Genetika
1.
Pengertian
Gen adalah
bagian dari kromosom yang terletak berderet-deret secara teratur pada kromosom
menurut Thomas Hunt Morgan Pada 1910,
membuktikan bahwa kromosom merupakan pembawa gen. Kromosom
(bahasa Yunani: chroma, warna; dan soma, badan) merupakan struktur di dalam sel berupa deret panjang molekul yang terdiri dari satu molekul DNA dan berbagai
protein terkait yang merupakan informasi genetik suatu organisme, seperti molekul kelima jenis histon dan faktor transkripsi yang
terdapat pada beberapa deret, dan termasuk gen unsur
regulator dan sekuens
nukleotida. Kromosom yang berada di dalam nukleus sel eukariota, secara khusus disebut kromatin.
Dalam
kromosom eukariota, DNA yang
tidak terkondensasi berada dalam struktur order-quasi dalam nukleus, dimana ia membungkus histon, dan di
mana material komposit ini disebut kromatin. Selama mitosis (pembelahan sel), kromosom
terkondensasi dan disebut kromosom metafase. Hal ini
menyebabkan masing-masing kromosom dapat diamati melalui mikroskop optik.Setiap kromosom memiliki dua
lengan, yang pendek disebut lengan p (dari bahasa Perancis petit yang berarti kecil)
dan lengan yang panjang lengan q (q mengikuti p dalam alfabet).
Prokariota tidak memiliki histon atau nukleus.
Dalam keadaan santainya, DNA dapat diakses untuk transkripsi, regulasi, dan replikasi. Kromosom pertama kali diamati oleh
Karl
Wilhelm von Nägeli pada 1842 dan
ciri-cirinya dijelaskan dengan detail oleh Walther
Flemming pada 1882. Sedangkan Prinsip-prinsip klasik genetika merupakan pemikiran deduksi dari Gregor Mendel pada tahun 1865, yang
banyak diabaikan orang hingga tahun 1902, Walter
Sutton dan Theodor
Boveri menemukan kesamaan antara perilaku kromosom saat meiosis dengan hukum
Mendel dan menarik kesimpulan bahwa kromosom merupakan pembawa gen. Hasil
penelitian keduanya dikenal sebagai teori
Sutton-Boveri atau hipotesis Sutton-Boveri atau teori hereditas kromosom, yang menjadi kontroversi
dan perdebatan para pakar kala itu.
2.
Sistem
Penentuan Kelamin XY
Sistem
penentuan kelamin XY adalah sistem penentuan kelamin yang dapat
ditemui pada mamalia (termasuk manusia), dan beberapa serangga (Drosophila) serta
beberapa tumbuhan (Ginkgo). Pada
sistem penentuan seks XY, betina memiliki dua dari kromosom seks yang sama
jenisnya (XX), dan disebut kelamin homogenik sedangkan
jantan memiliki dua kromosom seks berbeda (XY), dan disebut kelamin heterogenik.
Sistem XY
pada mamalia bertumpu pada satu gen dominan yang
dimiliki oleh kromosom Y, yaitu SRY,
yang berperan dalam pembentukan testis. Gen
rangkai kelamin dapat dikelompok berdasarkan atas macam kromosom kelamin
tempatnya berada. Oleh karena kromosom kelamin pada umumnya dapat dibedakan
menjadi kromosom X dan Y, maka gen rangkai kelamin dapat menjadi gen rangkai X
(X-linked genes) dan gen rangkai Y (Y-linked genes). Di samping itu, ada pula
beberapa gen yang terletak pada kromosom X tetapi memiliki pasangan pada
kromosom Y. Gen semacam ini dinamakan gen rangkai kelamin tak sempurna
(incompletely sex-linked genes). Macam-macam cara pewarisan gen rangkai kelamin
dan beberapa sistem penentuan jenis kelamin pada berbagai spesies organisme.
