap
individu memiliki keterampilan
yang bervariasi sehingga setiap individu mencoba
menunjukkan keterampilan
yang mereka miliki dalam kerja tim mereka.
Pembelajaran secara aktif
dapat memimpin peserta didik ke arah
peningkatan keterampilan dan kinerja
ilmiah. Kinerja ilmiah tersebut mencakup
prestasi akademis, mutu interaksi
hubungan antar pribadi, rasa harga diri,
persepsi dukungan sosial lebih
besar, dan keselarasan antar para peserta
didik.
Tidak semua kegiatan belajar aktif dan
melibatkan proyek dapat disebut
PjBL. Berangkat dari pertanyaan “apa yang
harus dimiliki proyek belajar agar
dapat digolongkan sebagai PjBL”. Berikut ini
adalah lima kriteria apakah
suatu pembelajaran berproyek termasuk sebagai
PjBL. Lima kriteria itu
adalah (a) keterpusatan (centrality),
(b) berfokus pada pertanyaan atau
masalah, (c) investigasi konstruktif atau
desain, (d) kemandirian peserta
didik, dan (e) realisme. Berikut ini
penjelasannya.
a. Proyek dalam PjBL adalah terfokus pada
pertanyaan atau masalah, yang
mendorong peserta didik mempelajari
konsep-konsep dan prinsip-prinsip
inti atau pokok dari mata pelajaran. Definisi
proyek (bagi peserta didik)
harus dibuat sedemikian rupa agar terjalin
hubungan antara aktivitas dan
pengetahuan konseptual yang melatarinya.
Proyek biasanya dilakukan
dengan pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang
belum bisa dipastikan
jawabannya atau ill-defined problem.
Proyek dalam PjBL dapat dirancang
secara tematik, atau gabungan (intersection)
topik-topik dari dua atau
lebih mata pelajaran.
b. Proyek melibatkan peserta didik dalam
investigasi konstruktif.
Investigasi mungkin berupa proses desain,
pengambilan keputusan,
penemuan masalah, pemecahan masalah,
diskoveri, atau proses
pengembangan model. Proyek pada PjBL merupakan
aktivitas inti yang
meliputi transformasi dan konstruksi
pengetahuan (dengan pengertian:
pemahaman baru, atau keterampilan baru) pada
pihak peserta didik.
Jika inti kegiatan proyek tidak menyajikan
“tingkat kesulitan” bagi anak,
atau dapat dilakukan dengan penerapan
informasi atau keterampilan
yang siap dipelajari, proyek yang dimaksud
adalah tak lebih dari sebuah
latihan, dan bukan proyek PjBL yang dimaksud.
c. PjBL lebih mengutamakan kemandirian,
pilihan, waktu kerja yang
tidak bersifat kaku, dan tanggung jawab
peserta didik daripada proyek
tradisional dan pembelajaran tradisional.
d. Proyek adalah realistik. Karakteristik
proyek memberikan keontentikan
pada peserta didik. Karakteristik ini boleh
jadi meliputi topik, tugas,
peranan yang dimainkan peserta didik, konteks
di mana kerja proyek
dilakukan, produk yang dihasilkan, atau
kriteria di mana produk-produk
atau unjuk kerja dinilai. PjBL melibatkan
tantangan-tantangan kehidupan
nyata, berfokus pada pertanyaan atau masalah
otentik (bukan simulatif),
dan pemecahannya berpotensi untuk diterapkan
di lapangan yang
sesungguhnya.
Selama berlangsungnya proses belajar dalam
PjBL, guru berperan
sebagai fasilitator dan evaluator, dengan
rincian tugas berikut ini.
a. Menyusun masalah yang akan dipecahkan.
b. Membantu penyediaan sumber baik cetak
maupun elektronik.
c. Mengatur kelompok dan menciptakan suasana
belajar yang nyaman.
d. Memastikan bahwa sebelum mulai setiap
kelompok telah memiliki
seorang anggota yang bertugas membaca materi,
sementara temantemannya
mendengarkan, dan seorang anggota yang
bertugas mencatat
informasi yang penting sepanjang jalannya
diskusi.
e. Memberikan materi atau informasi pada saat
yang tepat, sesuai dengan
perkembangan kelompok.
f. Memastikan bahwa setiap sesi diskusi
kelompok diakhiri dengan selfevaluation.
g. Menjaga agar kelompok terus memusatkan
perhatian pada pencapaian
tujuan.
