MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI LABORATORIUM
UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/>
<![endif]-->
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan sains umumnya memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan, khususnya dalam menghasilkan peserta didik yang berkualitas, yaitu manusia yang mampu berpikir kritis, kreatif, logis dan berinisiatif dalam menanggapi isu di masyarakat yang diakibatkan oleh dampak perkembangan sains dan teknologi (Khan, et al, 2011 & Folmer et al, 2009).
Pendidikan sains sangat mempengaruhi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang menuntut seseorang untuk dapat menguasai informasi dan pengetahuan. Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan terutama bidang pembelajaran sains. Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah adalah mengadakan perubahan terhadap kurikulum, namun upaya yang dilakukan pemerintah tersebut nampaknya belum menunjukkan hasil yang optimal.
Rendahnya keterampilan berpikir kreatif dan keterampilan proses sains siswa disebabkan beberapa penyimpangan terhadap aturan yang telah ditetapkan. Salah bentuk penyimpangan dalam pelaksanaan pembelajaran adalah kegitan inti belum optimal atau memenuhi proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi. Wirtha & Rapi (2008) mengungkapkan bahwa masih banyak siswa belajar hanya menghafal konsep-konsep, mencatat apa yang diceramahkan guru, pasif, dan jarang menggunakan pengetahuan awal sebagai dasar perencanaan pembelajaran.
Proses pembelajaran sains bermakna jika proses pembelajaran tersebut sesuai dengan hakekat sains, yang artinya belajar tidak cukup hanya melalui kumpulan fakta, prinsip-prinsip, hukum-hukum, maupun teori, tetapi juga menyangkut proses bagaimana pengetahuan itu diperoleh. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui kegiatan eksperimen.
Melalui kegiatan eksperimen, siswa melakukan minds on dan juga hands On. Partisipasi siswa dalam kegiatan penyelidikan melalui eksperimen mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan, mengajukan hipotesis, membuat prediksi, menggunakan alat-alat untuk mengumpulkan dan menganalisis data, membuat kesimpulan, membangun argumen, mengkomunikasikan temuan, dan menggunakan strategi penalaran luas yang melibatkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, kausal, dan berpikir logis. Selain itu kegiatan eksperimen dapat membantu siswa mengembangkan pemahaman konseptual dan mengembangkan keterampilan proses sains yang relevan
Pada kenyataannya model eksperimen yang banyak digunakan di sekolah belum mampu secara optimal meningkatkan keterampilan berpikir terutama keterampilan berpikir kreatif dan kinerja ilmiah siswa pendidikan sains umumnya memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan, khususnya dalam menghasilkan peserta didik yang berkualitas, yaitu manusia yang mampu berpikir kritis, kreatif, logis dan berinisiatif dalam menanggapi isu di masyarakat yang diakibatkan oleh dampak perkembangan sains dan teknologi.
Untuk mengembangkan keterampilan berpikir kreatif dan keterampilan proses sains yang lebih optimal, diperlukan suatu model pembelajaran yang berbasis pada penyelidikan ilmiah, dan siswa diberikan kebebasan dalam melaksanakan penyelidikan ilmiah tersebut. Salah satu model pembelajaran yang mampu mewujudkan hal tersebut adalah model pembelajaran inkuiri laboratorium.
Pembelajaran inkuiri merupakan metode pembelajaran yang menanamkan dasar-dasar berpikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Inkuiri laboratorium juga dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk meningkatkan pemecahan masalah mereka dan keterampilan penyelidikan untuk memperoleh pengetahuan ilmiah. Jadi siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk membahas mengenai Model Pembelajaran Inkuiri Laboratorium
1.2 Tujuan
· Mengetahui pengertian model pembelajaran inkuiri laboratorium
· Mengetahui karakteristik model pembelajaran inkuiri laboratorium
· Mengetahui bagaimana penerapan model pembelajaran inkuiri laboratorium
· Mengetahui bagaimana langkah langkah inkuiri laboratorium
· Mengetahui tingkat kesulitan model pembelajaran inkuiri laboratorium
· Mengetahui tujuan model pembelajaran inkuiri laboratorium
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Model Pembelajaran Inkuiri Laboratorium
Secara teoritis temuan ini didukung oleh Khan, pembelajaran inkuiri laboratorium berlandaskan pada hakikat sains, dimana proses pembelajaran menitik beratkan pada dua aspek, yaitu sains sebagai proses dan sains sebagai produk. Model pembelajaran inkuiri laboratorium mendefinisikan belajar adalah suatu proses aktif siswa dalam diskusi, mempertanyakan, dan penyelidikan ilmiah, sehingga pembelajaran berpusat pada pada siswa bukannya berpusat pada guru (Wenning, 2010 & Khan, et al, 2011).