3. Pewarisan dengan rangkaian
a. Pewarisan
Rangkai X
Percobaan
yang pertama kali mengungkapkan adanya peristiwa rangkai kelamin dilakukan oleh
T.H Morgan pada tahun 1910. Dia menyilangkan lalat D. melanogaster jantan
bermata putih dengan betina bermata merah. Lalat bermata merah lazim dianggap
sebagai lalat normal atau tipe alami (wild type), sedang gen pengatur tipe
alami, misalnya pengatur warna mata merah ini, dapat dilambangkan dengan tanda
+. Biasanya, meskipun tidak selalu, gen tipe alami bersifat dominan terhadap
alel mutannya.
Hasil persilangan Morgan tersebut, khususnya pada generasi F1, ternyata berbeda
jika tetua jantan yang digunakan adalah tipe alami (bermata merah) dan tetua
betinanya bermata putih. Dengan perkataan lain, perkawinan resiprok
menghasilkan keturunan yang berbeda. Persilangan resiprok dengan hasil yang
berbeda ini memberikan petunjuk bahwa pewarisan warna mata pada Drosophila ada
hubungannya dengan jenis kelamin, dan ternyata kemudian memang diketahui bahwa
gen yang mengatur warna mata pada Drosophila terletak pada kromosom kelamin,
dalam hal ini kromosom X. Oleh karena itu, gen pengatur warna mata ini
dikatakan sebagai gen rangkai X. Pada Drosophila, dan juga beberapa spesies
organisme lainnya, individu betina membawa dua buah kromosom X, yang dengan
sendirinya homolog, sehingga gamet-gamet yang dihasilkannya akan mempunyai
susunan gen yang sama. Oleh karena itu, individu betina ini dikatakan bersifat
homogametik. Sebaliknya, individu jantan yang hanya membawa sebuah kromosom X
akan menghasilkan dua macam gamet yang berbeda, yaitu gamet yang membawa
kromosom X dan gamet yang membawa kromosom Y. Individu jantan ini dikatakan
bersifat heterogametik.
b.
Rangkai X
pada manusia
Salah satu contoh gen rangkai X pada
manusia adalah gen resesif yang menyebabkan penyakit hemofilia, yaitu gangguan
dalam proses pembekuan darah. Sebenarnya, kasus hemofilia telah dijumpai sejak
lama di negara-negara Arab ketika beberapa anak laki-laki meninggal akibat
perdarahan hebat setelah dikhitan. Namun, waktu itu kematian akibat perdarahan
ini hanya dianggap sebagai takdir semata.
Hemofilia baru menjadi terkenal dan
dipelajari pola pewarisannya setelah beberapa anggota keluarga Kerajaan Inggris
mengalaminya. Awalnya, salah seorang di antara putra Ratu Victoria menderita
hemofilia sementara dua di antara putrinya karier atau heterozigot. Dari kedua
putri yang heterozigot ini lahir tiga cucu laki-laki yang menderita hemofilia
dan empat cucu wanita yang heterozigot. Melalui dua dari keempat cucu yang
heterozigot inilah penyakit hemofilia tersebar di kalangan keluarga Kerajaan
Rusia dan Spanyol. Sementara itu, anggota keluarga Kerajaan Inggris saat ini
yang merupakan keturunan putra/putri normal Ratu Victoria bebas dari penyakit
hemofilia.
4. Teknik
“Banding” ( teknik pembentukan jalur )
Dalam tahun 1970 Casperon dkk. Di
Stockholm berhasil menciptakan teknnik baru yang amat berguna dalam pemeriksaa
kromosom. Dikenal 3 macam teknik pemberian warna yang berbeda-beda, ialah:
1. Metode Q
Digunakan zat warna tertentu,
yaitu quinacrine mustard, kemidian kromosom diperiksa dengan mikroskop
ultraviolet. Beberapa daerah dari kromosom akan tampak terang, sedangkan daerah
lainnya tampak gelap. Jadi krpmosom kelihatan seperti tersusun dari jalur-jalur
("band") melintang; jalur terang berseling dengan jalur gelap.
Jalur-jalur tersebut dinamakan jalur Q. Jalur terang merupakan daerah
heterokromatis, sedang jalur gelap adalah daerah eukromatis. Oleh karena tiap
kromosom memiliki distribusi jalur yang berbeda-beda, maka klasifikasi kromosom
menjadi lebih mudah dilakukan. Selain itu maka kromosom abnormal akan lebih
mudah dikenal.