h. Memonitor jalannya diskusi dan membuat
catatan tentang berbagai
masalah yang muncul dalam proses belajar,
serta menjaga agar proses
belajar terus berlangsung, agar tidak ada
tahapan dalam proses belajar
yang dilewati atau diabaikan dan agar setiap
tahapan dilakukan dalam
urutan yang tepat.
i. Menjaga motivasi peserta didik dengan
mempertahankan unsur
tantangan dalam penyelesaian tugas dan juga
memberikan pengarahan
untuk mendorong pelajar keluar dari
kesulitannya.
j. Membimbing proses belajar pesertda didik
dengan mengajukan
pertanyaan yang tepat pada saat yang tepat.
Pertanyaan ini hendaknya
merupakan pertanyaan terbuka yang mendorong
pelajar mencari
pemahaman yang lebih mendalam tentang berbagai
konsep, ide,
penjelasan, sudut pandang, dan lain-lain.
k. Mengevaluasi kegiatan belajar pelajar,
termasuk partisipasinya dalam
proses kelompok. Guru perlu memastikan bahwa
setiap peserta didi
terlibat dalam proses belajar
l. Mengevaluasi penerapan PjBL yang telah
dilakukan.
2. Dukungan Project Based Learning
a. Dukungan PjBL secara teoritis
Pendekatan pembelajaran saat ini diarahkan
pada pembelajaran
konstruktivistik, yang cenderung memberikan
pengalaman mendalam
dengan memberikan kesempatan pada peserta
didik menggunakan aktivitas
inkuiri, nyata dan berkaitan dengan kehidupan
peserta didik. Teori belajar
konstruktivistik bersandar pada ide bahwa
peserta didik membangun
pengetahuannya sendiri di dalam konteks
pengalamannya sendiri. PjBL
dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan
penciptaan lingkungan
belajar yang dapat mendorong peserta didik
mengkonstruk pengetahuan
dan keterampilan secara personal.
PjBL merupakan model pembelajaran yang
berpijak pada teori belajar
konstruktivisme. Strategi pembelajaran yang
menonjol dalam pembelajaran
konstruktivis antara lain adalah strategi
belajar kolaboratif, mengutamakan
aktivitas peserta didik daripada aktivitas
guru, mengenai kegiatan
laboratorium, pengalaman lapangan, studi
kasus, pemecahan masalah,
panel diskusi, diskusi, brainstorming, dan
simulasi. Beberapa dari strategi
tersebut juga terdapat dalam PjBL, yaitu (a)
strategi belajar kolaboratif, (b)
mengutamakan aktivitas peserta didik daripada
aktivitas guru, (c) mengenai
kegiatan laboratorium, (d) pengalaman
lapangan, (e) dan pemecahan
masalah. PjBL juga mendorong peserta didik
mengkonstruk pengetahuan
dan keterampilan melalui pengalaman langsung
(Kamdi, 2007).
Konstruktivisme adalah teori belajar yang
bersandar pada ide bahwa
peserta didik mengkonstruk pengetahuan mereka
sendiri di dalam konteks
pengalaman mereka sendiri. Pembelajaran
konstruktivistik berfokus pada
kegiatan aktif peserta didik dalam memeroleh
pengalaman langsung
(“doing”), ketimbang pasif “menerima”
pengetahuan. Dari sudut pandang
konstruktivis, belajar bukanlah murni fenomena
stimulus-respon sebagaimana
dikonsepsikan para behavioris, akan tetapi
belajar adalah proses yang
memerlukan pengaturan diri sendiri
(self-regulation) dan pembangunan
struktur konseptual melalui refleksi dan
abstraksi. Kegiatan nyata yang
dilakukan dalam proyek memberikan pengalaman
belajar yang dapat
membantu refleksi dan mendekatkan hubungan
aktivitas dunia nyata
dengan pengetahuan konseptual yang melatarinya
yang diharapkan akan
dapat berkembang lebih luas dan lebih
mendalam. PjBL mendasarkan pada
aktivitas dunia nyata, berpotensi memperluas
dan memperdalam pengetahuan
konseptual dan prosedural, yang pada khasanah
lain disebut juga knowing
that dan knowing how.