Menurut Lawson (dalam Wiyanto, 2006) kegiatan dalam pembelajaran inquiry lab akan memungkinkan siswa untuk :
(1) Mengeksplorasi gejala dan merumuskan masalah,
(2) Merumuskan hipotesis,
(3) Mendesain dan melaksanakan cara pengujian hipotesis,
(4) Mengorganisasikan dan menganalisis data,
(5) Menarik kesimpulan dan mengkomunikasikannya.
Kegiatan laboratorium dalam model inkuiri laboratorium diselenggarakan terintegrasi dengan pembelajaran di kelas, sehingga fakta-fakta yang teramati di laboratorium dapat secara langsung digunakan dalam membangun dan mengembangkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip. Konsep-konsep dan hukum-hukum yang telah dibangun akan menjadi lebih mudah dan lama diingat oleh siswa.
2.2 Karakteristik Model Pembelajaran Inkuiri Laboratorium
Model pembelajaran inquiri laboratorium adalah konteks pembelajaran berbasis pada situasi nyata, berfokus pada keterampilan berpikir, dan diterapkan pada kelompok-kelompok kecil. Inkuiri mengembangkan kemampuan untuk berpikir dan bertindak dengan cara yang terkait dengan penyelidikan.
Karakteristik model pembelajaran inkuiri laboratorium adalah :
(a) Siswa diberikan suatu masalah yang bersifat ill-structured pada awal kegiatan,
(b) Siswa tidak mengetahui jawaban masalah yang diberikan,
(c) Mengikuti prosedur yang mereka pikirkan terbaik,
(d) Observasi dan perekaman data dilakukan berdasarkan cara terbaik menurut pikiran siswa sendiri,
(e) Interpretasi, penjelasan, dan generalisasi dilakukan berdasarkan cara yang siswa lakukan sendiri,
(f) Siswa mendiskusikan pekerjaan mereka dengan yang lain,
(g) Disediakan beberapa prosedur isyarat
2.3 Implementasi Model Pembelajaran Inkuiri Laboratorium
Kegiatan laboratorium merupakan komponen yang penting dalam pembelajaran IPA. Menurut Lazarowitz & Tamir dalam Wiyanto, kurikulum berbasis inquiry mengalokasikan waktunya sekitar 50% untuk kegiatan laboratorium. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa kegiatan laboratorium yang dikembangkan masih bersifat verifikasi, yaitu membuktikan konsep atau prinsip yang telah dibahas sebelumnya dengan kegiatan lab yang masih bersifat teacher centered. Kegiatan praktikum yang seperti ini tidak mampu mengembangkan keterampilan kemampuan berpikir siswa dalam tahap yang lebih tinggi.
Kegiatan laboratorium pada hakikatnya ditujukan untuk membantu siswa mengembangkan pemahaman, kemampuan kognitif, berpikir kreatif dan sikap ilmiah melalui keterlibatannya dalam hand-on activity. Kegiatan laboratorium adalah salah satu metode pengajaran yang paling penting untuk memberikan pembelajaran yang efektif dan bermakna dalam pendidikan sains.
Pembelajaran berbasis inkuiri laboratorium menekankan pada aktivitas dalam membantu siswa belajar dan memahami proses dan keterampilan berpikir layaknya ilmuan dan memahami karakteristik penelitian ilmiah.
Model pembelajaran inkuiri membiarkan siswa secara mental dan fisik melalui langkah metode ilmiah, sehingga terbentuknya sikap ilmiah pada siswa. Model ini memungkinkan siswa menggunakan dan mengembangkan kemampuan berpikir kreatifnya saat mereka merumuskan permasalahan yang diberikan, merancang percobaan, mendiskusikan dan menganalisis bukti-bukti, mengevaluasi ide dan dugaan, merefleksi validitas data dan proses pengumpulan data, mempertimbangkan kesimpulan teman lain, untuk menentukan bagaimana cara terbaik mengemukakan penemuan dan penjelasan mereka, dan menghubungkannya dengan pendapat orang lain atau menyusun teori bagi model konseptual mereka.
Menurut guohui (khan & iqbal, 2011) pembelajaran inkuiri laboratorium mengembangkan pemikiran tingkat tinggi dan keterampilan proses siswa dengan menempatkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran yang dihadapkan dengan situasi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari (illstructured). Selain itu, tamir (dalam koray & köksal, 2009) menyatakan model inkuiri laboratorium juga dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk meningkatkan pemecahan masalah mereka dan keterampilan penyelidikan, untuk melakukan generalisasi yang tepat tentang point penting dalam ilmu pengetahuan, untuk memperoleh pengetahuan ilmiah dan untuk memegang sikap positif terhadap ilmu pengetahuan.