2. Metode G
Digunakan zat
warna Giemsa pada Ph 9 dan tidak menggunakan sinar ultraviolet.
Jalur-jalur yang tampak melintang pada kromosom dinamakan jalur G.
3. Metode R
Asal dari kata
"reverse", dilakukan denaturasi sel-sel sebelum pemberian warna.
Hasil yang didapatkan merupakan kebalikan daripada kedua metode tersebut
dimuka. Daerah yang tersusun atas eukromatin tampak terang, sedangkan daerah
heterokromatin tampak gelap. Jalur- jalur yang diperoleh pada metode ini
disebut Jalur R. Dari metode-metode tersebut diatas yang paling banyak
digunakan ialah metode Q dan G.
Dengan ditemukannya teknik "banding" ini
maka Konperensi Genetika Internasional di Paris dalam tahun 1971 telah
memperkenalkan karyotipe manusia dalam bentuk baru.
5.
Gen-Gen yang
Ekspresinya diubah Seks
Pada bahasan
gen yang ekspresinya diubah oleh seks (sex influeced gene), akan dibicarakan
gen-gen yang dalam memberikan eksprasinya pada fenotip dapat diubah oleh seks.
Gen-gen ini dapat terletak pada autosom maupun pada kromosom kelamin.
Jika gen
tersebut terdapat pada autosom, maka laki-laki dan perempuan dapat diharapkan
akan dapat menerima gen tersebut dengan frekuensi yang sama, sehingga
masing-masing seks mempunyai peluang yang sama besar untuk menunjukkan
diwarisakannya gen tertentu.
Tetapi
apabila gen itu terdapat pada kromosom X, maka kromosom tersebut akan
diwariskan dengan menurut pola bersilang. Artinya gen yang terletak pada kromosom
X itu tidak mungkin diwariskan oleh seorang ayah langsung kepada anak
laki-lakinya. Ekspresi dari beberapa gen yang diketahui terletak di autosom
dapat dibatasi atau dipengaruhi oleh seks dari seorang yang memilikinya.
1.
Ekspresi gen
yang dibatasi oleh seks
Gen ini
disebut Sex Limited Gene, merupakan gen yang hanya tampak pada jenis kelamin
tertentu saja.Beberapa sifat yang dibatasi oleh seks dikenal, misalnya:
a.
Pembentukan
payudara dan ovum serta kemampuan untuk sel telur pada perempuan
b.
Pembentukan
kumis, prostat dan testes serta kemampuan untuk membentuk spermatozoa pada
laki-laki
c.
Gen pengatur
sifat kelamin sekunder. Hal ini hanya tampak pada jenis kelamin tertentu. Sifat
kelamin sekunder pada pria, antara lain adanya kumis, jakun, suara besar.
Sedangkan sifat kelamin sekunder pada wanita antara lain kulit halus, pinggul
besar, dan suara tinggi.
Pada hewan dan tumbuh-tumbuhan pun
dikenal beberapa peristiwa yang menunjukan bahwa ekspresi gen dibatasi oleh
seks. Contohnya saja warna pada sayap kupu-kupu Semanggi. Kupu-kupu jantan
selalu berwarna kuning, tetapi yang betina dapat berwarna kuning dan putih.
Warna putih dominan, tetapi hanya
memperlihatkan diri pada kupu-kupu betina. Jika P merupakan gen untuk warna putih
(pada kupu-kupu betina saja), sedangkan p untuk warna kuning, maka ekspresi gen
yang dibatasi oleh seks itu sebagai berikut:
|
Genotip
|
Kupu-kupu jantan
|
Kupu-kupu betina
|
|
PP
|
Kuning
|
Putih
|
|
Pp
|
Kuning
|
Putih
|
|
Pp
|
Kuning
|
Kuning
|
2.