Bagian-bagian dari prinsip belajar konstruktif
seperti belajar yang
berorientasi pada diskoveri, kontekstual, berorientasi
masalah, dan motivasi
sosial juga menjadi bagian-bagian prinsip
PjBL. Strategi belajar kolaboratif
yang diposisikan amat penting dalam PjBL juga
menjadi tekanan teoretik
belajar konstruktif. Strategi belajar
kolaboratif tersebut juga dilandasi oleh
teori Vygotsky tentang Zone of Proximal
Development (ZPD). Vygotsky
merekomendasikan adanya level atau zona, di
mana peserta didik dapat lebih
berhasil tetapi dengan bantuan partner yang
lebih bisa atau berpengalaman.
Vygotsky mendefinisikan ZPD sebagai jarak
antara tingkat perkembangan
aktual seperti ditunjukkan oleh kemampuan
memecahkan masalah secara
mandiri dengan tingkat perkembangan potensial
seperti ditunjukkan oleh
kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan
orang dewasa atau
kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih.
Prinsip kontekstual yang menjadi karakteristik
penting dalam PjBL,
diturunkan dari ide dasar teori belajar
konstruktivistik. Para konstruktivis
mengatakan bahwa belajar adalah proses aktif
membangun realitas dari
pengalaman belajar. Bagaimana pun, belajar
tidak dapat terlepas dari apa
yang sudah diketahui peserta didik dan konteks
di mana hal tersebut. Atas
dasar keyakinan tersebut direkomendasikan
bahwa pembelajaran perlu
diletakkan dalam konteks yang kaya yang
merefleksikan dunia nyata, dan
berhubungan erat dengan konteks di mana
pengetahuan akan digunakan.
Singkatnya, pembelajaran perlu otentik.
PjBL juga merupakan model yang menciptakan
lingkungan belajar yang
realistik, dan berfokus pada belajar
memecahkan masalah-masalah yang
terjadi di dunia nyata. PjBL juga didukung
oleh teori belajar eksperiensial.
Peserta didik mengendalikan belajarnya
sendiri, mulai dari pengidentifikasian
masalah yang akan dijadikan proyek sampai
dengan mengevaluasi hasil
proyek. Guru berperan sebagai pembimbing,
fasilitator, dan partner belajar.
Tema proyek yang dipilih juga bersifat
interdisipliner, karena mengandung
unsur berbagai disiplin yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan masalah
dalam proyek yang dikerjakan itu.
Apa yang dilakukan peserta didik dalam proses
pembelajaran adalah
pengalaman-pengalaman sensoris sebagai dasar
belajar. Ditegaskan oleh
John Dewey bahwa pengalaman adalah elemen
kunci dalam proses
pembelajaran. Makna dari berbagai pengalaman
adalah sebuah hubungan
yang saling tergantung antara apa yang dibawa
oleh peserta didik dalam
situasi belajar dan apa yang terjadi di dalam
situasi itu. Berdasarkan
pengetahuan yang diturunkan dari pengalaman
sebelumnya, pada
pengalaman baru orang membangun pengetahuan
baru. Kerja proyek dapat
dipandang sebagai proses belajar memantapkan
pengalaman yang belum
mantap, memperluas pengetahuan yang belum
luas, dan memperhalus
pengetahuan yang belum halus.
Berdasarkan teori-teori belajar
konstruktivistik di atas, maka PjBL dapat
disimpulkan memiliki kelebihan-kelebihan
sebagai lingkungan belajar: (1)
otentik-kontekstual, yang akan memperkuat
hubungan antara aktivitas dan
pengetahuan konseptual yang melatarinya; (2)
mengedepankan kemandirian
peserta didik (self-regulation) dan guru
sebagai pembimbing dan partner
belajar, yang akan mengembangkan kemampuan
berpikir produktif; (3) belajar
kolaboratif, yang memberi peluang peserta
didik saling membelajarkan yang
akan meningkatkan pemahaman konseptual maupun
kecakapan teknikal;
(4) holistik dan interdisipliner; (5)
realistik, berorientasi pada belajar aktif
memecahkan masalah riil, yang memberi
kontribusi pada pengembangan
kecakapan pemecahan masalah; dan (6)
memberikan reinforcementintrinsik
(umpan balik internal) yang dapat menajamkan
kecakapan berpikir produktif.
b. Dukungan PjBL secara empiris
PjBL dirancang supaya peserta didik melakukan
penyelidikan untuk
mengetahui hal yang kompleks, bukan untuk
mengetahui informasi faktual
semata. Penerapan PjBL telah menunjukan bahwa
model tersebut sanggup
membuat peserta didik mengalami proses
pembelajaran yang bermakna,
yaitu pembelajaran yang dikembangkan
berdasarkan faham konstruktivisme.