Model pembelajaran inkuiri laboratorium menuntut siswa secara mandiri melakukan proses pembelajaran, mulai dari kegiatan pemecahan masalah yang bersifat ill-structured, merancang percobaan secara mandiri sesuai dengan pemecahan masalah yang diperoleh, mengambil data, mengolah data dan menyimpulkan hasil percobaan semua kegiatan tersebut harus dilakukan oleh siswa secara mandiri, dalam proses pembelajaran guru hanya memfasilitasi siswa apabila dalam pelaksanaan mengalami kesulitan. Sehingga kemandirian belajar sangat diperlukan dalam pembelajaran ini. Hal tersebut akan memberikan dampak bahwa siswa yang memiliki kemandirian belajar yang tinggi akan mampu melaksanakan proses pembelajaran dengan baik dibandingkan dengan siswa yang kemandirian belajarnya rendah.
2.4 Langkah Langkah Inkuiri Laboratorium
Menurut Wenning (2010) langkah-langkah yang dapat diterapkan dalam pembelajaran dengan menggunakan model inkuiri laboratorium adalah sebagai berikut.
a. Fase berhadapan dengan masalah
a. Fase berhadapan dengan masalah
Pada tahap ini siswa dihadapkan pada suatu permasalahan, diantaranya dengan menyajikan situasi yang saling bertentangan. Guru menjelaskan secara garis besar prosedur penelitian yang akan dilakukan. Dalam hal ini guru membimbing siswa dengan cara mengajukan pertanyaan pembimbing. Siswa juga harus menggunakan beberapa keterampilan proses mereka dalam menjawab pertanyaan guru, untuk mengidentifikasi masalah.
b. Fase pengumpulan data pengujian (aktivitas pre-lab inquiry)
Pada fase ini siswa berusaha untuk mengumpulkan data informasi sebanyak-banyaknya, tentang masalah yang mereka hadapi. Data tersebut dapat diperoleh berdasarkan kondisi atau hakikat objek dengan menguji bagaimana proses terjadinya masalah tersebut. Kemudian siswa merumuskan hipotesis (menciptakan hubungan-hubungan dengan sesuatu yang telah diketahui).
c. Fase pengumpulan data dalam eksperimen
Pada fase ini dilakukan osilasi terhadap data-data yang menjadi inti masalah yang dihadapi melalui kegiatan investigasi di laboratorium. Siswa dapat mengintrogasikan elemen-elemen dari hasil isolasi ke dalam suatu masalah, untuk melihat apakah peristiwanya akan menjadi lain.
d. Fase formulasi dan penjelasan
Pada fase ini siswa mengorganisasi dan menganalisis data, menghubungkan dengan hipotesis, memprediksi, menseleksi temuan yang sesuai dengan apa yang telah diketahui, kemudian menginterpretasikannya (menarik kesimpulan). Sedangkan guru merumuskan penjelasan untuk membimbing siswa yang menemui kesulitan dalam mengemukakan informasi yang mereka peroleh untuk memberikan uraian yang jelas, guru dapat memberikan penjelasan yang sederhana saja.
e. Fase analisis proses inquiry
Pada fase ini siswa diminta untuk menganalisis proses penelitian untuk memperoleh prosedur yang lebih efektif, atau menentukan temuan yang dapat digunakan memprediksi fenomena lain dengan mendesain prosedur baru.
2.5 Tingkat Kesulitan Model Pembelajaran Inkuiri Laboratorium
Tingkat kesulitan kegiatan Inkuiri Laboratorium juga bervariasi, tergantung kepada tingkat keterbukaan dan tingkat kognitif yang diinginkan. Adapun pembagian tipe-tipe Inkuiri Laboratorium menurut Wennings (2004)
Tipe-tipe Inquiry Laboratory
2.6 Tujuan Model Pembelajaran Inkuiri Laboratorium
· Meningkatkan kemandirian siswa
· Meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa
· Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa
· Meningkatkan keterampilan proses sains siswa
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran inkuiri labortorium adalah pembelajaran yang berbasis pada penyelidikan ilmiah dan berpusat pada siswa. Pada awal pembelajaran diberikan suatu permasalahan yang terkait dengan konsep yang akan dipelajari. Dari permasalahan tersebut dijadikan sebagai dasar bagi siswa untuk merumuskan hipotesis, merancang percobaan, melakukan investigasi, menganalisis data, sampai menyimpulkan hasil percobaan. Pada pembelajaran ini siswa diberikan kebebasan secara penuh untuk melaksanakan penyelidikan ilmiah. Dengan kebebasan tersebut siswa dapat merancang percobaan untuk memecahkan suatu permasalahan dengan ide-ide kreatif yang dimiliki oleh siswa. sehingga dengan demikian pembelajaran inkuiri laboratorium mampu mengembangkan keterampilan berpikir kreatif dan keterampilan proses sains siswa.
3.2 Saran
Diharapkan kepada setiap sekolah agar dapat melaksanakan model pembelajaran inkuri laboratorium khususnya dalam pembelajaran sains karena memiliki dampak yang baik baik bagi kemadirian siswa serta mencipkan siswa yang mampu berpikir kreatif, berpikir kritis dan memiliki keterampilan proses sains yang bagus.