Ekspresi gen
yang dipengaruhi oleh seks (sex influenced gene)
Banyak
contoh sifat keturunan yang ditentukan oleh gen autosom ekspresinya dipengaruhi
oleh seks. Sifat iru tampak pada kedua macam seks, tetapi pada salah saru seks
ekspresinya lebih besar dari pada untuk seks lainnya. Perempuan misalnya,
perempuan lebih sering menderita penyakit autoimun, tetapi sebaliknya laki-laki
lebih sering berkepala botak dibandingkan dengan perempuan. Contoh ekspresi gen
yang dipengaruhi oleh seks antara lain:
·
Kepala botak
(Bald)
Kepala botak
ini bukan akibat penyakit atau kekurangan gizi dalam makanan, tetapi
benar-benar keturunan. Walaupun lazimnya kepala botak terdapat pada laki-laki,
namun, sekali-kali dapat dilihat adanya perempuan dengan kepala botak.
Biasanya, kepala botak baru dapat terlihat setelah orang berusia 30 tahun.
Diwaktu kanak-kanak atau remajanya masih berambut normal. Pada awalnya, kepala
botak dikira disebabkan oleh gen terangkai oleh kelamin seperti pada kasus buta
warna.
Akan tetapi, pada kenyataanya menunjukkan bahwa seorang ayah yang mempunyai
kepala botak dapat mewariskannya secara langsung pada anak laki-lakinya, suatu
hal yang tidah mungkin terjadi apabila gen yang menyebabkan terdapat dalam
kromosom X. Andaikata gen itu terdapat dalam kromosom Y, maka dugaan itupun
tidak dapat dibenarkan, mengingat bahwa ada perempuan yang berkepala botak.
Jika gen B menentukan kepala botak dan alelnya resesif b menentukan kepala
berambut normal, maka pengaruh jenis kelamin itu demikian rupa, sehingga gen B
itu dominan pada laki-laki, tetapi resesif pada perempuan (bila heterozigotik).
Ekspresi gennya sebagai berikut:
|
Genotip
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
|
BB
|
Botak
|
Botak
|
|
Bb
|
Botak
|
Tidak
botak
|
|
Bb
|
Tidak
botak
|
Tidak
botak
|
Jadi, jika
seorang laki-laki berkepala botak kawin dengan seorang perempuan berkepala
tidak botak (keduanya homozigot) maka semua anak laki-laki akan botak sedangkan
semua anak perempuannya ridak botak.
·
Panjang jari
telunjuk
Apabila meletakkan tangan kita pada suatu alas dimana terdapat sebuah garis
mendatar, sehingga sedemikian rupa sehingga ujung jari manis menyentuh garis
tersebut, maka dapat diketahui apakah jari telunjuk kita lebih pendek ataukah
lebih panjang daripada jari manis. Pada kebanyakan orang ujung jari telunjuk
tidak akan mencapai garis itu, berarti bahwa jari telunjuk orang itu lebih
pendek dari jari manis.Jari telunjuk pendek disebabkan oleh gen yang dominan
pada orang lak-laki, tetapi resesif pada perempuan. Ekspresinya adalah sebagai
berikut:
|
Genotip
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
|
TT
|
Telunjuk
pendek
|
Telunjuk
pendek
|
|
Tt
|
Telunjuk
pendek
|
Telunjuk
panjang
|
|
Tt
|
Telunjuk
panjang
|
Telunjuk
panjang
|
Pewarisan
sifat ini sama persis dengan pewarisan sifat pada kepala berambut botak yang
telah diuraikan sebelumnya.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Gen adalah bagian dari kromosom yang
terletak berderet-deret secara teratur pada kromosom menurut Thomas Hunt Morgan Pada 1910,
membuktikan bahwa kromosom merupakan pembawa gen. Kromosom
adalah benda-benda halus berbentuk lurus seperti batang atau bengkok dan
terdiri dari zat yang mudah mengikat zat warna.
Sistem XY pada mamalia bertumpu pada
satu gen dominan yang
dimiliki oleh kromosom Y, yaitu SRY,
yang berperan dalam pembentukan testis. Gen
rangkai kelamin dapat dikelompok berdasarkan atas macam kromosom kelamin
tempatnya berada. Oleh karena kromosom kelamin pada umumnya dapat dibedakan
menjadi kromosom X dan Y, maka gen rangkai kelamin dapat menjadi gen rangkai X
(X-linked genes) dan gen rangkai Y (Y-linked genes).