Peserta didik diberi kesempatan untuk menggali
sendiri informasi melalui
membaca berbagai buku secara langsung, membuat
presentasi untuk
orang lain, mengomunikasikan hasil
aktivitasnya kepada orang lain, bekerja
dalam kelompok, memberikan usul atau
gagasannya untuk orang lain dan
berbagai aktivitas lainnya. Semuanya
menggambarkan tentang bagaimana
semestinya orang dewasa belajar agar lebih
bermakna.
Dari berbagai sumber, Kamdi (2007) memaparkan
sejumlah keuntungan
dari PjBL berikut ini.
1). Meningkatkan motivasi. Laporan-laporan
tertulis tentang PjBL banyak
yang menyatakan bahwa peserta didik tekun
bekerja dan berusaha keras
untuk belajar lebih mendalam dan mencari
jawaban atas keingintahuan
dan dalam menyelesaikan proyek. Guru
melaporkan perkembangan
dalam kehadiran peserta didik dan berkurangnya
keterlambatan mereka,
serta peserta didik lebih tekun sampai kelewat
batas waktu, berusaha
keras dalam mencapai proyek. Peserta didik
melaporkan bahwa belajar
dalam proyek lebih fun (menyenangkan).
2). Meningkatkan kemampuan berpikir. Hal
tersebut disebabkan bajwa laporan
PjBL tidak hanya berdasar informasi yang
dibaca saja, tetapi peserta didik
juga mengembangkan masalah, mencari jawaban,
dan berkolaborasi,
untuk memecahkan masalah yang relevan dengan
kenyataan sebenarnya.
3). Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
Banyak sumber yang
menjelaskan bahwa lingkungan belajar berbasis
proyek membuat peserta
didik menjadi lebih aktif memecahkan
permasalahan-permasalahan
yang kompleks. Peserta didik mempunyai pilihan
untuk menyelidiki
topik-topik yang berkaitan dengan masalah
dunia nyata, saling bertukar
pendapat antara kelompok yang membahas topik
yang berbeda,
mencari pengetahuan dari berbagai sumber,
mengambil keputusan dan
mempresentasikan proyek atau hasil diskusi
mereka. Hal tersebut juga
mengembangkan keterampilan kognitif tingkat
tinggi peserta didik.
4). Meningkatkan kecakapan kolaboratif.
Pentingnya kerja kelompok dalam
proyek memerlukan peserta didik mengembangkan
dan mempraktikkan
keterampilan komunikasi. PjBL merupakan
merupakan ajang kesempatan
berdiskusi yang baik bagi peserta didik,
melatih penemuan langsung
peserta didik terhadap masalah dunia nyata,
memberi mereka kesenangan
dalam pembelajaran dan dapat dijadikan
strategi mengajar yang efektif.
Teori-teori kognitif yang baru dan
konstruktivistik menegaskan bahwa
belajar adalah fenomena sosial, dan bahwa
peserta didik akan belajar
lebih di dalam lingkungan kolaboratif.
5). Meningkatkan keterampilan mengelola
sumber. Bagian dari menjadi
peserta didik yang independen adalah
bertanggungjawab untuk
menyelesaikan tugas yang kompleks. PjBL yang
diimplementasikan secara
baik memberikan kepada peserta didik
pembelajaran dan praktik dalam
mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi
waktu dan sumber-sumber
lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan
tugas. Ketika peserta didik
bekerja di dalam tim, mereka belajar untuk
mempelajari keterampilan
merencanakan, mengorganisasi, negosiasi, dan
membuat kesepakatan
tentang tugas yang akan dikerjakan, siapa yang
bertanggungjawab untuk
setiap tugas, dan bagaimana informasi akan
dikumpulkan dan disajikan.
PjBL juga dapat meningkatkan keterampilan
peserta didik khususnya
kinerja ilmiah dalam merancang proyek sebagai
refleksi antara teori
dan praktek dalam pembelajaran.
Keterampilan-keterampilan tersebut
merupakan keterampilan yang amat penting untuk
keberhasilan hidupnya
maupun di tempat kerjanya kelak.
3. Tahapan Project Based Learning
Terdapat beberapa macam rancangan tahapan atau
sintaks PjBL.