Ekspresi dari beberapa gen yang
diketahui terletak di autosom dapat dibatasi atau dipengaruhi oleh seks dari
seorang yang memilikinya. Ekspresi gen yang dibatasi oleh seks disebut juga Sex
Limited Gene, merupakan gen yang hanya tampak pada jenis kelamin tertentu
saja.
Mutasi adalah perubahan materi genetik (gen atau kromosom) suatu sel yang diwariskan kepada keturunannya. Mutasi dapat disebabkan oleh kesalahan replikasi materi genetika selama pembelahan sel oleh radiasi, bahan kimia (mutagen), atau virus, atau dapat terjadi selama proses meiosis.
Terdapat dua jenis mutasi, yaitu
1. Mutasi gen (Point mutation)
Mutasi gen ialah perubahan kimiawi pada satu atau beberapa pasangan basa dalam satu gen tunggal yang menyebabkan perubahan sifat individu tanpa perubahan jumlah dan susunan kromosomnya. Mutasi gen dapat terjadi melalui berbagai cara, diantaranya :
Penggantian/substitusi pasangan basa; terjadi karena penggantian satu nukleotida dengan pasangannya di dalam untaian DNA komplementer dengan pasangan nukleotida lain. Contoh; anemia bulan sabit.
Gambar 1. Mutasi yang terjadi karena adanya penggantian basa Timin oleh adenine sehingga terjadi penggantian satu tempat yaitu asam amino glutamat digantikan oleh valin. Mutasi ini menyebabkan hemoglobin bulan sabit (Sumber: Campbell I).
Insersi dan
delesi; Insersi merupakan penyisipan atau penambahan satu atau lebih nukleotida
ke dalam rantai polinukleotida. Delesi adalah pengurangan satu atau lebih
pasangan nukleotida pada suatu gen saat replikasi DNA.
2. Mutasi Kromosom
Mutasi kromosom adalah perubahan yang terjadi pada kromosom yang disertai dengan perubahan struktur dan jumlah kromosom. Mutasi kromosom dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu :
a). Perubahan struktur kromosom (aberasi kromosom).
Mutasi ini menyebabkan kerusakan (aberasi) pada bentuk kromosom, diantaranya:
1. Translokasi adalah pemindahan sebagian dari segmen kromosom ke kromosom lainnya yang bukan kromosom homolognya
2. Duplikasi terjadi karena adanya segmen kromosom yang mengakibatkan jumlah segmen kromosom lebih banyak dari kromosom aslinya. Berikut ini contoh duplikasi.
3. Delesi adalah mutasi yang terjadi karena sebagian segmen kromosom lenyap sehingga kromosom kekurangan segmen.
4. Inversi adalah mutasi yang terjadi karena selama meiosis kromosom terpilin dan terjadinya kiasma, sehingga terjadi perubahan letak/kedudukan gen-gen.
|
|
|
|
||||||
|
|
|
|
Advertisement
b). Perubahan Jumlah Kromosom
Mutasi yang terjadi ditandai dengan perubahan jumlah kromosom individual atau dalam jumlah perangkat kromosom. Euploid terjadi karena adanya penambahan atau pengurangan perangkat kromosom (genom). Contoh: haploid, diploid, triploid, tetraploid, poliploid dll. Aneuploid terjadi karena adanya perubahan salah satu kromosom dari genom individu Contoh; monosomik, Nullisomik Trisomik dan Tetrasomik
Mutasi Alami dan Mutasi Buatan
- Mutasi alam atau mutasi spontan biasanya terjadi karena kesalahan pemasangan basa pada waktu proses replikasi, perbaikan, atau rekombinasi DNA sehingga mengarah pada terjadinya substitusi, insersi atau delesi pasangan basa. Selain itu mutasi secara alami dapat terjadi karena radiasi radioaktif alam, sinar kosmis dan sinar ultraviolet.
- Mutasi buatan, yaitu mutasi yang ditimbulkan akibat campur tangan manusia (telah direncancanakan). Dengan memperlakukan sel menggunakan zat-zat kimia, sinar-X, sinar gamma, sinar alfa, dan beberapa jenis radiasi hasil sampingan tenaga nuklir
Implikasi Mutasi Alami dan
Buatan
1. Sindrom Down,
Sindrom Down terjadi karena ketidaknormalan pada kromosom autosom, sindrom ini terjadi karena adanya tiga kromosom pada kromosom no.21 (trisomi).
Ciri-ciri sindrom ini
- Kariotipe 47 XX atau 47XY.
- IQ rendah (± 40)
- Mata sipit, gigi keci-kecil dan jarang, liur selalu menetes, daya tahan terhadap penyakit menurun
- Mongolism, bertelapak tebal seperti telapak kera.
2. Sindrom Klinefelter,
Sindrom Klinefelter terjadi karena ketidaknormalan pada kromosom seks dan biasanya diderita oleh laki-laki.
Ciri-cirinya :
- mempunyai kelebihan kromosom seks-X, sehingga kariotipenya 47 XXY.
- Lelaki dengan testis kecil, gagal menghasilkan sperma.
- Rambut dada tidak tumbuh.
- Suara dan dada seperti wanita, memiliki tangan dan kaki yang panjang.
3. Sindrom Turner,
Sindrom Turner terjadi karena ketidaknormalan pada kromosom seks yaitu adanya pengurangan satu kromosom seks dan biasanya diderita oleh wanita.
Ciri-cirinya :
- Hanya mempunyai satu kromosom seks, dengan kariotipenya 45X0.
- Perempuan mandul, bentuk kaki X, dada dan ovarium tidak berkembang.
- Tidak mengalami haid.
- Ukuran tubuh kecil, IQ rendah.
Selain merugikan beberapa mutasi dapat berguna bagi manusia, diantaranya :
- Mutasi pada mikroorganisme dapat meningkatkan hasil antibiotika, misalnya mutan Penicillium penghasil antibiotik penisilin.
- Meningkatkan hasil panen produksi pangan dengan membuat hasil panen poliploid dengan mutasi induksi.
- Mutasi melalui radiasi menggunakan radioisotop dapat digunakan untuk memeriksa proses biologi, misalnya transfer elektron pada fotosintesis
Gen-gen yang dipengaruhi seks disebut dengan Sex Influenced Gene, merupakan gen dominan
yang biasanya memperlihatkan pengaruh sama pada semua jenis, tetapi ada gen-gen
tertentu yang dipengaruhi oleh jenis kelamin.
Misalnya:
1. PADA
MANUSIA
1.1.Gen
Kepala Botak
Ada sifat-sifat tertentu yang terdapat pada laki-laki
dan tidak terdapat pada perempuan , misalnya kebotakan. Kebotakan dapat
disebabkan faktor eksternal seperti makanan dan gangguan penyakit pada kulit
kepala. Namun dapat juga disebabkan oleh faktor genetik. Gen pembawa sifat
botak adalah salah satu contoh gen yang dipengaruhi oleh jenis kelamin. Gen adalah faktor penentu yang menentukan sifat-sifat fisik
makhluk hidup. Gen diturunkan oleh orang tua kepada anaknya.
Kebotakan sepintas menyerupai gen terpaut kromosom Y
dalam pola pemindahannya. Akan tetapi, sebenarnya kebotakkan ditentukan oleh
hormon-hormon seks yang ekspresinya dipengaruhi oleh gen-gen autosomal. Hal ini
dikarenakan gen yang menyebabbkan kebotakkan merupakan gen autosomal dominan
pada laki-laki dan gen gen autosomal resesif pada perempuan. Namun ekspresi
gen-gen ini bergantung dari jenis kelamin. Oleh karenanya ekspresinya disebut
sifat yang dipengaruhi seks.
Kepala botak akan nampak ketika sudah berumur sekitar
30 tahun. Pada kasus kepala botak, gen yang membawa sifat kepala botak
ekspresinya dipengaruhi oleh jenis kelamin. Artinya orang yang membawa gen kepala
botak tidak dengan sendirinya menjadi botak tergantung jenis kelaminnya. Kepala
botak pada perempuan hanya terjadi bila si perempuan memiliki sepasang gen
kepala botak yang didapat dari ayah dan ibunya. Sedangkan pada laki-laki akan
botak cukup dengan satu gen saja.