Tahapan PjBL yang dikembangkan oleh The George
Lucas Educational
Foundation (2005).
a. Start With the Essential Question (Ajukan pertanyaan). Pembelajaran
dimulai dengan pertanyaan, yaitu pertanyaan
yang dapat memberi
penugasan peserta didik dalam melakukan suatu
aktivitas. Pertanyaan
disusun dengan mengambil topik yang sesuai
dengan realitas dunia
nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam.
Guru berusaha
agar topik yang diangkat relevan untuk para
peserta didik.
b. Design a Plan for the Project (Rancang rencana proyek). Secara
kolaboratif,
guru dan peserta didik merencanakan aturan
main, pemilihan kegiatan
yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan
penting, dengan
cara mengintegrasikan berbagai materi yang
mungkin, serta mengetahui
alat dan bahan yang dapat diakses untuk
membantu penyelesaian
proyek. Perencanaan dilakukan secara
kolaboratif antara guru dan
peserta didik. Dengan demikian peserta didik
diharapkan akan merasa
“memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan
berisi tentang aturan main,
pemilihan kegiatan yang dapat mendukung dalam
menjawab pertanyaan
penting, dengan cara mengintegrasikan berbagai
materi yang mungkin,
serta mengetahui alat dan bahan yang dapat
diakses untuk membantu
penyelesaian proyek.
c. Create a Schedule (Susun jadual). Guru dan peserta didik
secara
kolaboratif menyusun jadwal kegiatan dalam
menyelesaikan proyek.
d. Monitor the Students and the Progress of
the Project (Pantau
peserta
didik dan kemajuan proyek). Guru bertanggungjawab untuk memantau
kegiatan peserta didik selama menyelesaikan
proyek. Pemantauan
dilakukan dengan cara memfasilitasi peserta
didik pada setiap proses.
Dengan kata lain guru berperan menjadi mentor
bagi aktivitas peserta
didik. Agar mempermudah proses pemantauan,
dibuat sebuah rubrik
yang dapat merekam keseluruhan kegiatan yang
penting.
e. Assess the Outcome (Penilaian hasil). Penilaian dilakukan
untuk
membantu guru dalam mengukur ketercapaian
standar kompetensi,
berperan dalam mengevaluasi kemajuan
masing-masing peserta didik,
memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman
yang sudah dicapai
peserta didik, membantu guru dalam menyusun
strategi pembelajaran
berikutnya.
f. Evaluation the Experience (Evaluasi pengalaman). Pada akhir
proses
pembelajaran, guru dan peserta didik melakukan
refleksi terhadap
kegiatan dan hasil proyek yang sudah
dijalankan. Proses refleksi
dilakukan baik secara individu maupun
kelompok. Pada tahap ini peserta
didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan
pengalamannya
selama menyelesaikan proyek. Guru dan peserta
didik mengembangkan
diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja
selama proses pembelajaran,
sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan
baru (new inquiry)
untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada
tahap pertama
pembelajaran.
PjBL dirancang supaya peserta didik melakukan
penyelidikan untuk
mengetahui hal yang kompleks, bukan untuk
mengetahui informasi faktual
semata. Penerapan PjBL telah menunjukan bahwa
model tersebut
sanggup membuat peserta didik mengalami proses
pembelajaran yang
bermakna, yaitu pembelajaran yang dikembangkan
berdasarkan paham
konstruktivisme. Peserta didik diberi
kesempatan untuk menggali sendiri
informasi melalui membaca berbagai buku secara
langsung, membuat
presentasi untuk orang lain, mengomunikasikan
hasil aktivitasnya kepada
orang lain, bekerja dalam kelompok, memberikan
usul atau gagasannya
untuk orang lain dan berbagai aktivitas
lainnya. Semuanya menggambarkan
tentang bagaimana semestinya orang dewasa
belajar agar lebih
bermakna.
Implikasi model PjBL dalam proses belajar
mengajar adalah memberikan
kebebasan kepada peserta didik untuk
merencanakan aktivitas
belajar, melaksanakan proyek secara
kolaboratif, dan pada akhirnya
menghasilkan produk kerja yang dapat
dipresentasikan kepada orang
lain. Selain itu, dalam PjBL peserta didik
menjadi terdorong lebih aktif
berakitivitas dalam belajar sehingga dapat
meningkatkan kinerja ilmiah
peserta didik, sedangkan guru berperan sebagai
fasilitator dan evaluator
proses dan produk hasil kinerja peserta didik
meliputi outcome yang
mampu ditampilkan dari hasil proyek yang
dikerjakan peserta didik.