Seorang laki-laki yang memilikipasangan gen BB dan Bb
akan berkepala botak. Namun seorang perempuan baru akan botak bila memiliki
pasangan gen BB. Jadi gen kepala botak (B) bersifat dominan pada laki-laki,
sedangkan pada perempuan bersifat resesif (kalah dominan daripada gen b).
Berikut ini tabel genotip dan fenotip kepala botak pada laki-laki dan
perempuan.
|
Genotip
|
Fenotip
|
|
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
|
|
BB
|
Botak
|
Botak
|
|
Bb
|
Botak
|
Tidak botak
|
|
bb
|
Tidak botak (normal)
|
Tidak botak (normal)
|
Jika seorang laki-laki botak dengan genotip Bb bila
kawin dengan perempuan normal dengan genotip bb akan memiliki anak dengan
peluang genotip Bb (50%) dan bb (50%), sehingga peluang anak laki-laki untuk
botak adalah 50% dan anak perempuan botak 0 %. Peluang untuk kebotakan karena
faktor genetik lebih besar pada laki-laki dibanding pada perempuan.
1.2.Gen Jari
Telunjuk
Panjang jari telunjuk dibandingkan dengan jari manis
merupakan gen yang dipengaruhi oleh jenis kelamin. Cara penurunan gen ini sama
dengan cara penurunan gen kepala botak. Jika kita meletakkan tangan diatas
kertas yang telah diberi garis, sehingga ujung jari manis kita menyentuh garis
tersebut, maka akan diketahui apakah jari telunjuk kita lebih pendek atau lebih
panjang dari jari manis.
Biasanya gen dominan tersebut memperlihatkan
pengaruhnya pada individu laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi, dalam keadaan
homozigotik resesif, pengaruh dominan itu tidak akan menampakkan diri dalam
fenotip. Jari telunjuk pendek disebabkan oleh gen yang dominan pada orang
laki-laki (genotip TT atau Tt),dan telunjuk panjang itu gen resesifnya
(genotipnya tt), tetapi pada perempuan
telunjuk pendek itu genotipnya hanya TT sedangkan telunjuk panjang genotipnya
Tt atau tt
Beikut ini tabel tabel genotip dan fenotip jari
telunjuk pendek pada laki-laki dan perempuan.
|
Genotip
|
Fenotip
|
|
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
|
|
TT
|
Telunjuk pendek
|
Telunjuk pendek
|
|
Tt
|
Telunjuk pendek
|
Telunjuk panjang
|
|
tt
|
Telunjuk panjang
|
Telunjuk panjang
|
Perbandingan panjang antara jari
telunjuk dan jari manis berhubungan dengan kondisi hormonal saat berada dalam
kandungan dan tentunya akan mempengaruhi kepribadian seseorang saat tumbuh
dewasa. Penelitian di Concordia University menemukan bahwa panjang jari-jari
tangan ditentukan sejak janin di dalam kandungan dan dipengaruhi oleh paparan
hormon estrogen dan testosteron. Hormon seks pria, testosteron, memengaruhi
panjang jari manis dan hormon estrogen memengaruhi panjang jari telunjuk.
2.
PADA HEWAN
2.1.Gen Pembetukan Tanduk Pada Domba
Gen
autosomal H yang mengatur pembentukan tanduk pada domba akan bersifat dominan
pada individu jantan tetapi resesif pada individu betina. Sebaliknya, alelnya
h, bersifat dominan pada domba betina tetapi resesif pada domba jantan. Oleh
karena itu, untuk dapat bertanduk domba betina harus mempunyai dua gen H
(homozigot) sementara domba jantan cukup dengan satu gen H (heterozigot).
Tabel ekspresi gen terpengaruh kelamin pada domba
|
Genotip
|
Fenotip Domba Jantan
|
Fenotip Domba Betina
|
|
HH
|
Bertanduk
|
Bertanduk
|
|
Hh
|
Bertanduk
|
Tidak bertanduk
|
|
hh
|
Tidak bertanduk
|
Tidak bertanduk
|






